Memukul, Mencubit Anaknya Yang Berusia Satu Tahun Kemudian Ia Merasa Menyesal

Pertanyaan:

Segala puji bagi Allah atas nikmat harta dan keturunan, Allah telah mengkaruniakan kepada saya anak yang ganteng, saya merasa aneh pada anak saya ini, yaitu; ketika ia menangis maka perasaan sayang tadi seakan hilang maka ia saya pukul, saya cubit atau semacamnya, namun setelahnya saya merasa menyesal tertekan fisik dan mental, padahal saya sangat menyayanginya. Ketika dibawa orang lain ia tertawa dan bermain bersamanya, dan ketika ia melihat saya, ia mulai menangis dan berteriak, umurnya belum genap satu tahun. Apa yang seharusnya saya lakukan padahal saya juga shalat, puasa ?

Jawaban:

Alhmadulillah

Tindakan anda kepada anak anda sangatlah aneh, dibawah ini beberapa sikap yang seharusnya dilakukan oleh anda –semoga Allah memberikan manfaat kepada anda-.

1.      Seorang anak membutuhkan makan, minum, tidur dan udara, kasih sayang orang tua yang menyuguhkan makanan terbaik untuk anaknya. Fokus pada makanan fisik saja tidak diimbangi dengan makanan maknawi adalah keteledoran orang tua kepada kebutuhan fitrah seorang anak.

2.      Memberikan kasih sayang pada anak efek positifnya sangat besar, oleh karenanya wasiat menyusui hendaknya dengan ASI alami, agar berkumpul baiknya minuman dan makanan dengan baiknya tempat, yaitu; pangkuan ibunya, terdapat penelitian pada zaman modern ini sangat besar pengaruhnya persusuan dari ASI ibunya untuk perkembangan fisik dan psikis seorang anak.

Terdapat pula –hasil penelitian- sebaliknya, yaitu; efek negatif seorang anak karena tidak minum ASI ibunya dan tidak berada pada pangkuannya. Masyarakat yang banyak melakukan kekerasan pada anak adalah masyarakat rusak yang banyak terdapat kejahatan dan dosa penghacur.

Sebagaian peneliti telah menyebutkan pada ilmu kemasyarakatan bahwa pukulan fisik orang tua pada anak-anaknya dan kekerasan terus menerus yang mereka rasakan akan menjadikan mereka memiliki simpul-simpul kejiwaan, apalagi ditambah dengan kekerasan pada keluarga secara umum. Hingg ia akan merasa jengkel dan melahirkan masalah serius yang sulit menyelesaikannya, karena kekerasan dari keluarga akan berubah pada kekerasan pada masyarakat, dan akan berubah menjadi satu bentuk perangai yang janggal. Para korbannya akan mengalami trauma psikis yang akan mengganggu keamanan masyarakat.

3.      Barang siapa yang bersikap keras pada anak-anaknya maka ia telah menyimpang dari fitrah dan syari’at, karena Allah –Ta’ala- telah memberikan fitrah bagi manusia untuk mencintai anak-anaknya; oleh karenanya Allah –Ta’ala- dan Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak berwasiat kepada orang tua berkaitan dengan masalah ini, namun sebailiknya justru berwasiat kepada anak-anak berkaitan dengan sikap mereka kepada orang tua, dan memperingatkan akan sikap durhaka kepada mereka.

Adapun menyimpang dari syari’at maksudnya adalah: Karena pukulan fisik dan tidak adanya kasih sayang kepada anak-anak menunjukkan sudah tercabutnya kasih sayang dari hati pelakunya, dan dia berhak untuk terhalang dari rahmat Allah.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mencium Hasan bin Ali yang bersamanya Aqra’ bin Habis at Tamimi sedang duduk dan berkata: Saya memiliki sepuluh anak dan tidak seorang pun yang saya cium, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihatnya lalu bersabda:

( مَنْ لا يَرْحَمْ لا يُرْحَم . رواه البخاري ( 5651 ) ومسلم ( 2318

“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak disayangi”. (HR. Bukhori 5651 dan Muslim 318)

Dari Aisyah –radhiyallhu ‘anha- berkata: Seorang Arab badui mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan berkara: “Kalian mencium anak-anak ?, dan kami tidak mencium mereka. Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

( أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ . رواه البخاري ( 5652

“Tidakkah aku memiliki agar Allah mencabut dari hatimu rahmat-Nya ?!”.  (HR. Bukhori: 5652)

Kasih sayang Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada anak-anak begitu besar sampai beliau meringankan shalat karena mendengar tangisan mereka, sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka dan ibu mereka.

Dari Anas bin Malik Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengajaknya bicara dan bersabda:

( إِنِّي لأَدْخُلُ فِي الصَّلاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا ، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ  . رواه البخاري ( 677 ) ومسلم ( 470

“Sesungguhnya saya memulai shalat dan ingin memanjangkannya, seraya aku mendengar tangisan seorang anak, maka aku segerakan shalatku karena aku mengetahui betapa ibunya sangat sedih dengan tangisannya”. (HR. Bukhori 677 dan Muslim 470)

4.      Ketahuilah bahwa anda dengan sikap anda sekarang telah menelantarkan pendidikan anak anda, dan anda bisa jadi akan melihat keburukannya di dunia sebelum akherat. Bagaimana mungkin dengan muamalah seperti itu akan melahirkan pendidikan yang baik dan menjadikan anak baik dan berbakti kepada orang tuanya ?!

5.      Katahuilah seorang bayi tidak akan menangis dengan sendirinya, pasti ada sebabnya, maka menjadi kewajiban anda untuk segera tanggap sebagai bentuk kasih sayang anda dengan berusaha mengetahui sebab menangisnya disebabkan karena kesakitan atau merasa lapar. Bukan malah segera memukulnya atau mencubit atau berlaku kasar kepadanya, karena prilaku anda itu menjadi sebab lain ia menangis, yaitu; karena kesakitan.

Seorang spesialis psikologi berkata: “Para pakar kejiawaan berpendapat bahwa menangis respon tubuh yang digunakan untuk mengontrol emosional seseorang atau mengendalikan emosi yang tertahan dalam diri seseorang, menangis, berteriak, berkata keras, merusak mainan atau perabot dan kegelisahan merupakan sarana untuk mengungkapkan perasaan dan emosi yang berkaitan dengan marah atau sedih. Ketika frustasi yang bisa saja seorang anak mengalaminya akan melahirkan emosi kejiwaan yang mengandung permusuhan, maka menangis adalah upaya melampiaskan emosi tersebut dan menghilangkannya. Manahan nangis atau bahkan tidak menangis sama sekali bisa jadi menjadi tanda bahwa emosi tersebut tersimpan di dalam dirinya, dan bisa jadi lama-kelamaan perasaannya tidak peka terhadap keadaan dan bahkan cenderung dilupakan oleh anak tersebut. Namun kenyataannya ia tidak benar-benar melupakannya, emosi tersebt masih terpendam di dalam dirinya yang mungkin akan muncul ketika ia sudah dewasa dengan ungkapan lain, seperti: gelisah atau dengan bentuk menebar permusuhan kepada orang lain pada setiap kali ada kesempatan”.

6.      Ketahuilah –dan ini yang terakhir- bahwa membentak anak-anak akan menyebabkan cacat akal atau fisik, bagaimana jika sampai menggunakan pukulan dalam pendidikannya ?!

Para peneliti Amerika sudah memperingatkan bahwa menghardik anak itu bisa jadi akan membunuhnya atau mereka akan terkena cacat akal yang parah. Para peneliti menjelaskan bahwa rusaknya otak yang bisa membedakan keadaan diketahui secara medis bahwa tidak terpisahkan dengan goncangan kejiwaan seorang anak disebabkan kekerasan. Dan bisa saja dapat membunuh mereka atau mereka akan terkena gangguan kejiwaan dan mental, seperti: keterbelakangan mental, ketumpulan otak, kebutaan, kekejangan yang sangat, sulit membaca, sulit berkonsentrasi, dan lain-lain dari berbagai hambatan pengajaran.

Salah seorang spesialis berkata: “Bahwa tangisan seorang anak mengganggu, akan tetapi itulah cara mereka mengungkapkan kebutuhan mereka, oleh karenanya sebaiknya segera mencari penyebab tangisannya, dan berusaha menyelesaikannya dari pada langsung menghardiknya, dengan memperhatikan bahwa anak laki-laki lebih rentan menangis dari pada anak perempuan sebanyak 57 % kasus dari anak laki-laki”.

Para peneliti juga mengisyaratkan bahwa menghardik anak dengan keras pada saat mereka menangis, atau mengangkatnya ke udara, atau memegangnya (dengan erat), atau menggoyang lututnya dengan keras, atau membawanya lari, semua itu bisa jadi akan menyebabkan rusaknya otak disebabkan karena emosi yang tertahan yang akan menyebabkan pecahnya pembuluh darah dan terjadi pendarahan di otak. Para ahli mencatat bahwa seorang bayi yang masih minum ASI dan masih baru lahir lebih rentan terhadap cacat yang disebabkan oleh goncangan dibanding dengan anak-anak yang lebih besar”.

Kesimpulan:

Anda harus senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan janganlah menyimpang dari fitrah, dan janganlah menyelisihi syari’at Allah –Ta’ala-, dan hendaknya anda menyayangi anak anda yang masih kecil dan lucu, dan janganlah menjadi sebab akan kerugian dan cacatnya, karena anda akan merasa bersalah sepanjang hidup anda, lihatlah keadaan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabatnya yang menjadi qudwah yang baik bagi anda.

Bersegeralah anda untuk selalu berdoa dan meruqyah anda sendiri, rumah anda dan anak anda hawatir mereka akan terkena penyakit ‘ain (mata) dan sihir, sedangkan ruqyah akan bermanfaat pada umumnya.

Kami berharap bahwa anda mendapatkan petunjuk, ampunan dan keselamatan, dan bagi anak anda mendapatkan keselamatan dari keburukan. Kami memohon kepada Allah agar Dia membantu anda dalam mendidik dengan pendidikan yang baik”.

Wallahu a’lam.

Soal Jawab Tentang Islam

Sumber: https://islamqa.info/id/50731

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *