Ulama Berperangai Fir’aun

Kata Ibnu Taimiyah rahimahullah: Ulama’pun apalagi ustadz, bisa saja berkarakter menyerupai Fir’aun.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Siapapun yang ditaati, baik dari kalangan para penguasa, ulama’, dan para syeikh karena ia meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia memerintahkan apa yang beliau perintahkan, dan menyeru kepada apa yang beliau seru kepadanya, dan mencintai setiap orang yang turut menyeru kepada apa yang ia seru kepadanya, maka Allah mencintai amalannya tersebut, sehingga iapun mencintai setiap hal yang Allah cintai, karena orientasinya hanya menunaikan ibadah kepada Allah dan tegaknya agama Allah.

Sedangkan orang yang benci bila ada orang lain melakukan pekerjaan yang serupa dengan pekerjaannya, menyeru kepada hal yang serupa, maka orang seperti ini sejatinya ingin agar dirinyalah yang disembah dan dipatuhi. Pada dirinya terdapat perangai Fir’aun dan yang serupa dengannya.

Siapapun yang berusaha untuk selalu dipatuhi selain Allah, maka itulah perangai Fir’aun.

Dan siapapun yang menginginkan agar dipatuhi bersama Allah, maka orang ini menginginkan agar orang lain menjadikannya sekutu bagi Allah. mereka mencintai dirinya seperti cinta mereka kepada Allah. ” (Majmu’ Fatawa 8/220)

Marilah kita berusaha menjaga kesucian jiwa kita masing masing. Mari bercermin kepada jiwa hati kita masing masing, bagaimanakah perasaan kita tatkala ada orang lain melakukan kebaikan yang sama dengan yang kita lakukan, adakah kekecewaan atau kebencian dalam diri kita?

Memang menjadi orang baik itu berat, namun ternyata berbesar hati ketika ada orang lain yang berhasil menjadi baik seperti anda lebih berat lagi.

Membangun masjid itu mahal, menjadi panitia kajian itu repot, namun ternyata lebih mahal dan lebih repot lagi tatkala melihat orang lain berhasil membangun masjid yang lebih besar atau berhasil mengadakan kajian yang lebih besar dari yang kita adakan.

Menjadi ustadz itu susah, namun ternyata berbesar hati tatkala melihat orang lain yang berhasil menjadi ustadz itu lebih berat lagi.

Saya harap ndak usah baper, apalagi menerawang ke mana mana, agar tidak jadi tukang ramal, he he he, cukup instropeksi diri saja, semoga Allah Ta’ala melimpahkan keikhlasan kepada kita semua.

Dr Muhammad Arifin Badri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *