Mencintainya Seperti Mencintai Diri Sendiri

Bagaimana cara kita mencintai saudara kita? Di sini dapat kita pelajari dari Hadits Arbain karya Imam Nawawi, no. 13.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45]

Penjelasan Hadits

 

Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim, no. 1844)

Mencintai bisa jadi berkaitan dengan urusan diin (agama), bisa jadi berkaitan dengan urusan dunia. Rinciannya sebagai berikut.

1- Sangat suka jika dirinya mendapatkan kenikmatan dalam hal agama, maka wajib baginya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapatkan hal itu. Jika kecintaan seperti itu tidak ada, maka imannya berarti dinafikan sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Jika seseorang suka melakukan perkara wajib ataukah sunnah, maka ia suka saudaranya pun bisa melakukan semisal itu. Begitu pula dalam hal meninggalkan yang haram. Jika ia suka dirinya meninggalkan yang haram, maka ia suka pada saudaranya demikian. Jika ia tidak menyukai saudaranya seperti itu, maka ternafikan kesempurnaan iman yang wajib.

Termasuk dalam hal pertama ini adalah suka saudaranya mendapatkan hidayah, memahami akidah, dijauhkan dari kebid’ahan, seperti itu dihukumi wajib karena ia suka jika ia sendiri mendapatkannya.

2- Sangat suka jika dirinya memperoleh dunia, maka ia suka saudaranya mendapatkan hal itu pula. Namun untuk kecintaan kedua ini dihukumi sunnah. Misalnya, suka jika saudaranya diberi keluasan rezeki sebagaimana ia pun suka dirinya demikian, maka dihukumi sunnah. Begitu juga suka saudaranya mendapatkan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia lainnya, hal seperti ini dihukumi sunnah.

 

Cinta pada Muslim Sesuai Kadar Iman

 

Kita diperintahkan untuk mencintai sesama muslim. Allah Ta’ala berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata mengenai hadits di atas, “Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah imannya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:305).

Sikap yang dilakukan oleh seorang muslim ketika melihat saudaranya yang melakukan kesalahan adalah menasihatinya. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Jika seseorang melihat pada saudaranya kekurangan dalam agama, maka ia berusaha untuk menasihatinya (membuat saudaranya jadi baik).” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:308).

Adapun jika muslim tersebut pelaku dosa besar seperti pemakan riba (rentenir) dan suka mengghibah (menggunjing), maka orang tersebut dicintai sekadar dengan ketaatan yang ada padanya dan dibenci karena maksiat yang ia terus lakukan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada dalam diri seseorang kebaikan dan kejelekan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunnah dan bid’ah, maka kecintaan padanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Ia pantas untuk dibenci karena kejelekan yang ada padanya. Bisa jadi ada dalam diri seseorang kemuliaan dan kehinaan, bersatu di dalamnya seperti itu. Contohnya, ada pencuri yang miskin. Ia berhak dihukumi potong tangan. Di samping itu ia juga berhak mendapat harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:209).

Ibnu Taimiyah melanjutkan, “Demikianlah prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Prinsip diselisihi oleh Khawarij dan Mu’tazilah serta yang sepaham dengan mereka. Mereka menjadi hanya berhak dapat pahala saja. Atau jika tidak yah mendapatkan siksa saja. Sedangkan Ahlus Sunnah berprinsip bahwa Allah menyiksa orang yang berbuat dosa besar yang pantas untuk disiksa. Mereka pun dapat keluar dari neraka dengan syafa’at sebagai karunia dari Allah. Sebagaimana hal ini didukung oleh hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Idem).

 

Faedah Hadits

 

Pertama: Yang dimaksud dalam hadits adalah tidak sempurnanya iman.

Kedua: Wajib mencintai saudara kita sebagaimana mencintai saudara sendiri. Di sini dikatakan wajib karena ada kalimat penafian umum.

Ketiga: Wajib meninggalkan hasad karena orang yang hasad pada saudaranya berarti tidak mencintai saudaranya seperti yang ia cintai pada dirinya sendiri. Bahkan orang yang hasad itu berangan-angan nikmat orang lain itu hilang.

Sedangkan pengertian hasad menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu,

الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ

Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

 

Tingkatan Hasad

 

1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.

2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.

Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya namun lebih ringan dari yang pertama.

3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.

4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang.

5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816)

Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan seperti dalam ayat,

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)

Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.

 

Referensi:

  1. Fiqh Al-Hasad. Cetakan pertama, tahun 1415 H. Syaikh Musthafa Al-Adawi. Penerbit Darus Sunnah.
  2. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  3. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Ibnu Hazm.
  4. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsuraya.
  5. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul ‘Ashimah.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/18775-hadits-arbain-13-mencintainya-seperti-mencintai-diri-sendiri.html

PERBUATAN BID’AH TERTOLAK

عَنْ أُمِّ الـمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رواه البخاري ومسلـم

وفي رواية لـمسلـم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ibunda kaum mu’minin, Ummu Abdillah ‘Aisyah rodhiyallohu ’anha, dia berkata: “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”

Status Hadits dan Takhrijnya

Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 2697), Muslim (no. 1718), Ahmad (VI/73, 230, 270), Abu Dawud (no. 4606) Ibnu Majah (no. 14) dan selainnya.

Kedudukan hadits

Hadits ini sangat agung kedudukannya karena merupakan dasar penolakan terhadap seluruh bentuk bidáh yang menyelisihi syariát, baik bidáh dalam aqidah, ibadah, maupun muámalah.

Bidáh

Bidáh memiliki 2 tinjauan secara lughah dan secara syarí. Bidáh secara lughah berarti segala sesuatu yang tidak ada contoh atau tidak ada yang mendahuluinya pada masanya. Adapun bidáh secara syarí adalah seperti yang didefinisikan oleh para ulama, yaitu yang memenuhi 3 kriteria sebagai berikut:

  1. Dilakukan secara terus menerus.
  2. Baru, dalam arti tidak ada contohnya.
  3. Menyerupai syariát baik dari sisi sifatnya atau atsarnya. Dari sisi sifat maksudnya seperti sifat-sifat syariát yaitu sudah tertentu waktu, tempat, jenis, jumlah, dan tata caranya. Dari sisi atsarnya maksudnya diniati untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari pahala. Bidáh termasuk jenis Dosa Besar, karena merupakan amal kemaksiatan namun mengharapkan pahala.

Mashalihul Mursalah

Kalau seseorang tidak benar-benar memahami hakikat bidáh maka dia bisa rancu dengan sesuatu yang disebut Mashalihul Mursalah. Sepintas, antara bidáh dan Mashalihul Mursalah ada kemiripan, namun hakikatnya berbeda. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut:

  1. Mashalihul Mursalah terjadi pada perkara duniawi atau pada sarana (wasilah) demi penjagaan lima maqosid syariát yaitu agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Sementara bidáh terjadi pada ibadah atau ghayah.
  2. Mashalihul Mursalah tidak ada tuntutan (kebutuhan) untuk dikerjakan pada masa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, adapun bidáh tuntutan (kebutuhan) untuk dikerjakannya sudah ada pada masa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.

Seputar Keabsahan Hadits ‘Sesungguhnya Allah Itu Bersih, Menyukai Kebersihan’

Alhamdulillah

Pertama:

Hadits yang disebutkan dalam pertanyaan lemah sekali. dikeluarkan oleh Tirmizi dalam Sunannya, 2799. Abu Ya’la dalam Musnadnya, 791. Bazzar dalam Musnadnya, 1114 dari jalan Abu ‘Amir Al-Aqdi.

Dikeluarkan oleh Ibnu Qutaibh dalam ‘Garib Hadits, (1/297) Barjalani dalam ‘Al-Karam, (12) dari jalan Ma’afi bin Imron. Dikeluarkan Dauraqi dalam ‘Musnad Sa’ad bin Abi Waqos, (31) dari jalan Abi Nu’aim Fadl bin Dukain. Dikeluarkan Khotib dalam  ‘Al-Jami’ Liakhlaq Rowi wa Adabis Sami’, (855) dari jalan Mugirah bin Abdurrahman. Keempatnya (Abu Amir Al-Aqodi, Ma’afi bin Imron, Abu Nu’aim dan Mugirah) dari Kholid bin Iyas dari Muhajir bin Mismar dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqos dari ayahnya.

Yang berbeda dengan mereka adalah Abdullah bin Nafi’ diriwayatkan dari Kholid bin Iyas dari Amir bin Sa’ad dari ayahnya dari Nabi sallallahu alai wa sallam.

Dikeluarkan dari jalan Abu Ya’la di Musnadnya, (79). Ibnu Hibban di ‘Majruhin, (1/279) dan Ibnu Adi di Kamil, (3/414).

Hadits seputar Ali bin Kholid bin Ilyas atau Iyas beliau ditinggalkan haditsnya tidak dihalalkan periwayatan darinya. Bukhori mengomentari, “Tidak ada sesuatu darinya, haditsnya munkar. Ibnu Main berkata, “Tidak ada sesuatu. Begitu juga dalam’Dhuafa’ karangan Uqoili, (2/3). Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Haditsnya ditinggalkan. Abu Nuaim mengatakan, “Haditsnya tidak berkwalitas. Abu Hatim berkata, “Haditsnya lemah, munkar haditsnya. Silahkan melihat ‘Jarkh wa Ta’dil, (3/321). Nasa’I mengatakan, “Haditsnya ditinggalkan. Begitu juga dalam kita Dhu’afa wal Matrukin’ karangan Nasa’I (172). Ibnu Hibban mengatakan dalam ‘Majruhin, (1/279), “Meriwayatkan hadits palsu dari orang terpercaya sampai ke dalam hati bahwa dia yang memalsukannya. Tidak halal menulis haditsnya kecuali dari sisi takjub.” Selesai

Hadits dilemahkan Ibnu Jauzi sebagaimana dalam ‘Ilal Al-Mutanahiyah’, (1186). Ibnu Rajab sebagaimana dalam ‘Jami’ Ulum Wal Hikam, hal. 99. Ibnu Hajar sebagaimana dalam ‘Al-Matolib Al-Aliyah, (2260). Busoiri sebagaimana dalam ‘Ittihaf Khiyarah Al-Mahirah, (1510).  Dan Syekh Albanu sebagaimana dalam ‘Dhoif Sunan Tirmizi, (74).

Hadits ada jalan lain, dikeluarkan Daulabi di ‘Al-Kuna Wal Asma’, (1203). Dari jalan Dawud bin Rasyid berkata, kami diberitahukan Abu Toyib Harun bin Muhammad. Berkata, kami diberitahukan oleh Bukair bin Mismar dari Amir bin Sa’ad dari ayahnya dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Ia termasuk jalan lemah juga. Di dalamnya ada Haris bin Muhammad Abu Toyib. Didustakan oleh Ibnu Ma’in sebagaimana dalam ‘Al-Kamil’ karangan Ibnu Adi, (8/441).

Ada jalan ketiga, dikeluarkan oleh Ibnu Adi di ‘Kamil, (6/510) dari jalur Ahmad bin Budail dari Husain bin Ali Ja’fi dari Ibnu Abi Ruwad dari Salim dari Ibnu Umar dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Abdul Aziz bin Abi Ruwad sendirian. Oleh karena itu Ibnu Adi memasukkan dalam kemungkarannya. Syekh Albani menghukumi dari periwayatan ini ia adalah munkar sebagaimana dalam ‘Silsilah Dhoifah, (7086).

Sementara pertanyaan penanya yang mulia tentang berbagai hadits yang menganjurkan kebersihan banyak sekali diantaranya berikut ini:

1.      Nabi sallallahu alaihi wa sallam menjadikan kebersihan separuh dari keimanan. Dimana beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ “. أخرجه مسلم (211

“Kebersihan separuh dari keimanan. Dikeluarkan oleh Muslim, 211.

Kebersihan mencakup semua kebersihan tidak diragukan lagi.

2.      Banyak hadits yang di dalamnya menganjurkan mandi pada hari Jum’ah dan dua hari raya. Sebagaimana dalam Bukhori, 879 dan Muslim, 846 dari Hadits Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Mandi pada hari Jum’ah itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (balig).

Begitu juga perintah Nabi sallallahu alaihi wa sallam kepada para Shahabat yang bekerja sampai keluar darinya bau. Maka beliau memerintahkan kepada mereka untuk mandi. Dalam shoheh Bukhori, (903) dan Muslim, (847) dari Aisyah radhiallahu anha berkata:

كَانَ النَّاسُ مَهَنَةَ أَنْفُسِهِمْ ، وَكَانُوا إِذَا رَاحُوا إِلَى الجُمُعَةِ ، رَاحُوا فِي هَيْئَتِهِمْ فَقِيلَ لَهُمْ: لَوِ اغْتَسَلْتُمْ “.

“Dahulu orang-orang mempunyai pekerjaan sendiri. Ketika mereka pergi shalat Jum’ah, mereka pergi dalam kondisi apa adanya, maka dikatakan kepadanya ‘(Alangka bagusnya) kalau mereka mandi.

3.      Nabi sallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk membersihkan mulut dan menggunakan siwak. Seraya beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

” السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ ” . أخرجه النسائي في “سننه” (5) ، وصححه الشيخ الألباني في “إرواء الغليل” (66

“Siwak itu membersihkan mulut dan mendapat redo Tuhan.” HR. Nasa’I di sunannya, (5) dan dinyatakan shoheh oleh Syekh Albani di ‘Irwaul Golil, (66).

4.      Nabi sallallahu alaihi wa sallalm menganjurkan mencuci pakaian dan membersihkannya. Dari Abu Dawud di Sunannya, (4062) dari Jabir bin Abdullah berkata:

أتانا – رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم – فرأى رجُلاً شعِثاً قد تفرَّقَ شَعرُهُ ، فقال: “أما كان هذا يَجدُ ما يُسَكِّنُ به شَعْرَهَ؟ ” ورأى رجُلاً آخر عليه ثيابٌ وسِخَة فقال: “أَما كان هذا يجدُ ما يَغسِلُ به ثوبَهُ؟ “. والحديث صححه الشيخ الألباني في السلسلة الصحيحة (493

“Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mendatangi kami dan beliau melihat seseorang berdebu dan rambutnya terburai. Maka beliau bersabda, “Apakah dia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat merapikan rambutnya. Dan beliau melihat orang lain memakai baju kotor, maka beliau bersabda, “Apakah dia tidak mendapatkan apa yang dapat mencuci bajunya.” Hadits dinyatakan shoheh oleh Syekh Albani di Silsilah Shohehah, (493).

5.      Anjuran Nabi sallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya agar membangun masjid di rumah disertai membersihkan dan memberi wewangian. Dari Aisyah radhiallahu anha berkata:

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسلم ببنيان المساجد في الدور ، وأمر أن تنظف وتطيب “. أخرجه أحمد في “المسند” (26386) ، وصححه الشيخ الألباني في السلسة الصحيحة (2724)

“Rasulullah sallallahu alaih wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di perkampungan. Dan memerintahkan untuk membersihkan dan memberi wewangian. Dikeluarkan Ahmad di Musnad, (26386). Dinyatakan shoheh oleh Syekh Albani di silsilah shohehah, (2724).

6.      Nabi sallallahu alaihi wa sallam menganjurkan kepada umatnya untuk membersihkan halaman rumah dan membersihkannya. Seraya beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا ” . أخرجه الطبراني في “المعجم الأوسط” (4057) ، وحسنه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة” (236

“Bersihkan halaman anda, karena sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halamannya.” HR. Tobroni di ‘Mu’jam Ausath, (4057) dinyatakan hasan oleh Albany di Silsilah Shohehah, (236).

Urusan kebersihan tidak sekedar bersih secara pribadi, kebersihan masjid dan rumah. Bahkan sampai urusan kebersihan jalan. Sampai hal itu menjadi kebiasaan yang umum diketahui oleh para Shahabat radhiallahu anhum dan mereka menukilkannya. Sampai Muhammad bin Sirin mengatakan, “Ketika Abu Musa Al-Asy’ari datang di Basroh. Beliau mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya amirul mukminin mengutusku kepada kalian semua. Untuk mengajarkan sunah dan membersihkan jalan-jalan kamu. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di ‘Mushonafnya, (25923) dengan sanadnya shoheh.

Wallahu a’lam .

Hakikat Atirah Dan Hukumnya

Alhamdulillah

Atirah adalah sembelihan yang disembelih orang jahiliyah di bulan Rajab. Mereka menjadikan hal itu sebagai sunah (kebiasaan) seperti sembelihan hewan kurban di hari raya idul Adha.

Yang benar diantara pendapat para ulama seperti yang akan dijelaskan bahwa hadits-hadits yang memerintahkan dan memberikan keringanan untuk melakukannya itu terjadi pada masa permulaan islam kemudian dilarang oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam dikemudian hari.

Para ulama berbeda pendapat terkait dengan hukumnya menjadi beberapa pendapat:

Pendapat pertama: Perbuatan ini termasuk sunah yang dianjurkan. Ini pendapat Imam Syafi’I rahimahullah. Beliau berdalil akan hal itu dengan beberapa dalil diantaranya:

1.      Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, (6674) dan Nasa’i, (4225) dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya,

Nabi sallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang ‘Itroh, maka beliau menjawab,

الْعَتِيرَةُ حَقٌّ ( حسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 4122

“Al-atirah itu benar.” Dinyatakan hasan oleh Albani di Shahih Al-Jami’, (4122).

2.      Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud, (2788) Tirmizi, (1518) dari Mihnaf bin Sulaim berkata:

“Kami berdiri bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam di Arafah, dan saya mendengar beliau bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ وَعَتِيرَةٌ . هَلْ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ ؟ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ (حسنه الألباني في صحيح أبي داود

“Wahai manusia, dianjurkan atas setiap penduduk rumah setiap tahunnya  kurban dan atirah. Apakah kalian mengetahui apa itu atirah? Atirah ialah yang kamu semua namakan dengan Rajabiyah (sembelihan dibulan rajab, pen).” (Dinyatakan hasan oleh Albani di Shahih Abi Dawud)

3.      Hadits yang diriwayatkan Nasa’i, no. 4226 dari Harits bin Amr,

أَنَّ رَجُلاً مِنْ النَّاسِ قال : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْعَتَائِرُ ؟ قَالَ :  مَنْ شَاءَ عَتَرَ ، وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَعْتِرْ( ضعفه الألباني في ضعيف النسائي

“Ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah apa hukumnya atiroh? Nabi bersabda, “Siapa yang mau silakan beratirah dan siapa yang tidak mau silakan tidak melakukan atirah.” (Dinyatakan lemah oleh Albany dalam Dha’if Nasa’i)

Silahkan melihat “Al-Majmu”, (8/445, 446).

Pendapat kedua: Atirah tidak dianjurkan dan tidak dimakruhkan. Pendapat ini dikatakan oleh sebagian Syafiyyah. Sebagaimana diceritakan oleh Nawawi dari mereka dalam “Al-Majmu”, (8/445).

Pendapat ketiga: Hukum atirah adalah makruh. Berdasarkan larangan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan sebagian ulama mengatakan perbuatan ini hukumnya haram. Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits yang berisi tentang perintah untuk mengerjakannya itu di masa permulaan islam, Kemudian dihapus/ diganti dengan larangan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dikemudian hari. Imam Nawawi rahimahullah dalam “Syarh Muslim”, (13/137) menukilan dari Qodi Iyad perkataannya, “Perintah atirahdihapus adalah pendapat mayoritas para ulama”.

Mereka berdalil akan pengharamannya :

1.      Hadits yang diriwatkan Bukhori, (5474) dan Muslim, (1976) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda:

لا فَرَعَ وَلا عَتِيرَة

“Tidak ada (dalam syariat islam, pen) fara’ dan tidak ada atirah.”

Al-Fara’ adalah anak unta yang pertama lahir dimana mereka menyembelihnya untuk berhalanya.

2.      Atiroh termasuk kebiasaan orang jahiliyah, dan tidak diperbolehkan menyerupai mereka dalam beribadah berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

من تشبه بقوم فهو منهم (رواه أبو داود، رقم 4031 وصححه الألباني في “إرواء الغليل”، رقم 1269

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongannya.” HR. Abu Dawud, (4031) dinyatakan shahih oleh Albany di “Irwaul Golil”, (1269).

3.      Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan -setelah menyebutkan sebagian hadits yang menunjukkan disyariatkannya atirah-, “Ibnu Munzir mengatakan –setelah menyebutkan sebagian hadits tentang atirah – dahulu bangsa arab waktu jahiliyah melakukan hal itu. Dan dilakukan oleh sebagian umat Islam. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya kemudian melarang keduanya. Seraya bersabda:

لا فَرَعَ وَلا عَتِيرَة

“Tidak ada fara’ dan tidak ada atirah.”

Maka orang-orang berhenti melakukan keduanya setelah mereka dilarang oleh nabi. Dan telah diketahui bersama bahwa tidaklah ada larangan terhadap sesuatu kecuali perbuatan itu pernah dilakukan sebelumnya. Dan kami tidak mengetahui seorang pun dari ahli ilmu mengatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu pernah melarang kemudian mengizinkan keduanya. Dalil bahwa perbuatan dahulu pernah dilakukan sebelum ada larangan, ungkapan beliau dalam hadits Nubaisyah,

إِنَّا كُنَّا نَعْتِر عَتِيرَة فِي الْجَاهِلِيَّة , وَإِنَّا كُنَّا نُفْرِع فَرَعًا فِي الْجَاهِلِيَّة

“Sesungguhnya kita mengadakan atirah waktu jahiliyah dan dahulu kami mengadakan fara waktu jahiliyah.”

Dan adanya ijma’ ( kesepakatan, pen) mayoritas ulama yang tidak melakukan hal itu menunjukkan bahwa mereka berhenti melakukan keduanya disertai ada ketetapan larangan hal itu  sebagaimana yang telah kami jelaskan.”

Syekh Muhammad bin Ibrohim rahimahullah menegaskan dalam ‘Fatwanya, (6/165) tentang pengharaman atiroh. Seraya mengatakan, sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam :

لا فَرَعَ وَلا عَتِيرَة

“Tidak ada fara’ dan tidak ada atirah.”

Sebagaimana yang saya fahami sekarang bahwa hal itu lebih dekat pada pengharaman.

Dan larangan dalam agama menunjukkan kebatilan, seperti sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam :

لا عدوى ولا طيرة

“Tidak ada adwa (penyakit menular) dan tidak ada tiyarah (mengundi nasib dengan perilaku burung, pen)”.

Dan tidakkah sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam, “Tidak ada fara’ dan tidak ada atirah.”menunjukkan kebatilan juga?

Apalagi  disertai dengan dalil “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kelompok mereka” maka dilarang perbuatan menyerupai orang-orang jahiliyah.

Kemudian ditambah lagi ini termasuk bab ibadah, sementara ibadah itu tauqifi (paten) meskipun Nabi sallallahu alaihi wa sallam belum melarangnya, maka hukum asalnya adalah terlarang. Karena semua urusan jahiliyah itu terlarang dan tidak diperlukan penegasan larangan pada setiap permasalahannya.

Sebagian ulama dengan terang-terangan memakruhkannya. Dan yang kami pahami itu adalah haram. Ini terkait dengan pengkhususan sembelihan anak pertama yang dilahirkan unta. Dan penyembelihan pada sepuluh pertama di bulan Rajab. Sementara apa yang dilakukan oleh orang jahiliyah untuk sesembahan mereka, maka itu termasuk syirik.”

Syekh Ibnu Utsaimin dalam “Syarh Mumti”, (7/325) mengatakan, “Sabda Rasul sallallahu alaihi wa sallam,

لا فَرَعَ وَلا عَتِيرَة

“Tidak ada fara’ dan tidak ada atirah.”

Dalam redaksi lain, “Tidak ada fara’ dan tidak ada atirah dalam Islam” pengkhususan hal itu dalam Islam mengisyaratkan ia termasuk perilaku jahiliyah. Oleh karena itu sebagian ulama memakruhkan atirah. Berbeda dengan far’ah karena ada dalam sunah karena atirah layak untuk dimakruhkan –yaitu sembelihan di awal bulan Rajab- apalagi kalau hal itu disembelih di awal Rajab dan dikatakan kepada orang-orang bahwa hukum hal ini adalah boleh, sementara jiwa manusia condong terhadap perilaku seperti ini  maka bisa muncul anggapan bulan Rajab seperti bulan sembelihan Dzulhijjah sehingga orang banyak melakukan hal itu. Dan  banyaknya manusia yang melakukannya akan membuat mereka beranggapan hal ini adalah salah satu bentuk syiar islam di dalam bab manasik dan tanpa ragu lagi hal ini adalah terlarang.

Yang kuat menurutku (syaikh,pen) adalah bahwa far’ah tidak mengapa karena ada dalam sunah. Sementara atirah minimal kondisinya adalah makruh.” .

Hadits اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ Adalah Hadits Lemah, Tidak Shahih

Alhamdulillah

Pertama:

Tidak ada satu hadits pun yang shahih terkait dengan keutamaan bulan Rajab.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak terdapat hadits shahih tentang keutamaan bulan Rajab. Tidak ada keistemwaan bulan Rajab dari bulan sebelumnya; Jumadal Akhir kecuali bahwa Rajab merupakan salah satu bulan haram. Selain itu, tidak ada di dalamnya puasa yang disyariatkan, shalat yang disyariatkan, tidak ada umrah yang disyariatkan dan tidak ada sesuatupun (yang khusus disyariatkan di bulan Rajab). Dia seperti bulan-bulan lainnya.”

Liqo Bab Maftuh (26/174, berdasarkan penomoran Maktabah Syamilah)

Kedua:

Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan dalam Zawa’id Musnad (2346) dan Thabrani Al-Ausath (3939), Baihaqi dalam Asy-Su’abul Iman (3534) Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/269) dari jalur Zaidah bin Abi Raqad dia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ziyad An-Numairyy dari Anas bin Malik dia berkata, ‘Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berkata,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Sanad hadits ini dha’if, Ziyad An-Numairy adalah lemah. Dilemahkan oleh Ibnu Ma’in. Abu Hatim berkata, ‘haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah.’ Disebutkan pula oleh Ibnu Hibban dalam kitab Adh-Dhu’afa, dia berkata, “Tidak boleh berdalil dengan riwayatnya.”

Mizan Al-I’tidal, 2/91

Adapun Zanidah bin Abi Raqad lebih lemah darinya (Ziyad An-Numairy). Abu Hatim berkata, “Dia (Zanidah) meriwayatkan dari Ziyad An-Numairy dari Anas hadits-hadits yang marfu dan munkar. Saya tidak tahu, apakah haditsnya dari dia atau dari Ziyadh. Bukhari mengatakan, “Dia haditsnya munkar.” Nasai juga berkata, “Haditsnya munkar.” Dia berkata dalam Kitab Al-Kuna, “Tidak tsiqah.” Ibnu Hibban berkata, “Dia meriwayatkan riwayat-riwayat munkar dari orang-orang terkenal, riwayatnya tidak dapat dijadikan dalil dan tidak boleh ditulis kecuali untuk pelajaran.” Ibnu Adi berkata, “Meriwayatkan darinya Al-Maqdami dan selainnya berupa hadits-hadits yang asing, pada sebagian haditsnya adalah munkar.”

Tahzib At-Tahzizb (3/305-306)

Hadits ini di lemahkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Azkar, hal. 189, juga oleh Ibnu Rajab dalam kitab Latha’iful Ma’arif, hal. 121. Demikian pula dilemahkan oleh Al-Albany dalam Dha’if Al-Jami (4395). Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, di dalamnya terdapat Zanidah bin Abi Raqad, Bukhari berkata tentanganya, haditsnya munkar, sejumlah ulama mengatakan dia tidak dikenal (majhul).”

Majma Zawa’id, 2/165

Kemudian, hadits ini selain dha’if, di dalamnya tidak dikatakan bahwa dia dibaca di awal Rajab, tapi dia doa bersifat mutlak mohon barokah di dalamnya. Perkara ini boleh untuk bulan Rajab dan bulan lainnya.

Ketiga:

Adapun permohonan seorang muslim agar disampaikan kepada bulan Ramadan, hal itu dibolehkan dan tidak mengapa.

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ma’la bin Abi Katsir berkata, ‘Mereka (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan semoga Allah menyampaikan mereka kepada bulan Ramadan, lalu mereka berdoa selama enam bulan berikutnya semoga amalnya di bulan Ramadan diterima.” Yahya Ibnu Katsir berkata, “Di antara doa mereka (salaf) adalah, Ya Allah, selamatkan aku hingga Ramadan, serahkan Ramadan kepadaku dan terimalah amalku di bulan Ramadan.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 148)

Syekh Abdulkarim Al-Khudhair hafizahullah pernah ditanya, “Sejauh mana keshahihan hadits, اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان ?”

Beliau menjawab, “Hadits itu tidak shahih. Akan tetapi jika seorang muslim berdoa semoga dipertemukan dengan bulan Ramadan dan diberi taufiq agar dapat berpuasa di bulan tersebut dan dapat bertemu dengan Lailatul Qadar dengan doa-doa yang bersifat umum, maka hal itu insya Allah tidak mengapa.”

Situs Syekh

http://khudheir.com/text/298

Wallahu ta’ala a’lam.

PUASA DI BULAN RAJAB

Bulan Rajab adalah salah bulan Haram (suci) sebagaimana Firman Allah Ta’ala terkait dengannya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  :سورة التوبة: 36

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang  lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Bulan-bulan Haram adalah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 4662 dan Muslim, 1679 dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yang terdapat di antara (bulan) Jumadi Tsani dan Sya’ban.”

Bulan-bulan ini dinamakan bulan haram karena dua hal;

1.      Karena pada bulan-bulan ini diharamkan berperang, kecuali musuh memulai (perang).

2.      Sebagai penghormatan. Maksudnya jika ada perbuatan yang haram dilanggar, maka pada bulan-bulan ini bobotnya lebih berat dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memperingatkan agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan pada bulan-bulan ini, berdasarkan firmanNya: “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” QS. At-Taubah: 36, meskipun melakukan kemaksiatan diharamkan dan dilarang pada bulan-bulan ini dan lainnya, akan tetapi pada bulan-bulan ini sangat diharamkan.

As-Sya’di rahimahullah berkata (dalam tafsirnya) pada hal. 373: “Firman Allah;

‘فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

” Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Ada kemungkinan dhamir (kata ganti pada ayat tersebut) kembali kepada dua belas bulan. Dengan demikian, Allah menjelaskan bahwa bulan-bulan tersebut telah ditetapkan ketentuannya  bagi para hamba-Nya, agar mereka meramaikannya dengan ketaatan (kepadaNya) seraya bersyukur kepada Allah atas karunia yang Dia berikan kepadanya serta mengarahkannya untuk kebaikan para hamba dan agar tidak  melakukan perbuatan aniaya terhadap diri sendiri di dalamnya.

Ada kemungkinan dhamir (kata ganti pada ayat tersebut) kembali kepada empat bulan Haram. Ini berarati merupakan larangan khusus bagi mereka untuk berbuat zalim pada bulan-bulan itu, meskipun larangan berbuat zalim berlaku bagi setiap waktu.  Karena bobot keharamannya (di bulan haram) bertambah dan karena kezaliman pada (bulan-bulan haram) lebih berat dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”

Adapun puasa pada bulan Rajab, tidak ada ketetapan dari hadits yang shahih tentang keutamaan puasa dengan cara khusus atau suatu puasa apapun. Maka, apa yang dilakukan sebagian orang dengan mengkhususkan beberapa hari di (bulan rajab) dengan berpuasa seraya meyakini keutamaannya dibandingkan dengan (bulan-bulan) lain, adalah tidak ada asalnya dalam agama.

Memang ada sabda dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan dianjurkan berpuasa di bulan-bulan Haram (dan Rajab termasuk bulan Haram), sebagaimana Beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabada:

صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ :رواه أبو داود ، رقم 2428 وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود

“Berpuasalah di (bulan-bulan) Haram dan tinggalkanlah.”  (HR. Abu Daud, 2428 dan dilemahkan  oleh  Al-Bany dalam kitab Dhaif Abu Daud)

Hadits ini –kalaupun shahih- menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan Haram. Maka, barangsiapa berpuasa di bulan Rajab ini, lalu dia juga berpuasa di bulan-bulan Haram lainnya, maka  hal itu tidak mengapa. Sedangkan jika dikhusukan berpuasa pada bulan Rajab, maka tidak (dibolehkan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam ‘Majmu’ Fatawa, 25/290: “Adapun  berpuasa di Bulan Rajab secara khusus, semua haditsnya adalah lemah, bahkan palsu. Sedikitpun tidak dijadikan landasan oleh para ulama. Dan juga bukan kategori hadits lemah yang dapat diriwayatkan dalam bab   amalan utama (fadha’ilul a’mal). Mayoritasnya adalah hadits-hadits palsu dan dusta. Terkait riwayat yang terdapat dalam Musnad dan (kitab hadits) lainnya dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, bahwa  beliau memerintahkan untuk berpuasa pada bulan-bulan Haram yaitu Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram, yang dimaksud adalah anjuran berpuasa pada empat bulan semunya, bukan khusus Rajab.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah kebohongan yang diada-adakan.” (Al-Manar Al-Munif, hal. 96)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tabyinul Ujab, hal. 11: “Tidak ada hadits shahih yang layak dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak juga dalam puasanya atau puasa tertentu , begitu juga (tidak ada) qiyamullail tertentu di dalamnya.”

Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata dalam kitab Fiqih Sunnah, 1/383: “Puasa Rajab tidak ada keutamaan tambahan dibandingkan dengan (bulan-bulan) lainnya. Hanya saja ia termasuk bulan Haram. Tidak ada dalam sunnah yang shahih bahwa berpuasa mempunyai keutamaan khusus. Adapun (hadits) yang ada tentang hal itu, tidak dapat dijadikan hujjah.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang puasa dan qiyam pada malanya di hari kedua puluh tujuh di bulan Rajab, maka beliau menjawab:  ”Puasa dan qiyam pada malam di hari kedua puluh tujuh di bulan Rajab  serta mengkhususkan untuk itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Majmu  Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/440)

Hadist Tentang Anjuran Menikah

Alhamdulillah

Hadits pertama diriwayatkan Bukhori, (5066) dan Muslim, (1400) dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَابًا لَا نَجِدُ شَيْئًا فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ منكُم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ) .

“Kami para pemuda bersama Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak mempunyai harta apapun maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengatakan kepada kami, “Wahai para pemuda siapa diantara kalian yang mampu pembiayaan maka menikahlah. Karena ia dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan dan barang siapa yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa karena itu menjadi tameng baginya”.

Sementara hadits kedua diriwayatkan Bukhori, (5030) dan Muslim, (1425) dari Sahl bin Sa’d. bahwa ada wanita mendatangi Rasulullah sallallahu alahi wa sallam seraya berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي ، فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ ، فَلَمَّا رَأَتْ الْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا ، فَقَالَ : ( هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ ) ؟ فَقَالَ : لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ( اذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا ؟ ) ، فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ : لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا وَجَدْتُ شَيْئًا ، قَالَ : ( انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ ) ، فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ : لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ ، وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي – قَالَ سَهْلٌ : مَا لَهُ رِدَاءٌ – فَلَهَا نِصْفُهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ ؟ إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ شَيْءٌ ) ، فَجَلَسَ الرَّجُلُ حَتَّى طَالَ مَجْلِسُهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُوَلِّيًا فَأَمَرَ بِهِ فَدُعِيَ فَلَمَّا جَاءَ قَالَ : ( مَاذَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ؟) قَالَ : مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا – عَدَّهَا ، قَالَ : ( أَتَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ ؟ ) قَالَ نَعَمْ ، قَالَ : ( اذْهَبْ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ

“Wahai Rasulullah, saya datang untuk menghibahkan diriku untuk anda maka Rasulullah sallallahu alihi wa sallam melihat kepadanya dari atas sampai bawah dengan seksama kemudian beliau menundukkan kepalanya. Ketika wanita itu melihat tidak menginginkan apapun darinya, maka dia duduk lalu ada salah seorang sahabat berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, jikalau anda tidak membutuhkannya maka nikahkanlah saya dengannya. Beliau bertanya, “Apakah anda memiliki sesuatu? Dia menjawab, “Demi Allah tidak (memiliki sesuatu) wahai Rasulullah. Beliau mengatakan, “Pergilah ke keluarga anda, lihatlah apakah anda mendapatkan sesuatu? Maka dia pergi dan kembali seraya mengatakan, “Tidak mendapatkan apa-apa wahai Rasulullah. Beliau berkata, “Lihatlah meskipun hanya cincin dari besi? Maka dia pergi kemudian kembali, seraya mengatakan, “Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada meskipun cincin dari besi. Akan tetapi ini sarungku Sahl mengatakan, dia tidak memiliki selendang dia hanya memiliki separuhnya. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang anda lakukan dengan sarung anda? kalau anda memakainya, maka (wanita) itu tidak mendapatkan sesuatu. Kalau wanita itu yang memakianya, maka anda tidak mendapatkan sesuatu. Maka lelaki itu duduk sampai lama dalam majlisnya kemudian dia berdiri dan berpaling sementara Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam melihatnya. Maka beliau memerintahkan supaya memanggil pemuda tersebut. Ketika datang beliau bertanya, “Apa yang anda hafal dari Qur’an? Dia menjawab, “Saya menghafal surat ini, surat ini dan surat ini. Dihitungnya. Beliau berkata, “Apakah anda bisa membacanya dengan menghafalkannya? Dia menjawab, “Ya. Maka beliau bersabda, “Pergilah, saya telah berikan (nikahkan) dia (wanita) dengan Qur’an yang ada pada anda.

Alhamdulillah Dua hadits tidak saling kontradiksi. Akan tetapi masing-masing ada pada tempat khusus baginya. Hadits Ibnu Mas’ud ditujukan kepada para pemuda secara umum dan orang-orang yang ingin menikah secara umum. Untuk menjelaskan bahwa pernikahan harus ada biaya dan kecukupan agar dia mampu menikah menunaikan apa yang harus dilakukan dari nafkah, pakaian dan tempat tinggal.

Kata “Ba’ah” adalah biaya pernikahan dan syariat ingin menjelaskan pokok ini. Bahwa pernikahan bukan sekedar akad atau melampiaskan syahwat dalam kehalalan. Akan tetapi ia adalah tanggung jawab dan beban serta menempatkan posisi kepemimpinan lelaki atas wanita.

Menunjukkan juga bahwa yang belum mampu menikah dianjurkan menyibukkan diri dengan berpuasa. Karena ia dapat melemahkan syahwat dan mempersempit jalan masuk syetan dan hal itu merupakan diantara sebab iffah (menjaga diri) dan menundukkan pandangan. (Majmu Fatawa Ibnu Baz, (3/329).

Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam (Siapa diantara kamu yang mampu pembiayaan hendaklah dia menikah) sebagai dalil bahwa yang disyariatkan bagi yang telah mampu pembiayaan dan pendanaan nikah hendaklah dia bersegerah untuk menikah.

Para ulama Lajnah mengatakan, “Bersegera menikah bagi para pemuda itu sesuai sunah bagi yang mampu pembiayaan pernikahan. Serta menunaikan hak-hak pernikahan.” Dinukil dari “Fatawa Lajnah Daimah”, (6/18). Silahkan merujuk jawaban soal no. 9262.

Sementara hadits yang lainnya adalah permasalahan khusus. permasalah yang dikhususkan bagi seorang fakir yang ingin menikah dan menjaga diri (ifah) maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam menikahkannya dengan wanita yang datang menghibahkan dirinya untuk Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Hal itu menunjukkan bahwa fakir itu sendiri tidak menghalangi untuk menikah kalau suami orang yang beragama, bagus keyakinan kepada Tuhannya begitu juga wanitanya. Karena hal itu seperti Firman Allah Ta’ala:

( وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ) النور/ 32

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunianya-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” QS. An-Nur: 32.

Dengan ketawakkalan yang bagus, ingin menjaga diri dan mencari keutamaan disisi Allah. diharapkan orang yang menikah seperti ini dapat bantuan Allah. dan diberi rizki dari keutamaan-Nya. Sebagaimana yang diriwayatkan Tirmizi, (1655) dan dinyatakan hasan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

( ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ ) وحسنه الألباني في “صحيح الترمذي” .

“Tiga orang yang  Allah berhak membantunya, orang yang berjihad di jalan Allah. budak (yang bersepekat dengan majikannya untuk merdeka) dia ingin menunaikannya. Orang yang menikah yang ingin menjaga diri.” Dinyatakan hasan oleh Albani di Shoheh Tirmizi.

Imam Bukhori rahimahullah telah membuat bab dalam hadits dengan ungkapan ”Bab Tazwijul Mu’sir” (Bab Menikahnya orang yang kesulitan). Berdasarkan Firman Allah Ta’ala: “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya”, Al-hafidz rahimahullah mengatakan, “Perkataan imam bukhori, “berdasarkan firman Alloh” (Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya) adalah sebab hukum dalam membuat bab. Kesimpulannya bahwa kondisi kefakiran sekarang tidak menghalangi untuk menikah karena ada kemungkinan seseorang mendapatkan harta pada waktu mendatang.”

Ali bin Abi Tolhah mengatakan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, “Allah menganjurkan untuk menikah dan memerintahkan orang yang merdeka dan hamba sahaya serta memberikan janji kepada mereka dengan kemampuan seraya berfirman “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya”.

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata, “Carilah kekayaan (kemampuan) dalam pernikahan.” Tafsir Ibnu Katsir, (6/51).

Syekh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan, “Allah Subahanahu memerintahkan dalam ayat yang mulia ini untuk menikahkan orang sendiri yang layak dari kalangan hamba lelaki dan perempuan. Dan memberitahukan bahwa Dia pasti benar dalam beritanya. Hal itu merupakan diantara sebab keutamaan bagi orang fakir agar para suami dan para wali wanita tenang bahwa kefakiran bukan menghalangi pernikahan. Bahkan, ia termasuk diantara sebab rezki dan kemampuan.” Selesai dari ‘Fatawa Islamiyah, (3/213).

Anjuran orang yang mampu untuk menikah maksudnya bukan menghalangi yang tidak mampu dari menikah terutama kalau khawatir dirinya dari kemaksiatan.

Dan adapun arahan orang yang belum mampu dengan berpuasa untuk menahan dan meredakan syahwat itu juga tidak menghalngi untuk mencari pernikahan. Terkadang ada orang yang membantunya untuk menikah, terkadang dijumpai orang yang ridho dengan kondisinya karena agama dan kebaikannya. Ini adalah permasalahan pribadi. Berbeda dengan perbedaan kondisi dan adat istiadat. Kandungan dalam hadits Ibnu Mas’ud adalah adab secara umum dan memberikan arahan bagi yang belum mampu menikah agar menjaga dirinya dengan berpuasa. Siapa yang mendapatkan sarana untuk menikah, maka tidak mengapa bahkan dianjurkannya. Oleh karena itu ketika mengatakan (Siapa yang belum mampu) tidak mengatakan (Jangan menikah) akan tetapi dikatakan (Hendaklah dia berpuasa) agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Sementara kalau dia mampu menikah disertai dengan sedikit beban dan kesulitan maka tidak mengapa hal itu tanpa diragukan. Sesungguhnya dijadikan puasa itu sebagai pengganti ketika tidak mampu. Kalau asalnya dia mampu, maka itu lebih utama meskipun dengan beban biaya.

Wallahu a’lam .

Surat Al Mulk Menyelamatkan dari Siksa Kubur

Alhamdulillah

Surat al Mulk adalah termasuk surat yang agung dalam al Qur’an yang ada riwayat menyuruh kita untuk selalu membacanya, sebuah atsar juga menjelaskan bahwa surat al Mulk akan menjaga orang yang menghafalnya dari siksa kubur.

Abu Dawud (1400) dan Tirmidzi (2891) meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

( إِنَّ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ ) وحسنه الألباني في صحيح الترمذي .

“Sungguh sebuah surat dalam al Qur’an yang jumlah ayatnya 30 ayat, (diizinkan) untuk memberi syafa’at kepada seseorang sampai ia diampuni, surat tersebut adalah surat Tabarak”.

Al Manawi –rahimahullah- berkata: “Bahwa beliau selalu membacanya, dan surat tersebut senantiasa memohonkan ampun kepada Allah sampai Dia mengampuninya, ini adalah perintah bagi setiap orang agar selalu membacanya agar mendapatkan syafa’atnya”. (Mukhtashar Faidhul Qadir: 2/574)

Syeikh Abdul Muhsin al ‘Ibad –hafidzahullah- berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaannya, dan ia (diizinkan) untuk memberikan syafa’at kepada orang yang membacanya pada hari kiamat”. (Syarh Sunan Abu Daud: 8/7 sesuai dengan Maktabah Syamilah)

Keutamaan bahwa surat ini (diizinkan) memberi syafa’at kepada yang membacanya, tidak berkaitan dengan waktu siang atau malam, namun makna yang jelas adalah ketika yang membacanya menaruh perhatian khusus pada surat ini, memelihara hukum-hukumnya, menghafal, memahami, membacanya di dalam shalatnya.

Adapun yang diriwayatkan oleh an Nasa’i dalam “Sunan Kubra” 10547, dan dalam “Amanl Yaum wal Lailah” 711, dan Abu Thahir al Mukhlis dalam “Al Mukhlashiyat” 228, dari jalur ‘Irfijah bin Abdul Wahid, dari ‘Ashim bin Abi Nujud, dari Zirr, dari ‘Abdullah bin Mas’ud berkata:

من قَرَأَ ( تبَارك الَّذِي بِيَدِهِ الْملك ) كل لَيْلَة مَنعه الله بهَا من عَذَاب الْقَبْر ، وَكُنَّا فِي عهد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم نسميها الْمَانِعَة ، وَإِنَّهَا فِي كتاب الله سُورَة من قَرَأَ بهَا فِي كل لَيْلَة فقد أَكثر وأطاب ) .

“Barang siapa yang membaca surat Tabarak setiap malam, Allah akan melindunginya dari siksa kubur, dan kami pada masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menamakannya “Surat Pelindung/Penghalang”. Dan ia adalh termasuk surat dalam al Qur’an yang bagi siapa saja yang membacanya setiap malam, maka ia melakukan amalan baik dan banyak”.

Sanadnya lunak/lemah, ‘Irfijah bin Abdul Wahid terhalang, yang lain tidak mempercayainya, al Hafidz berkata dalam “at Taqriib” 389: “bisa diterima, yaitu; ketika diurutkan, dan jika tidak, maka sanadnya lemah”.

‘Irfijah dalam periwayatannya tidak mengikutinya dengan sempurna, tetapi ia tidak disepakati oleh rawi yang lebih kuat, yaitu; Sufyan ats Tsauri. Maka Hakim 3839 meriwayatkan dari jalur Ibnu Mubarak dan Thabrani dalam “al Kabiir” dari jalur Abdur Razzaq 8651, keduanya dari Sufyan, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

( يؤتى الرجل في قبره فتؤتى رجلاه فتقول رجلاه : ليس لكم على ما قبلي سبيل كان يقرأ بي سورة الملك ، ثم يؤتى من قبل صدره أو قال بطنه فيقول : ليس لكم على ما قبلي سبيل كان يقرأ بي سورة الملك ، ثم يؤتى رأسه فيقول ليس لكم على ما قبلي سبيل كان يقرأ بي سورة الملك . قال : فهي المانعة تمنع من عذاب القبر ، وهي في التوراة سورة الملك ، من قرأها في ليلة فقد أكثر وأطنب ) .

“Ketika seseorang di dalam kuburnya didatangkan adzab, maka kedua kakinya berkata: kalian tidak bisa menjangkaunya; karena ia dahulu membaca surat al Mulk, lalu didatangkan dadanya atau perutnya berkata:  kalian tidak bisa menjangkaunya; karena ia dahulu membaca surat al Mulk, lalu didatangkan kepalanya, dan berkata: kalian tidak bisa menjangkaunya; karena ia dahulu membaca surat al Mulk. Ia berkata: Maka, ia (surat al Mulk) adalah pelindung/penjaga, dan di dalam Taurat juga surat al Mulk, barang siapa yang membacanya pada malam hari, maka ia telah melakukan banyak hal dan panjang”.

Inilah yang benar dan yang dihafal, maka perkataan beliau (Ibnu Mas’ud):

” من قَرَأَها كل لَيْلَة مَنعه الله بهَا من عَذَاب الْقَبْر “

“Barang siapa yang membacanya setiap malam, maka Allah akan menjaganya dari siksa kubur”.

Yang ada dalam hadits ‘Irfijah tidak dihafal, penyebutan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga tidak dihafal, yang benar adalah hadits itu mauquf, sebagaimana dalam riwayat Sufyan ini.

Abu Syeikh telah meriwayatkan dalam “Thabaqat al Ashbahaniyyin” 246, secara ringkas, marfu’ dari hadits Ibnu Mas’ud dengan redaksi:

( سورة تبارك هي المانعة من عذاب القبر ) من طريق أبي أحمد الزبيري حدثنا سفيان به.

“Surat Tabarak adalah pelindung/penghalang dari siksa kubur”. (Dari jalur Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan)

Ahmad berkata tentang Abu Ahmad az Zubairi: “Bahwa ia banyak salahnya tentang hadits Sufyan”. Abu Hatim berkata: “Ia seorang ahli ibadah, mujtahid, penghafal hadits yang memiliki banyak kesalahan”. (Tahdzibud Tahdzib: 9/228)

Ini adalah kesalahannya kepada Sufyan –rahimahullah-, yang benar adalah mauquf sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dari riwayat Ibnu Mubarak dan Abdur Razzaq.

Seperti ini bisa dikatakan, bisa dianggap marfu’, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh beberapa ulama, dan ini sesuai dengan sebelumnya. Gambaran secara umum adalah tidak hanya dibaca pada malam hari.

Al Manawi berkata dalam “at Taisiir” 2/62, “…yaitu: ia (surat al Mulk) akan menghalanginya, jika yang membacanya telah meninggal dunia dan dikuburkan, maka ia tidak disiksa didalamnya”.

Abu Hasan al Mubarakfuri –rahimahullah- berkata:

“Artinya, bahwa membaca surat ini ketika di alam dunia, menjadi sebab keberhasilannya pada alam setelahnya yaitu; adzab kubur”. (“Mir’aatul Mafatiih” 7/231)

Dan dalam hadits Jabir –radhiyallahu ‘anhu- “bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak tidur sampai beliau membaca (Alif Laam Miim Tanziil…), dan (Tabarakal Ladzi Biyadihil Mulk)”.

Yang diriwayatkan oleh Tirmidzi 2892, dan yang lain. Dan dishahihkan oleh Syeikh al Baani –rahimahullah-, namun yang jelas bahwa hadits tersebut bermasalah, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dari bapaknya dalam “al ‘Ilal” 1668, Ad Daruqutni 13/340 juga mempermaslahkan, dan didukung oleh al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah-, sebagaimana dalam “Ithaful Muhirrah” 3/155, ia juga berkata setelah menyebutkan tentang sanadnya: “dan atas dasar ini, maka hadits ini mursal atau mu’dhal”. (Nata’ijul Afkaar3/267)

Kesimpulan:

Bahwa diharapkan bagi yang membaca/menghafal surat ini akan mendapatkan keutamaan yang agung tersebut. Dan ia memberikan syafa’at dengan izin Allah, melindunginya dari adzab kubur, dan juga secara khusus pada malam hari, atau sebelum tidur. Jika seseorang berusaha untuk meraihnya, maka itu baik –insya Allah-.

Wallahu a’lam.

Diantara Macam Kekufuran Adalah Kufur Keraguan

Diriwayatkan Bukhori, (86) dan Muslim, (905) dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أُوحِيَ إِلَيَّ: أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ ، يُقَالُ : مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ ؟ فَأَمَّا المُؤْمِنُ أَوِ المُوقِنُ فَيَقُولُ: هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّه ِ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالهُدَى ، فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا، هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلاَثًا، فَيُقَالُ: نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ ، وَأَمَّا المُنَافِقُ أَوِ المُرْتَابُ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

“Sesungguhnya kamu semua akan diuji dalam kuburan. Dikatakan, “Apa pengetahuan anda tentang orang ini? Kalau orang mukmin atau orang yang yakin akan menjawab, “Dia adalah Muhammad seorang utusan. Allah memberikan wahyu kepadanya. Datang kepada kami dengan penjelasan dan petunjuk. Maka kami menjawab dan mengikutinya. Dia adalah Muhammad tiga kali. Dikatakan, “Tidur dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa anda termasuk orang yang meyakininya. Sementara orang munafik atau orang yang ragu dia akan menjawab, “Saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka saya ikut mengatakannya.

Syekh Abdul Aziz Ar-Rojihi hafidhahullah mengatakan, “Seseorang dihukumi kafir dengan keraguannya. Kalau dia ragu akan Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Surga atau neraka. Seraya dia mengatakan, “Saya tidak mengetahui apa ada surga atau tidak ada surga. Apa ada neraka atau tidak ada neraka? Dihukumi kafir dengan keraguan semacam ini.” Selesai

Diterjemahkan dari:

https://saaid.net/Minute/m51.htm

Larangan Memutuskan Hubungan

Alhamdulillah…

“Tidak bertegur sapa atau memutuskan hubungan dengan sesama muslim tidak dibolehkan; karena Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

لا يحل لرجل أن يهجر أخاه المسلم فوق ثلاث ، يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا وخيرهما الذي يبدأ بالسلام :رواه البخاري، رقم  5727  ومسلم، رقم 2560

“Tidak halal bagi seseorang apabila ia memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan Salam.” (Hadits Riwayat AI  Bukhari, no. 5727  dan Muslim, no. 2560)

Terlebih lagi saudara yang sedang diputuskan ini adalah seorang mukmin yang sangat dekat dengan anda, bisa jadi dia adalah saudara, keponakan, paman, saudara sepupu maka sesungguhnya memutuskan hubungan dengan mereka dalam hal ini sangat besar dosanya. Kecuali jika mereka ini dalam kondisi bermaksiat kepada Allah maka memutuskan mereka dikategorikan sebagai kemaslahatan sekiranya bertujuan agar dia menghentikan kemaksiatannya, dalam hal ini tidak bertegur sapa dibolehkan karena masuk dalam kategori menghilangkan kemungkaran.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda :

من رأى منكم منكراً فليغيّره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان :رواه مسلم، رقم 49

“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia merobahnya dengan tangannya, apabila dia tidak mampu merobah dengan tangannya maka dengan lisannya, dan apabila tidak mampu merobah dengan lisannya maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya keimanan” (Hadits riwayat Muslim, no. 49 ).

Dilihat dari asal syari’atnya memutuskan hubungan dengan sesama Mukmin itu hukumnya haram sehingga terdapat unsur-unsur yang menunjang untuk dibolehkannya melakukan pemutusan ini.”

(Lihat ‘Fatawa manaarul Islam’  karangan Ibnu Utsaimin, juz :3, halaman : 732)

Dan Waliyyuddin Al ‘Iraqi berkata :

“Kontek Pengharaman memutuskan hubungan dengan sesama ini jika bersumber dan muncul dari kemarahan pribadi pada hal-hal yang dibolehkan yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan agama. Adapun pemutusan hubungan untuk maslahah keagamaan seperti; kemaksiatan, bid’ah dan lain sebagainya, maka tidak dilarang, karena dahulu Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah memberikan perintah kepada para sahabat yang lain agar memutuskan hubungan dengan Ka’ab Bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin ar Robi’ Radliyallahu Anhum.

Ibnu Abdi Al Barr berkata: “Dan didalam Hadits Ka’ab ini merupakan dasar dan dalil bahwasannya dibolehkan untuk memutuskan hubungan dan tidak bertegur sapa dengan sesama muslim jika memang jelas dan nampak dia telah melakukan Bid’ah ataupun kekejian, sehingga memutuskan hubungan dengannya merupakan bentuk pengingkaran agar menjadi pelajaran bagi dia dan agar meninggalkan perbuatan buruknya.”

Abu Al Abbas Al Qurthubi mengatakan : “Adapun memutuskan hubungan karena sebab kemaksiatan dan bid’ah maka hal ini memang patut diberikan sampai dia bertaubat kepada Allah dan tidak ada satu ulama-pun yang menentang akan hal ini.

Ibnu Abdi Al Barr -pun berkata: Para ulama bersepakat bahwasannya tidak diperkenankan bagi seorang muslim memutuskan hubungannya dengan sesama Muslim yang lain melebihi tiga hari, melainkan jika memang ia khawatir apabila berhubungan dan mengajak bicara dengannya itu akan mengakibatkan kerancuan dalam beragama atau akan menimbulkan dalam dirinya apa yang bisa membahayakan urusan agama dan dunianya. Jika memang itu yang dikhawatirkan akan terjadi apabila berhubungan dengan pelaku maksiat maka dibolehkan menjauhinya. Boleh jadi orang yang kelihatannya keras tapi memiliki hati yang mulia, itu lebih baik daripada orang yang sering bercengkerama dan bergaul dengan kita tapi seringkali pula dia menyakiti kita.” Diambil dari kitab “ Thorhu At Tatsrieb” ( 8/99 ).

Dan yang patut anda lakukan jika saudara anda melakukan dosa dan hal-hal yang haram, anda segera menasehatinya dan menjelaskan tentang keharaman apa yang telah dia lakukan dengan menerangkan bahwasannya hal semacam ini tidak dibolehkan kemudian mengingatkannya kepada Allah.

Namun, apabila setelah dia diberikan nasehat dan dia tetap melakukan kemaksiatannya dan anda mempunyai prinsip bahwa dengan memutuskan hubungan dengannya akan bisa merubah keadaannya, maka hal ini dibolehkan sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Adapun jika itu hanya sekedar prilaku teman yang anda tidak setuju dengannya atau perbedaan sudut pandang yang tidak sepakat antara anda dan teman anda, apalagi kalau teman anda tahu bahwa anda tidak sepakat dengan perbuatan dan sikapnya atau anda menganggap salah dalam sudut pandangnya kemudian anda menyikapinya dengan memutuskan hubungan dengannya, hal itu merupakan bentuk penolakan dan ketidaksepakatan anda pada teman anda. Maka hal ini menunjukkan bisa jadi memang anda semenjak awal tidak bisa menerima perbedaan dengan teman anda. Sesungguhnya hal ini tidak dianggap dan dikategorikan yang diperkenankan oleh syari’at terlebih lagi memutuskan hubungan dengannya lebih dari tiga hari.

Telah dijelaskan dan difatwakan oleh As Syaikh Ibnu Utsaimin bahwasannya asal hukum dari memutuskan hubungan sesama muslim adalah haram, kecuali jika ada unsur-unsur yang membolehkannya.

 

Dan patut bagi setiap muslim memiliki hati yang lapang, senantiasa memberikan nasehat pada saudaranya dan mampu untuk menghadapi sisi buruk atau kekurangan-kekurangan mereka  dan tidak terburu-buru untuk menjadikan dan mengambil solusi yang bisa jadi itu akan menjadi sebab perpecahan dan pemutusan hubungan yang diharamkan. Semoga Allah memberikan Taufiq-Nya pada semuanya terhadap apa yang dicintai dan diridloin-Nya, dan Shalawat serta Salam Atas Nabi kita Muhammad..

Soal Jawab Tentang Islam