Manfaat Haji

Haji menurut bahasa berarti tujuan. Mwnurut syariat berarti tujuan ke Baitul-Haram dengan amal-amal khusus dan waktu yang khusus pula.

Kewajiban haji tekah disebutkan di dalam kitab, sunnah dan ijma’ umat. Kewajiban sudah diketahui dalam agama. Haji diwajibkan pada tahun ke Sembilan sesudah hijrah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak haji melainkan hanya sekali saja, yaitu pada tahun ke sepuluh sesudah hijrah, setelah ka’bah dibersihkan dari semua jejak syirik.

Keutamaan haji telah disebutkan di dalam berbagai nash yang shahih, diantaranya “Haji mabrur tidak ada balasannya selain syurga.” Adapun hikmah dan rahasianya, terlalu banyak untuk dihitung dan dirinci satu persatu.

Muktamar Islam yang agung ini, perkumpulan yang melibatkan sekian banyak orang, terkandung manfaat agama, dunia, budaya, social politik, yang tidak akan cukup bila dihitung.

Tentang manfaat haji dari sisi agama, bahwa orang yang menunaikan haji, ibadah yang agung ini, melakukan berbagai jenis ketundukan di hadapan Allah. Di antaranya dia harus menempu perjalanan jauh, meninggalkan harta dan keluar dari kesenangan hidup, melepas pkaian dan menggantinya dengan satu lembar kain dan selendang, membuka kepala, meninggalkan wewangian dan wanita, tidak menyisir rambut dan memotong kuku, meninggalkan semua itu dengan hati yang khusyuk, mata yang berlindung dan lidah yang bertakbir serta bertalbiyah. Mereka dirundung rindu untuk berkunjung kerumah Allah, melupakan negeri, keluarga, dan harta, mengabaikan jiwa dan segala hal yang berharga. Lalu apa pendapat anda tentang pahala mereka di sisi Allah?

Tentang manfaat kebudayaan dan ilmu, Allah telah memerintahkan untuk melakukan perjalanan di muka bumi, melihat dan memperhatikan keadaan manusia, berhubungan dengan mereka dan menjlin kontak dengan berbagai utusan, yang menggambarkan semua penjuru dunia, sehingga dapat menambah ilmu dan pengetahuan. mereka saling berhubungan, sehingga masing-masing ilmu dan pengetahuan yang sejenis saling bertemu.

Adapun manfaat social dan politik, karena haji merupakan muktamar agung, berbagai utusan dan kebudayaan saling bertemu, dengan segala tujuan dan kecenderungannya. Jika setiap kelompok berkumpul dengan kelompok yang searah dan serupa, maka mereka menyerupai lembaga-lembaga pemerintah, saling mengkaji kondisi mereka yang lalu, sekarang dan mendatang, mereka dapat melihat apa yang harus didahulukan dan apa yang harus diakhirkan, apa sebab-sebab perpecahan diantara mereka dan mempersatukan kaliman merka.

Sumber: Kitab Taysirul ‘Allam Syarh ‘Umdatul Ahkam mukaddimah bab haji.

Penerjemah: Khatur Suhardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *