Hukum Berpartisipasi Pada Hari Raya Orang Kafir

Ikut serta dalam Hari Raya orang kafir bersama mereka tidak boleh, berdasarkan hal-hal berikut:Pertama: itu berarti menyerupai mereka. Nabi bersabda:

“Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dikatakan oleh Al-Albani -Rahimahullah– : “Hasan shahih.” (Shahih Abu Dawud II : 761)

Ini merupakan ancaman keras. Abdullah bin Amru bin Ash Radhiallahu ‘anhuma pernah menyatakan: “Barangsiapa yang tinggal di negeri kaum musyrikin dan mengkuti acara Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu meniru mereka hingga mati, ia akan merugi di Hari Kiamat nanti.”

Kedua: Ikut serta berarti juga menyukai dan mencintai mereka

Allah berfirman:

“Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai wali kalian..”

Demikian juga Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman; janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh kalian sebagai wali yang kalian berikan kepada mereka kecintaan padahal mereka telah kafir terhadap kebenaran yang datang kepada mereka..”

Yang ketiga: Hari Raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan dalam hadits: “Setiap kaum memiliki Hari Raya, ini adalah Hari Raya kita..” Hari Raya mereka mengekspresikan akidah mereka yang rusak, penuh syirik dan kekafiran.

Keempat: “Dan mereka-mereka yang tidak menghadiri kedustaan (kemaksiatan)..” ditafsirkan oleh para ulama bahwa yang dimaksud dengan kedustaan dalam ayat itu adalah Hari-hari Raya kaum musyrikin. Sehingga tidak boleh menghadiahkan kepada mereka kartu ucapan selamat, atau menjualnya kepada mereka, demikian juga tidak boleh menjual segala keperluan Hari Raya mereka, baik itu lilin, pohon natal, makanan-makanan; kalkun, manisan atau kue yang berbentuk stik atau tongkat dan lain-lain.

 

Refrensi: Syekh Muhammad Sholeh Al-Munajid

Kemudahan Memeluk Agama Islam

Di antara keindahan agama Islam adalah bahwa hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya tidak ada perantara, termasuk bentuk keindahan agama Islam adalah bahwa memeluknya tidak membutuhkan proses yang harus diselesaikan di hadapan seseorang, atau menunggu persetujuan orang-orang tertentu, bahkan memeluk agama Islam adalah mudah tidak repot bisa dilakukan oleh siapapun, meskipun dia seorang diri di tengah padang pasir atau di dalam ruangan yang tertutup, bahwa semua itu hanya cukup mengucapkan dua kalimat yang mengandung arti dari agama Islam seluruhnya, keduanya mencakup pengakuan akan penghambaan manusia kepada Tuhannya, bentuk kepasrahan kepada-Nya, dan pengakuannya bahwa Dia adalah Tuhan, Penguasa dan sebagai Hakim sesuai dengan kehendak-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Nabi-Nya yang wajib diikuti dengan wahyu yang telah diwahyukan kepadanya oleh Tuhannya, dan bahwa taat kepada beliau merupakan bentuk taat kepada Allah -‘Azza wa Jalla-, maka barang siapa yang mengucapkan kedua kalimat syahadat dengan penuh keyakinan dan keimanan, maka dia sudah menjadi seorang muslim dan menjadi bagian dari umat Islam yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan mereka, setelah itu ia sudah harus memulai untuk mengerjakan apa yang diwajibkan oleh Allah, seperti melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya, puasa pada bulan Ramadhan dan lain-lain. Dari sini menjadi jelas bagi anda wahai penanya yang baik pemikirannya, bahwa anda langsung bisa menjadi seorang muslimah, maka segera bangkit, mandi dan ucapkanlah:

” أشهد أن  لا إله إلا الله وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله ”

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya”.

Untuk penjelasan lebih rinci maka bacalah pada kolom “memeluk agama Islam” pada halaman ini.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada anda dalam kebaikan dan menetapkan langkah anda, dan semoga Allah menetapkan kebahagiaan di dunia dan akhirat dan semoga kesejahteraan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.

 

Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid

Ringkasan Tentang Bulan Shafar

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah wa ba’du:

Bulan shafar adalah salah satu dari dua belas bulan hijriyah. Yaitu bulan setelah Muharam. Sebagian mengatakan, “Dinamakan hal itu kerena kekosongan Mekkah dari penduduknya (Maksudnya kosong dari penduduknya) ketika mereka bepergian. Dikatakan, dinamakan bulan shafar karena mereka para kabilah pergi berperang dan meninggalkan siapa yang ditemuinya barang bawaannya tanpa sisa (maksudnya merampas barang bawaannya sehingga tidak punya barang sama sekali). Silahkan melihat Lisanul Arab, karangan Ibnu Munzir juz/4 hal/462-463.

Pembahasan tentang bulan ini mencakup beberapa point berikut:

1.       Apa yang ada menurut Arab Jahiliyah

2.       Apa yang ada dalam syariat yang berbeda dengan penduduk jahiliyah

3.       Apa yang ada dalam bulan ini berupa bid’ah, keyakinan sesat dari orang yang menyandarkan ke agama Islam

4.       Kejadian pada bulan ini dari peperangan dan kejadian penting pada kehidupan Nabi sallallahu alaihi wa sallam

5.       Hadits dusta yang ada di bulan Shafar

Pertama:

Apa yang ada menurut Arab Jahiliyah

Dahulu orang Arab pada bulan shafar dua kemungkaran besar, pertama mempermainkan di dalamnya mengedepankan dan mengakhirkan. Kedua, pesimis darinya

1.                   Telah diketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan setahun dan dua belas bulan. Allah telam menjadikan diantaranya empat bulan haram. Diharamkan di dalamnya peperangan untuk mengagungkannya. Bulan-bulan ini adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab. Yang membenarkan hal itu dalam kitab Allah dalam firmanNya:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم  (سورة التوبة: 36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Orang-orang musyrik telah mengetahui akan hal itu. Akan tetapi mereka mengakhirkan dan memajukan sesuai hawa nafsunya. Di antaranya adalah mereka menjadikan bulan ‘Shafar’ pengganti dari bulan ‘Muharam’.

Mereka meyakini bahwa umrah pada bulan haji termasuk perilaku yang sangat jelek.

Ini di antara pendapat ahli ilmu akan hal itu:

A.      Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata,

كانوا يرون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور في الأرض ، ويجعلون المحرَّم صفراً ، ويقولون : إذا برأ الدَّبر ، وعفا الأثر ، وانسلخ صفر : حلَّت العمرة لمن اعتمر (رواه البخاري، رقم 1489 ومسلم، رقم 1240)

“Mereka dahulu berpendapat bahwa umrah di bulan Haji kedurhakaan paling besar  di muka bumi. Mereka menjadikan Muharam sebagai bulan Shafar. Mereka mengatakan: Jika onta jamaah haji telah kembali, bekas-bekas tapak kakinya telah hilang, bulan shafar telah habis,

maka dihalalkan umrah bagi yang ingin menunaikan umrah.” (HR. Bukhari, no. 1489 dan Muslim, no. 1240).

B.      Ibnul Arabi mengatakan, “Permasalahan kedua, tentang mengakhirkan,  itu ada tiga pendapat:

Pertama, dari Ibnu Abbas bahwa Junadah bin Auf bin Umayyah Al-Kinany biasanya menunaikan musim tiap tahun. Sambil memanggil, “Ketahuilah bahwa Abu Tsumamah tidak dicela dan tidak dijawab. Ketahuilah bahwa bulan shafar pada tahun pertama halal. Lalu kami haramkan pada tahun ini dan kita halalkan tahun berikutnya. Mereka bersama kabilah Hawazin, Gotofan dan Bani Salim.

Dalam redaksi lain, “Bahwa dia mengatakan,”Kita dahulukan Muharam dan akhirkan Safar. Kemudian ketika datang tahun kedua, dia mengatakan, “Kita jadikan bulan haram adalah bulan Shafar dan akhirkan Muharam. Maka inilah yang dimaksud mengakhirkan.

Kedua: menambah. Qatadah mengatakan, “Kaum ahli Dholal sengaja menambah Shafar dalam bulan Haram, maka pemimpin mereka berdiri waktu musim (haji) dan mengatakan, “Ketahuilah bahwa tuhan kalian pada tahun ini telah mengharamkan bulan Muharam, sehingga mereka mengharamkannya pada tahun itu. Kemudian pada tahun depan dia berdiri dan mengatakan, “Ketahuilah bahwa tuhan kalian mengharamkan bulan Shafar, maka mereka mengharamkannya pada tahun itu dan mereka menyebutnya dengan istilah ‘dua Shafar’. Diriwayatkan Ibnu Wahb, Ibnu Qasim dari Malik dan semisalnya mengatakan, “Dahulu penduduk jahiliyah menjadikan dua Shafar. Oleh karena itu Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada Shafar.” Begitu juga yang diriwayatkan dari Asyhab darinya.

Ketiga:  Mengganti haji, Mujahid mengatakan dengan sanad yang lain firman Allah:

إنما النسيء زيادة في الكفر

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.” (QS. At-Taubah: 37).

Beliau mengatakan, “Mereka menunaikan haji pada bulan Dzulhijjah selama dua tahun. Kemudian menunaikan haji pada bulan Muharam selama dua tahun. Kemudian mereka menunaikan haji pada bulan Shafar selama dua tahun. Sehingga mereka menunaikan haji pada setiap tahun pada setiap bulan selama dua tahun. Sampai Abu Bakar menunaikan haji pada bulan Dzulhijjah.

Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa sallam menunaikan pada bulan Dzulhijjah. Itulah ucapan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam hadits shoheh dalaml khutbahnya, “Sesungguhnya waktu berputar seperti kondisi Allah hari Allah menciptakan langit dan bumi.’

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan lainnya dan dengan redaksina mengatakan, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, dengarkan perkataanku, sesungguhnya saya tidak tahu apakah saya akan bertemu dengan kalian semua lagi setelah hari ini, di tempat wukuf ini. Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta kalian terlindungi sampai hari engkau semua bertemu dengan tuhanmu (hari kiamat), sebagaimana kehormatan hari ini, di bulan ini, di negaramu ini. Sesungguhnya kamu kalian akan bertemu dengan tuhan kalian dan Dia akan menanyakan amal kamu semua. Sungguh saya telah menyampaikan. Siapa yang mempunyai amanah, hendaklah dia tunaikan kepada orang yang diamanahinya. Sesungguhnya setiap riba telah dihapus. Bagi kamu semua modal utamanya. Jangan mendholimi dan jangan didholimi. Allah telah memutuskan tidak ada riba. Sesungguhnya riba Abbas bin Abdul Mutolib telah dihapus semuanya. Semua bentuk darah waktu jahiliyah dihapus. Dan darah yang pertama kali saya hapus adalah darah Ibnu Robi’ah bin Harist bin Abdul Mutolib. Dahulu yang meminta dihapus ada di Bani Laits dan dibunuh oleh huzail. Dan ini yang pertama kali saya memulai dari darah Jahiliyah.

Amma baa’du, Wahai manusia sesungguhnya setan telah berputus asa disembah di tanah air kamu semua. Akan tetapi kalau dia mentaatinya dalam perkara selain dari itu berupa amal yang kamu anggap remehkan, maka dia akan rela. Maka jagalah wahai manusia agama kalian. “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.” Yang dapat menyesatkan orang-orang kafir dari perkataannya apa yang diharamkan oleh Allah. Sesungguhnya waktu berputar sejak saat Allah menciptakan langit dan bumi. Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alah itu dua belas bulan. Empat bulan diantaranya adalah bulan haram. Tiga bulan berturut-turut dan Rajab Mudhor antara Jumadil Tsani dan Sya’ban. Kemudian disebutkan hadits secara keseluruhan.” Ahkamul Quran, (2/502-503).

2.                   Adapun sifat pesimis pada bulan Shafar, hal itu telah dikenal pada penduduk Jahiliyah dan hal itu masih tersisa kepada sebagian orang yang menyandarkan kepada Islam.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallalm bersabda,

لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد (رواه البخاري، رقم  5387 ومسلم، رقم 2220 ) .

“Tidak ada penyakit menular, thiyarah dan burung hantu dan shafar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari, no. 5387 dan Muslim, no 2220).

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shafar ditafsiri dengan banyak penafsiran:

Pertama, bahwa ia adalah bulan shafar yang dikenal dan orang arab pesimis dengannya

Kedua, ia adalah penyakit perut yang menyerang unta. Dan ia berpindah dari satu unta ke unta lainnya. Maka kata sambungnya mengikuti ‘Adwa (penyakit menular). Termasuk dalam bab menyebutkan perkara khusus kepada yang umum.

Ketiga, shafar, bulan shafar maksudnya adalah mengulur-ulur dimana orang kafir tersesat denganya. Mereka mengakhirkan pengharaman bulan muharam ke bulan Shafar, sehingga mereka menghalalkan setahun dan mengharamkan setahun.

Yang paling kuat adalah bahwa maksdunya disini adalah bulan Shafar, dimana orang Jahiliyah pesimis dengannya. Adapun waktu tidak ada pengaruhnya dalam takdir Allah Azza Wajalla. Ia dengan waktu lainnya sama saja, ditakdirkan di dalamnya kebaikan dan keburukan.

Sebagian manusia kalau selesai dari suatu amalan tertentu pada hari keduapuluh lima –contohnya- dari bulan Shafar, menulis tanggal pada hari itu dengan mengatakan, “Telah selesai tanggal duapuluh lima di bulan Shafar yang bagus. Ini termasuk mengobati bid’ah dengan bid’ah. Ia bukan bulan baik tidak juga bulan jelek. Oleh karena itu, sebagian ulama’ salaf mengingkari orang yang ketika mendengar suara burung hantu dia mengatakan, “Baik insyaalah. Jangan katakan baik dan buruk. Burung itu  hanya berkicau seperti kicauan burung lainya.”

Empat hal yang dinafikan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menunjukkan kewajiban bertawakkal kepada Allah dan kesungguhan dalam niat kuat dan jangan lemah niat di depan perkara-perkara ini.

Kalau seorang muslim menemui perkara ini, dalam benaknya tidak lepas dari dua hal:

Pertama, kemungkinan dia mengikuti perasaannya apakah melanjutkan atau membatalkan. Maka waktu itu prilakunya digantungkan dengan sesuatu yang tidak ada hakekat (kenyataannya) sama sekali.

Kedua, tidak mengikuti dengan terus melanjutkan dan tidak memperdulikan. Akan tetapi dalam dirinya masih tersisa sedih dan gundah gulana. Hal ini meskipun lebih ringan dari yang pertama, akan tetapi seharusnya secara tegas menghalau perasaan ini. Hendaknya dia hanya bersandar kepada Allah Azza wa jalla.

Meniadakan empat perkara ini, bukan meniadakan keberadaannya. Karena semua itu memang ada. Akan tetapi meniadakan pengaruhnya. Sebab yang memberikan pengaruh adalah Allah. Jika perkaranya memiliki sebab yang diketahui, maka itu adalah sebab yang dibenarkan. Sementara kalau itu sebab yang tidak jelas, maka itu termasuk sebab batil. Maka, masalah meniadakan pengaruh itu masalah tersendiri adapun masalah sebab itu lain lagi.”  (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, (2/113, 115).

Kedua:

Apa yang ada dalam syariat yang berbeda dengan kaum jahiliyah.

Telah ada tadi hadits shahih dari Abu Hurairah dalam kedua kitab shahih (Bukhiri dan Muslim), di dalamnya ada penjelasan bahwa keyakinan kaum jahiliyah dalam bulan Shafar itu tercela. Ia adalah bulan di antara bulan Allah, dia tidak memiliki kehendak, sesungguhnya dia berlalu atas kehendak Allah.

Ketiga:

Bid’ah dan keyakinan rusak yang terjadi pada bulan ini bagi orang yang menyandarkan kepada Islam.

1.                   Lajnah Daimah ditanya, “Sebagian ulama’ di negara kami menyangka bahwa dalam agama Islam ada shalat Sunnah yang dilakukan pada hari Rabu akhir bulan Shafar pada waktu shalat Dhuha empat rakaat dengan satu kali salam. Dibaca pada setiap rakaat, fatihatul kitab (surat Al-Fatihah), surat Al-Kautsar tujuh belas kali, surat Al-Ikhlas lima puluh kali, muawidzatain sekali sekali, malakukan hal itu pada setiap rakaat dan salam. Ketika salah dianjurkan membaca ayat :

{ الله غالب على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون }

“Allah yang akan mengalahkan urusannya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. “ dibaca tigaratus enampuluh kali, membaca Jauharul kamal tiga kali, diakhiri dengan bacaan:

بسبحان ربك رب العزة عما يصفون ، وسلام على المرسلين ، والحمد لله رب العالمين .

“Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” As-Shofaat: 180-182.

Dan bersedekah dengan sedikit roti kepada orang-orang fakir, khusus ayat ini, untuk menolak bencana yang turun pada hari rabu akhir di bulan Shafar.

Ungkapan mereka bahwa akan turun setiap tahun tigaratus duapuluh ribu bencana. Semua itu terjadi pada hari rabu akhir di bulan Shafar, sehingga hari itu termasuk hari tersulit dalam setahun. Siapa yang menunaikan shalat ini dengan cara tadi, maka Allah akan menjaga dengan kemulyaan-Nya dari semua bencana yang turun pada hari itu. Dan tidak terkena sekitarnya karena terhapus diminum orang yang belum mampu menunaikan cara seperti ini seperti anak-anak. Apakah hal seperti ini adalah suatu solusi?

Maka Ulama’ Lajnah menjawabnya, “Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga dan para shahabatnya, wa ba’du:

Shalat sunah yang disebutkan dalam pertanyaan, kami tidak tahu asalnya baik dari Kitab maupun sunah. Menurut kami tidak ada ketetapan satu orang pun dari ulama’ salaf umat ini dan orang-orang shaleh setelahnya mengamalkan shalat sunah ini. Bahkan ia termasuk bid’ah yang munkar.

Telah ada ketetapan dari Rasulullah sallallahu alaihi wa salalm beliau bersabda, “Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka Ia tertolak,” dan beliau juga bersabda, “Siapa yang membuat suatu yang baru dalam perkara kami (agama) yang tidak ada darinya maka ia tertolak.”

Siapa yang menyandarkan shalat ini dan apa yang disebutkan bersamanya kepada Nabi sallallahu alaiahi wasallam atau kepada salah satu dari para shahabat radhiallahu anhum, maka sungguh termasuk kebohongan yang besar. Dan layak mendapatkan balasan dari Allah bagi orang-orang pembohong. “Fatawa Lajnah Daimah, (2/354).

2.                   Syekh Muhammad Abdus Salam Suqoiry mengatakan, “Orang-orang bodoh berkeyakinan dengan menulis ayat as-salam seperti سلام على نوح في العالمين “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Nuh di seluruh alam.” atau semisal itu di rabu akhir bulan Shafar, kemudian ditaruh di gelas dan mereka meminum serta mengambil barokahnya, juga saling memberi hadiah, mereka berkeyaknan bahwa hal ini dapat menghindari keburukan. Ini adalah keyakinan rusak, pesimis yang tercela. Serta prilaku bid’ah yang jelek, harus diingkari setiap orang yang melihatnya.” (As-Sunan Wal mubtadi’at, hal. 111, 112).

Keempat:

Peristiwa yang terjadi pada bulan ini baik peperangan maupun peristiwa penting yang terjadi pada kehidupan Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Hal itu banyak, mungkin dipilih sebagiannya:

1.                   Ibnu Qoyyim mengatakan, “Kemudian beliau berperang sendiri dalm perang ‘Abwan’ atau dikenal dengan ‘Waddan’ yaitu perang yang pertama kali beliau ikut berperang sendiri. Terjadi pada bulan Shafar dua belas bulan dari peristiwa hijrah. Yang membawa bendera perang adalah Hamzah bin Abdul Mutholib dan berwana putih. Yang menggantikan di Madinah adalah Sa’ad bin Ubadah. Orang-orang Muhajirin keluar khusus untuk menghadang barang dagangan Quraisy. Mereka tidak mendapatkan tipu daya.

Dalam perang ini, beliau mengambil perjanjian Makhsyi bin Amr Ad-Dumari pemimpin Bani Dumar untuk  tidak akan menyerang Bani Dumar dan mereka tidak menyerang (kaum muslimin), tidak mengumpulkan (pasukan) dan tidak membantu musuh. Perdamaian itu ditulis antara dia dan mereka dalam suatu perjanjian. Dan hal itu yang menjadikan tidak kelihatan selama lima belas malam.” (Zadul Ma’ad, 3/164, 165).

2.                   Beliau juga berkata, “Ketika bulan Shafar (tahun ketiga Hijriyah). Kaum ‘Adhol dan Qorah’ datang, mereka menyebutkan di dalam (kaum) mereka ada yang masuk Islam. Sehingga mereka meminta agar diutus bersama mereka orang yang mengajarkan agama dan membacakan Qur’an. Sehingga diutus bersama mereka enam orang –menurut pendapat Ibnu Ishaq, sementara Bukhori mengatakan, “Mereka ada sepuluh, diangkat jadi pemimpinnya adalah Martsad bin Abi Martsad Al-Gonawi. Di dalamnya juga ada Khubaib bin Ady. Mereka pergi bersamanya, ketika sampai di Roji’ –yaitu mata air kepunyaan Huzail kea rah Hijaz- mereka berkhianat. Mereka minta tolong suku Huzail lalu mereka datang mengepungnya. Maka para sahabat hampir semuanya dibunuh sedangkan  Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinah ditawan.  Keduanya dibawa dan dijual di Mekkah dan keduanya pernah membunuh pembesar (Mekkah) waktu perang Badar. (Zadul Ma’ad, 3/244).

3.                   Beliau menambahkan lagi, “Pada bulan ini yaitu bulan Shafar tahun keempat terjadi perang ‘Bi’r Ma’unah (Peristiwah Sumur Maunah). Ringkasnya adalah bahwa Abu Barra’ Amir bin Malik yang disebut ‘Pemain Kepala Tombak’ mendatangi Nabi sallallahu alaihi wa sallam, lalu dia diajak masuk Islam tapi dia tidak bersedia masuk Islam, namun juga tidak menjauh.

Dia megatakan, “Wahai Rasulullah, kirimlah sahabat-sahabatmu ke penduduk Najd mengajak ke agamamu. Saya harap mereka menerimanya.” Beliau mengatakan, “Saya khawatir keselamatan mereka dari penduduk Najd.” Abu Barra’ mengatakan, “Saya yang melindungi mereka.”

Maka beliau mengutus 40 orang menurut pendapat Ibnu Ishaq dan dalam riwayat shohih mereka 70 orang. Yang ada dalam riwayat shahih itu yang benar. Yang dijadiakn pimpinan adalah Munzir bin Amr salah seorang dari Bani Saidah yang dijuluki ‘Orang yang cepat untuk mati’ mereka termasuk orang pilihan dari kalangan umat Islam, yang terbaik, pemimpin dan ahli Al-Quran. Mereka berjalan sampai tiba di ‘Bi’ru Maunah’ yaitu tempat antara Bani Amir dan desa Bani Salim- . Mereka singgah di sana. Kemudian mereka mengutus Haram bin Milhan saudara Ummu Sulaim membawa surat Rasulullah kepada  musuh Allah Amir bin Tufail. Dia tak melihat lagi apa isi suatnya, tapi justeru memerintahkan seseorang untuk menikamnya dengan tombak dari belakang. Ketika dia ditolong, saat melihat darah dia berkata, “Sungguh saya telah menang, dan Demi Tuhan Ka’bah.

Kemudian musuh Allah mengajak Bani Amir untuk memerangi mereka dan membunuh sisanya. Akan tetapi mereka tidak menerimanya karena terikat perjanjian dengan  Abu Bara. Kemudian dia mengajak Bani Salim, dan ternyata direspon oleh kabilah Ashiyah, Ra’il dan Zakwan’. Lalu mereka datang mengepung shahabat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan memeranginya sampai dibunuh yang terakhir kecuali Ka’b bin Zaid bin Najjar karena beliau diangkat saat terluka  di antara orang yang meninggal. Dan beliau masih hidup sampai terbunuh pada perang Khandaq.

Adapun Amr bin Umayyah Ad-Dhamari dan Munzir bin Uqbah bin Amir di antara umat Islam beliau melihat ada burung mengitari dalam satu tempat, kemudian Munzir bin Muhammad turun dan memerangi orang musyrik sampai beliau terbunuh bersama teman-temanya. Sementara Amr bin Umayyah Ad-Dhomari ditawan. Ketika diberitahu bahwa beliau dari Mudhor’, Amir mengerutkan dahinya dan memerdekakan budak untuk ibundanya. Lalu Amr bin Umayyah pulang, ketika beliau di Qorqrah di awal Qanat, beliau turun di naungan pohon. Kemudian ada dua orang datang dari Bani Kilab dan turun bersamanya. Ketika keduanya tertidur, Amr membunuhnya, beliau berpendapat telah membalas dendam dari teman-temannya. Ternyata keduanya telah memiliki perjanjian dari Rasulullah dan dia tidak mengetahuinya. Ketika beliau datang, beliau memberitahukan kepada Rasulullah apa yang telah dilakukannya, maka beliau mengatakan, “Sungguh anda telah membunuh dua orang, maka anda harus membayar diat (pengganti dari qisos dengan membayar sejumlah uang) untuk keduanya.

(Zadul Ma’ad, 3/246-248).

4.                   Ibnu Qoyyi berkata, “Sesungguhnya beliau berangkat (maksudnya ke Khaibar) di akhir bulan Muharam bukan di awalnya dan ditaklukkan pada bulan Shafar.” (Zadul Ma’ad, 3/339-340).

5.                   Beliau juga mengatakan, “Pasal, peristiwa pengiriman pasukan perang ‘Qutbah bin Amir bin Hadidah’ ke Khats’am. Pada bulan Shafar tahun kesembilan. Ibnu Sa’ad mengatakan, “Mereka mengatakan, ‘Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengirim Qutbah bin Amir dua puluh orang ke desa Khats’am ke arah Tibalah. Dia diperintahkan untuk menyerang dari segala penjuru. Mereka keluar dengan sepuluh unta yang dinaiki saling bergantian. Kemudian mereka menculik seseorang dan dinterogasi, akan tetapi dia membisu, kemudian orang itu berteriak untuk memperingatkan masyarkatnya, sehingga dia dibunuh. Mereka pun menunggu, lalu ketika penduduk itu  tertidur, mereka menyerbu dari segala penjuru sehingga terjadi peperangan hebat sampai banyak yang terluka pada kedua belah fihak. Qutbah bin Amir membunuh orang yang dapat dibunuh. Dan mereka merampas unta, wanita, dan kambing untuk dibawa ke Madinah. Dalam cerita tersebut, kaum tersebut berkumpul untuk mengejar mereka. Namun Allah mengirimkan kepada mereka air banjir yang besar sehingga menghalangi mereka dari kaum muslimin. Sehingga umat Islam dapat membawa unta, kambing dan tawanan. Sementara mereka hanya dapat melihat tidak dapat menyeberangnya sampai tidak terlihat.” (Zadul Ma’ad, 3/514)

6.                   Beliau mengatakan, “Ada utasan dari ‘Uzrah’ datang menghadap Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pada bulan Shafar tahun kesembilan. Ada duabelas orang di antaranya ada Hamzah bin Nukman dan Rasulullah bertanya, “Siapa kaum ini? Juru bicaranya menjawab, “Orang yang tidak anda ingkari, kami dari Bani Uzrah. Saudara Qusay dari ibunya. Kami yang membantu Qusay, dan menolong dari daerah Mekkah kabilah Khuza’ah dan Bani Bakr. Kami mempunyai kerabat dan keluarga. Rasulullah mengatakan, “Selamat datang dan silahkan. Saya tidak mengetahui kalian. Kemudian mereka masuk Islam. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memberi kabar gembira dengan ditaklukkannya Syam, Heraklius kabur dari negaranya . Rasulullah juga melarang mereka meminta ke dukun, dan memakan sembelihan yang mereka sembelih. Beliau juga memberitahu kepada mereka bahwa tidak ada perintah (untuk menyembelih) untuk mereka selain berkurban. Mereka berdiam diri beberapa hari di Dar Ramlah kemudian mereka pulang setelah diberi izin.”  (Zadul Ma’ad, 3/657).

Kelima,

Terkait hadits palsu dalam bulan Shafar. Ibnu Qoyim mengatakan, “Pasal hadits-hadits terkait tanggal di masa depan.

Di antaranya: hadits tentang tanggal tertentu. Seperti ungkapan, kalau tahun ini dan itu, maka akan terjadi ini dan itu. Kalau bulan ini dan itu, maka akan terjadi ini dan itu.

Seperti ungkapan para pendusta lagi sombong, “Kalau bulan gerhana pada bulan Muharam, maka akan terjadi ‘harga-harga mahal, peperangan, pemerintahan sibuk. Kalau gerhana di bulan Shafar maka akan terjadi ini dan itu. Dan para pembohong akan terus (mengatakan kebohongannya) pada semua bulan. Semua hadits dalam bab ini adalah bohong dan dibuat-buat.” (Al-Manar Al-Munif, hal. 64)

Wallahu a’lam .

Hukumnya Menghindari Makan Daging Pada 10 Awal Bulan Muharram

eninggalkan untuk tidak mengkonsumi yang mubah dan dihalalkan oleh Allah, merupakan bentuk rahbaniyyah (kerahiban) yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Bentuk kerahiban adalah meninggalkan yang dimubahkan, seperti menikah, daging, atau yang lainnya. Bahwa ada sekelompok para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- mereka menginginkan karahiban (menjadi rahib), maka Allah –Ta’ala- larangan-Nya akan hal itu dalam firman-Nya:

( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ) المائدة/ 87

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al Maidah: 87)

Telah diriwayatkan dalam Shahihain bahwa:

أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا فَأَصُومُ لَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ: أَمَّا أَنَا فَأَقُومُ لَا أَنَامُ وَقَالَ آخَرُ: أَمَّا أَنَا فَلَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَقَالَ آخَرُ: أَمَّا أَنَا فَلَا آكُلُ اللَّحْمَ.
فَقَامَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَطِيبًا فَقَالَ: (مَا بَالُ رِجَالٍ يَقُولُ أَحَدُهُمْ كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَقُومُ وَأَنَامُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَآكُلُ اللَّحْمَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي)

“Sekelompok para sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, salah seorang dari mereka mengatakan: “Adapun saya akan berpuasa dan tidak berbuka”, yang satu lagi mengatakan: “Adapun saya akan bangun malam dan tidak tidur”, dan yang lain berkata: “Adapun saya tidak akan menikah”, yang lain berkata: “Saya tidak akan memakan daging”. Maka seraya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berdiri dan berkhutbah dengan bersabda: “Ada apa gerangan salah seorang dari mereka mengatakan begini dan begitu, akan tetapi saya berpuasa juga berbuka, melaksanakan shalat malam juga tidur, saya juga menikah dan menkonsumsi daging, maka barang siapa yang membenci sunnahku ia bukan termasuk golonganku”.

Ada banyak teks dalil shahih yang menyatakan bahwa kerahiban itu termasuk bid’ah dan sesat.

Diringkas dari Al Jawab As Shahih: 2/194-197

Kesimpulan:

Bahwa barang siapa yang menjadikan tidak makan daging sebagai ibadah kepada Allah atau menjadikan sesuatu yang mubah lainnya sebagai ibadah pada hari tertentu, maka hal ini termasuk syari’at agama yang tidak diizinkan oleh Allah.

Baik diyakini bahwa hari-hari tersebut mempunyai keutamaan khusus yang mengharuskan untuk meninggalkan makan daging karena dianggap haram atau makruh. Atau diyakini bahwa tidak makan daging pada hari-hari tersebut hukumnya wajib atau sunnah.

Atau diyakini bahwa Allah akan mendekatinya karena dia sedang tidak makan daging atau sesuatu yang mubah lainnya dengan cara tertentu, maka semua itu termasuk bid’ah yang sesat yang tidak dizinkan oleh Allah.

Asy Syatibi –rahimahullah- berkata:

“Siapapun yang melarang dirinya untuk mengkonsumsi sesuatu yang dihalalkan oleh Allah tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syari’at, maka dia termasuk keluar dari sunnah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Orang yang melakukan amalan yang tidak sesuai sunnah, maka itulah pelaku bid’ah yang sebenarnya”. (Al I’tisham: 59)

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Allah –Ta’ala- telah menyuruh makhluk-Nya agar mengabdi hanya kepada-Nya, tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu, menyembah-Nya dengan apa yang telah disyari’atkannya dan menyuruh mereka agar tidak beribadah kepada-Nya dengan selain syari’at-Nya, Allah –Ta’ala- berfirman:

{ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا }

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi: 110)

Allah juga berfirman:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al Mulk: 2)

Orang yang sedang menjalani kezuhudan dan ibadah jika dia mengikuti syari’at secara lahiriyah namun dengan tujuan riya’, sum’ah dan dipuji orang, maka amalnya batal tidak diterima oleh Allah. Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Allah berfirman:

{ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ . وَهُوَ كُلُّهُ لِلَّذِي أَشْرَكَ

“Aku lebih tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang mengerjakan perbuatan syirik, maka Aku berlepas diri darinya. Jadinya semua persembahannya tertuju kepada sekutu tersebut”.

Dan di dalam riwayat lainnya:

{ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِهِ

“Barang siapa yang melakukan ibadah karena sum’ah (ingin dikenang baik) maka Allah akan perdengarkan, dan barang siapa melakukan riya’ (ingin dilihat orang) maka Allah akan memperlihatkan”.

Kalau niatnya ikhlas namun dia beribadah dengan ibadah yang tidak disyari’atkan, seperti; seseorang yang diam saja (semedi), berdiri ditengah panas matahari, atau di atas loteng, atau selalu menanggalkan pakaiannya, memakai pakaian shufi (bulu kambing), memakai pelepah kurma atau semacamnya, atau dengan menutupi mukanya, tidak memakan roti, daging, tidak minum air dan semacamnya, maka semua bentuk ibadah tersebut adalah batil dan tertolak, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab shahih dari Aisyah dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

{ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mendatangkan sesuatu yang baru dalam urusan kami ini (agama) dengan sesuatu yang tidak menjadi bagiannya, maka tertolak”.

Telah diriwayatkan dalam riwayat yang shahih sebagai berikut:

{ أَنَّ قَوْمًا مِنْ أَصْحَابِهِ قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا فَأَصُومُ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ الْآخَرُ : أَمَّا أَنَا فَأَقُومُ وَلَا أَنَامُ وَقَالَ الْآخَرُ : أَمَّا أَنَا فَلَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَقَالَ الْآخَرُ : أَمَّا أَنَا فَلَا آكُلُ اللَّحْمَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ رِجَالٍ يَقُولُ أَحَدُهُمْ : كَيْت وَكَيْت لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَنَامُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَآكُلُ اللَّحْمَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي } ” .

“Bahwa ada sekelompok dari para sahabat Nabi, salah seorang dari mereka berkata: “Saya akan puasa dan tidak akan berbuka”, yang lain berkata: “Saya akan shalat malam dan tidak tidur”, dan yang lain berkata: “Saya tidak akan menikah”, dan yang lain berkata: “Saya tidak akan makan daging”. Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Ada apa gerangan beberapa orang, salah satu dari mereka mengatakan begini dan begitu, akan tetapi saya berpuasa juga berbuka, saya juga tidur, saya juga menikah dan memakan daging, maka barang siapa yang membenci sunnahku, dia bukan termasuk golonganku”.

Jika hal ini dan yang serupa dengannya termasuk ibadah, maka puasa dan shalat termasuk ibadah.

Menjauhi daging dan tidak menikah boleh-boleh saja, akan tetapi jika hal itu termasuk keluar dari sunnah, kemudian dia berkomitmen berlebihan dari yang disyari’atkan dan yang lain berkomitmen untuk meninggalkan yang mubah sebagaimana yang dilakukan oleh para rahib, maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berlepas diri dari siapa saja yang melaksanakannya karena dia membenci sunnahnya dan melakasanakan yang sebaiknya, dan beliau bersabda:

{ لَا رَهْبَانِيَّةَ فِي الْإِسْلَامِ }

“Tidak ada kerahiban di dalam Islam”

(Majmu’ Fatawa: 11/612-614)

Kesimpulan:

Bahwa membiasakan tidak memakan daging pada hari-hari tersebut seperti yang disebutkan sebelumnya, baik karena ia berjanji kepada Allah atau kepada sesama manusia atau kepada diri sendiri atau tanpa ada perjanjian, semua itu termasuk bid’ah yang tidak boleh dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tidak boleh mentaati orang tua dan nenek moyang dan mengikuti mereka dalam masalah ini.

Mitos Tidak Boleh Menikah Pada Bulan Muharram

Tidak masalah menikah atau meminang pada bulan Muharram yang menjadi awal tahun hijriyah, hal tersebut bukan termasuk perkara yang makruh atau diharamkan, berdasarkan banyak dalil:

Pertama:

Hukum asalnya boleh yang tidak ada dalil yang merubahnya, kaidah syar’i yang disepakati oleh para ulama adalah:

أن الأصل في العادات والأفعال الإباحة

“Hukum asal dalam kebiasaan dan perbuatan adalah boleh”.

selama belum ada dalil yang mengharamkannya. Maka karena tidak penjelasan baik dalam al Qur’an, Hadits, ijma’ dan qiyas ataupun atsar yang menunjukkan bahwa menikah pada bulan Muharram itu adalah dilarang, maka yang menjadi dasar dari amal dan fatwa dalam masalah ini adalah hukum asalnya yaitu; boleh.

Kedua:

Adalah merupakan hasil ijma’ dari para ulama adalah boleh, minimal dengan ijma’ sukuti (kesepakatan semua ulama malalui diamnya mereka), karena kami tidak menemukan seorang pun dari para ulama dahulu maupun sekarang, baik dari kalangan para sahabat, tabi’in, para imam yang diridhai, juga pengikut mereka sampai pada masa kita saat ini yang mengharamkan atau menganggap makruh menikah atau melamar pada bulan Muharram.

Dan barang siapa yang melarang akan hal tersebut, maka ucapannya tersebut sudah menjadi bukti akan mungkar dan batilnya perkataannya; karena ia berfatwa tanpa menunjukkan dalil atau perkataan para ulama.

Ketiga:

Bulan Muharram adalah termasuk bulan Allah yang diagungkan dan dimuliakan. Telah disebutkan keutamaannya dalam hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

( أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ ) رواه مسلم (1163)

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram”. (HR. Muslim 1163)

Bulan yang Allah menyandarkannya pada diri-Nya dan menjadikan puasa pada bulan tersebut pahalanya lebih agung dari puasa pada bulan lain, maka menjadi layak untuk diharapkan berkah dan keutamaannya bukan malah bersedih dan hawatir untuk menikah pada bulan tersebut, atau bertathayur (menjadikan sesuatu sebagai tanda baik dan buruk tanpa didasari dengan dalil) sebagaimana adat istiadat masyarakat jahiliyah.

Keempat:

Jika ada seseorang yang beralasan bahwa yang menjadi dasar dari larangan tersebut adalah syahidnya Husain bin Ali –radhiyallahu ‘anhu- sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang-orang Rafidhah.

Maka jawabannya adalah:

Tidak diragukan bahwa pada hari syahidnya Husain –radhiyallahu ‘anhu- adalah hari yang menyedihkan dalam sejarah Islam, namun hal tersebut tidak mengharuskan untuk berfatwa akan haramnya menikah atau melamar pada bulan tersebut, dan tidak ada di dalam syari’at kita untuk memperbarui kesedihan dan memperingatinya setiap tahun, dan meneruskan hidad (bersedih) sampai melarang untuk menampakkan kebahagiaan.

Kalau tidak maka menjadi hak kita untuk bertanya kepada orang berpendapat demikian: Bukankah hari dimana Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- wafat adalah sebesar-besarnya musibah yang menimpa umat Islam !, maka kenapa tidak dilarang juga menikah pada bulan dimana beliau wafat yaitu bulan Rabi’ul Awal ?!, dan kenapa pengharaman dan hukum makruh tersebut tidak diriwayatkan oleh para sahabat atau keluarga Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para ulama setelah mereka !!!

Demikian juga kalau seandainya memperbarui kesedihan dibolehkan, maka setiap hari ada ulama besar Islam yang mungkin dibunuh, syahid atau meninggal dunia, baik dari keluarga dekat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- atau yang lainnya. Kalau demikian maka tidak akan ada hari atau bulan bahagia, dan manusia akan mengalami masalah dan kesulitan yang mereka tidak kuat memikulnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa mendatangkan hal baru dalam agama adalah awal mula yang menarik para pengikutnya untuk menentang syari’at, dan mempertanyakan akan kesempurnaan yang telah Allah ridhai.

Sebagian ahli sejarah telah menyebutkan bahwa yang pertama kali mengatakan pendapat tersebut, bahkan yang pertama kali berpendapat tentang memperbarui kesedihan pada awal bulan Muharram adalah Asy Syah Ismail ash Shofwi (907-930 H) sebagaimana yang disebutkan oleh DR. Ali Al Wardi dalam “Lamahat Ijtma’iyyah min Tarikh Iraq” 1/59:

“Asy Syah Ismail tidak cukup dengan hanya menyebarkan teror saja untuk menyebarkan paham syi’ah bahkan sengaja juga mengambil sarana lain, yaitu; dengan cara publikasi dan mendatangkan kepuasan diri, ia telah menyuruh untuk mengkoordinir peringatan terbunuhnya Husain seperti yang rayakan sampai saat ini. Perayaan tersebut dilakukan sejak era al Buwaihiyyun di Baghdad pada abad 14 H. Namun setelah era tersebut mulai ditinggalkan. Kemudian datanglah Asy Syah Ismail yang mengembangkannya dan menambahkan majelis takziyah dengan tujuan agar kuat pengaruhnya pada hati pengikutnya. Maka menjadi benar bahwa hal tersebut adalah menjadi sarana terpenting untuk menyebarkan faham syi’ah di Iran; karena menampakkan kesedihan dan ratapan yang diiringi dengan irama gendang dan panji-panji dan lain sebagainya, dengan demikian maka akan menjadi akidah yang menancap pada jiwa”.

Kelima:

Kemudian sebagian ahli sejarah menguatkan bahwa pernikahan Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- dengan Fatimah –radhiyallahu ‘anha- terjadi pada awal-awal tahun ke-3 H.

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata: “Al Baihaqi meriwayatkan dari kitab “al Ma’rifah” karangan Abu Abdillah bin Mundihi bahwa Ali menikah dengan Fatimah satu tahun setelah hijrah dan tinggal bersamanya pada satu tahun berikutnya, atas dasar ini maka beliau menggaulinya pada awal tahun ke-3 H. (Al Bidayah wan Nihayah: 3/419)

Meskipun ada beberapa pendapat lain dalam masalah ini, namun yang menjadi dasar ialah tidak satupun di antara para ulama mengingkari pernikahan pada bulan Muharram, bahkan barang siapa yang menikah pada bulan tersebut maka ada contohnya dari Amirull Mukminin Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fatimah binti Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Wallahu a’lam.

KEUTAMAAN BANYAK BERPUASA DI BULAN MUHARRAM

Bulan Muharram adalah awal bulan dalam tahun hijriah, dia merupakan salah satu dari bulan Allah yang diharamkan (Asyhurul hurum), berdasarkan firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS. At-Taubah: 36)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ، السَّنَّةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ؛ ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut; Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Sya’ban.”  

Juga terdapat riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, Rasululllah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah (shalat) fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim, no. 1163)

Sabdanya, ‘Bulan Allah’ dinisbatkannya ‘bulan’ kepada ‘Allah’ menunjukkan adanya kemuliaan. Al-Qari berkata, ‘Tampaknya, yang dimaksud adalah seluruh bulan Muharram.’

Akan tetapi terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah berpuasa selama sebulan penuh selain bulan Ramadan. Maka hadits di atas dipahami bahwa hendaknya memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharram, bulan berpuasa selama sebulan penuh di bulan tersebut.

Wallahua’lam.

Hajinya Seorang Muslimah

Alhamdulillah

Saudariku muslimah, ucapan selamat bagi anda yang berkeinginan kuat pergi ke Mekah Mukaromah untuk menunaikan kewajiban haji. Dimana Kewajiban tersebut hilang dari kebanyakan para wanita musim. Sebagian diantaranya ketidak tahuan akan kewajiban haji atasnya, sebagian lain mengetahuinya akan tetapi terus menunda sampai ajal datang sementara dia dalam kondisi meninggalkan haji. Sebagian lain tidak mengetahui sama sekali tentang manasik. Sehingga terjerumus dalam larangan dan yang diharamkan. Terkadang sampai batal hajinya tanpa disadari. Wallahul musta’an.

Haji merupakan kewajiban Allah kepada hambanya, ia termasuk salah satu rukun Islam lima, ia termasuk jihadnya para wanita. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiallahu anha, “Jihad kamu semua adalah haji.” HR. Bukhori.

Ini wahai saudariku muslimah sebagian nasehat, arahan dan hukum-hukum khusus bagi yang ingin menunaikan haji. Hal ini dapat membantu menjadikan hajinya diterima dan mabrur. Sementara haji mabrur sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

” ليس له ثواب إلا الجنة ” متفق عليه

“Tidak ada pahala baginya (haji mabrur) kecuali surga.” Muttafaq ‘alaihi

1.      Ikhlas karena Allah itu syarat sah dan diterima ibadah apa saja diantaranya haji, maka ikhlaskan hanya untuk Allah saja haji anda. jauhi riya’ karena ia dapat menghapus amalan dan mendapatkan hukuman

2.      Mengikuti sunah dan menepatkan amalan sesuai petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa sallam adalah syarat kedua sah dan diterimanya amalan. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

” من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ” رواه مسلم

“Siapa yang beramal suatu amalan dan tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak.” HR. Muslim.

Hal ini mengajak anda untuk mempelajari hukum-hukum haji sesuai sunah Nabi sallallahu alaihi wa sallam dibantu hal itu dengan kitab yang bermanfaat yang bersandarkan dengan dalil shoheh dari Kitab dan Sunah

3.      Hati-hati dari syirik besar, kecil dan kemaksiatan dengan segala bentuknya. Karena syirik besar mengharuskan keluar dari islam dan menghancurkan amalan serta mendapatkan hukuman. Sementara syirik kecil menghapuskan amalan dan mendapat hukuman. Sementara kemaksiatan mendapatkan hukuman.

4.      Seorang wanita tidak diperbolehkan bepergian untuk haji atau lainnya tanpa ada muhrim, berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

” لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم ” متفق عليه

“Jangan seorang wanita bepergian kecuali dengan muhrimnya.” Muttafaq ‘alaihi

Muhrim adalah suami dan semua orang yang diharamkan (menikah) dengan wanita secara permanen, kekerabatan, sesusuan atau pernikahan. Ia termasuk syarat wajibnya haji bagi wanita. Kalau seorang wanita tidak mempunyai mahram, maka dia tidak diwajibkan berhaji.

5.      Seorang wanita diperbolehkan berihram dengan memakai baju yang disukai baik berwarna hitam atau lainnya. Dan berhati-hati berhias atau dikenal seperti pakaian sempit, transparan, kecil, belahan dan hiasan. Begitu juga bagi wanita berhati-hati dari menyerupai lelaki. Atau dari pakaian orang kafir. Dari sini diketahui bahwa mengkhususkan sebagian orang awam dari kalangan wanita berihrom dengan warna tertentu seperti hijau atau putih tidak ada dalilnya. Bahkan itu termasuk bid’ah yang diadakan.

6.      Diharamkan bagi orang yang berihram setelah meniatkan berihram memakai wewangian dengan berbagai macam wewangian. Baik di tubuh atau di pakaian.

7.      Diharamkan bagi orang berihram mengambil rambut di kepala dan di seluruh tubuh dengan cara apapun. Begitu juga memotong kuku

8.      Diharamkan bagi orang berihram memakai burqu’ dan niqob (penutup wajah) serta memakai dua kaos tangan. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihiwa sallam:

” لا تنتقب المرأة ولا تلبس القفازين رواه البخاري

“Seorang wanita jangan memakai niqob dan memakai kaos tangan.” HR. Bukhori

9.      Wanita yang berihram tidak membuka wajah dan memperihatkan di depan lelaki asing. Dengan alasan karena niqob dan dua kaos tangan termasuk larangan ihram. Karena dia memungkinakn menutup wajah dan kedua telapak tangan dengan apa saja seperti baju, jilbab dan semisal itu. Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha berkata:

” كان الركبان يمرون بنا ونحن مع رسول الله صلى الله عليه وسلم محرمات ، فإذا حاذونا سدلت إحدانا جلبابها من رأسها على وجهها ، فإذا جاوزونا كشفناه ” رواه أبو داود وصححه الألباني في حجاب المرأة المسلمة .

“Para penumpang dahulu melewati kita sementara kita bersama Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dalam kondisi ihram. Kalau mendekat, maka salah seorang diantara kita menjulurkan jilbabnya dari kepala ke wajahnya. Kalau telah lewat, maka kami membukanya.” HR. Abu Dawud dinyatakan shoheh oleh Albani di ‘Hijab Mar’ah Muslimah.

10.  Sebagian wanita ketika berihram menaruh di kepalnya sesuatu yang menyerupai surban atau topi agar tidak menyentuh wajahnya dari khimar atau jilbab. Ini termasuk memberatkan yang tidak perlu. Karena tidak mengapa penutup (kepala) menyentuh wajah orang berihram.

11.  Wanita ihram diperbolehkan memakai gamis, celana, kaos kaki, gelang, cincin, jam dan semisalnya. Akan tetapi harus menutupi perhiasannya dari lelaki selain mahram dalam haji atau diluar haji.

12.  Sebagian wanita ketika melewati miqot dan ingin haji atau umrah kemudian mendapatkan haid, terkadang tidak berihram dia mengira bahwa ihram disyaratkan  suci dari haid. sehingga melewati miqot tanpa ihram. Ini termasuk kesalahan yang nyata, karena haid tidak menghalangi berihram. Orang haid dapat berihram, melakukan apa yang dilakukan jamaah haji Cuma dia tidak towaf di Baitullah. Diakhirkan towafnya sampai dia suci. Kalau dia mengakhirkan ihram dan melewati miqot tanpa ihram, maka dia harus kembali untuk berihrom dari miqot. Kalau tidak kembali, maka dia terkena dam karena meninggalkan kewajiban.

13.  Wanita hendaknya dia mensyaratkan ketika berihram kalau khawatir tidak dapat menyempurnakan manasiknya. Dengan mengatakan:

” إن حبسني حابس فمحلي حيث حبستني

“Kalau ada penghalang yang menghalangiku, maka tempat tahalulku dimana saya terhalangi.

Kalau terjadi apa yang menghalangi untuk menyempurnakan haji, maka dia dapat tahalul dan tidak terkena apa-apa.

14.  Ingat amalan-amalan haji berikut:

Pertama, kalau hari tarwiyah yaitu hari kedelapan Dzulhijjah. Mandi dan berihromlah seraya bertalbiyah mengucapkan :

لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك ، إن الحمد والنعمة لك والملك ، لا شريك لك

“Kami penuhi panggilan-Mu Ya Allah kami penuhi penggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya seluruh pujian, kenikmatan dan kerajaan hanya milik-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu.

Kedua, keluar ke Mina, shalat Zuhur, Asar, Magrib, Isya’ dan Fajar di sana dengan di qosor yang shalat empat rakaat menjadi dua rakaat tanpa di jama.

Ketiga, kalau terbit matahari pada hari kesembilan, berjalanlah ke Arafah. Shalat Zuhur dan Asar dengan diqosor dari waktu zuhur. Berdiamlah di Arafah sambil berdoa, berzikir dengan merendah dan bertaubat sampai terbenam matahari.

Keempat, ketika matahri telah terbenan pada hari kesembilan, berjalanlah dari Arafah ke Muzdalifah. Shalat magrib dan isya’ di sana dengan di jama dan qosor. Berdiamlah sampai shalat fajar. Bersungguh-sungguh dalam berzikir, berdoa dan munajat sampai (matahari) kelihatan kuning.

Kelima, berjalanlah dari Muzdalifah ke Mina sebelum terbit matahari pada hari raya. Ketika sampai di Mina, lakukan amalan berikut

a.      Lemparlah jumrah Aqabah dengan tujuh kerikil, bertakbir pada setiap kerikil.

b.      Sembelihlah hadyu setelah matahari tinggi.

c.       Potong rambut anda menyeluruh sepanjang ruas tangan sekitar 2 cm

d.      Turunlah ke Mekah, lakukan towaf ifadah. Sai antara Shofa dan Marwah. Sai haji kalau anda haji tamattu. Atau  anda belum sai waktu towaf qudum kalau anda haji ifrod dan qiron.

Keenam, lemparlah jumrah di hari kesebelas, dua belas dan tiga belas setelah tergelincir kalau anda ingin mengakhirkan. Atau sebelas dan dua belas kalau anda ingin bersegera. Disertai mabit (bermalam) malam harinya.

Ketujuh, kalau anda ingin pulang ke negara anda, maka lakukan towaf wada’. Dengan begitu telah selesai amalan haji.

15.  Wanita tidak mengeraskan dalam bertalbiyah. Bahkan melirihkan didengar untuk diri dan orang disamping dari kalangan wanita. Jangan didengarkan lelaki asing menjauhi dari fitnah dan perhatiannya. Waktu bertalbiyah dimulai dari setelah ihram haji berlanjut sampai melempar jumrah Aqabah hari nahr.

16.  Kalau wanita datang bulan setelah towaf dan belum sai, maka dia dapat menyempurnakan sisa manasiknya. Dengan sai, meskipun dalam kondisi haid. karena sai tidak disyaratkan suci.

17.  Wanita diperbolehkan mempergunakan pil penahan haid agar dapat memungkinkan menunaikan manasik dengan syarat tidak berbahaya baginya.

18.  Jauhi berdesakan dengan para lelaki pada semua manasik haji. Terutama towaf waktu di hajar Aswad dan rukun Yamani. Bagitu juga ketika sai dan  melempar jumrah. Carilah waktu yang tidak begitu padat. Dahulu ummul mukminin Aisyah radhiallahunha towaf menyendiri dari para lelaki. Begitu juga tidak menyentuh hajar atau rukun kalau disana padat.

19.  Bagi wanita tidak ada raml (lari kecil) dalam towaf. Juga tidak ada lari cepat dalam sai. Raml adalah lari kecil pada tiga putaran pertama towaf. Kalau lari cepat diantara dua tanda hijau di semua putaran sai. Keduanya sunah bagi para lelaki.

20.  Jauhi kitab ini, ia kitab saku mengandung sebagian doa bid’ah. Di dalamnya ada doa khusus setiap putaran dalam putaran towaf atau sai. Hal itu tidak ada dalil dari kitab atau sunah. Doa dianjurkan waktu towaf dan sai dengan apa yang diinginkan seseorang untuk kebaikan dunia dan akhirat. Kalau doa dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam, maka itu lebih utama.

21.  Bagi wanita haid diperbolehkan membaca buku doa dan zikir yang dianjurkan. Meskipun di dalamnya ada ayat Qur’an. Sebagaimana dia juga diperbolehkan membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf

22.  Jauhi menyingkap apapun dari tubuh anda. terutama di tempat yang memungkinkan orang laki-laki melihat anda. seperti tempat umum untuk wudu. Karena sebagian wanita tidak peduli dengan keberadaan para lelaki di dekatnya di tempat itu. Sehingga dia menyingkap waktu wudu dimana tidak diperbolehkan menyingkapnya baik wajah, lengan dan kedua betis. Terkadang melepas jilbab di kepalanya. Sehingga nampak kepala dan lehernya. Semuanya itu haram tidak diperbolehkan. Di dalamnya ada fitnah besar baginya dan bagi lelaki lain.

23.  Bagi para wanita diperbolehkan pergi dari  Muzdalifah sebelum fajar. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah memberi keringanan kepada sebagian wanita terutama yang lemah agar meninggalkan Muzdalifah sebelum terbenamnya rembulan di akhir malam. Hal itu agar dapat melempar jumrah Aqabah sebelum padat. Dalam shohehain dari Aisyah radhiallahu anha:

أن سودة رضي الله عنها استأذنت النبي صلى الله عليه وسلم ليلة جمع- أي مزدلفة- أن تدفع قبل حطمة الناس ، وكانت امرأة ثبطة أي ثقيلة- فأذن لها

“Bahwa Saudah radhiallahu anha meminta izin kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam malam Muzdalifah agar berangkat sebelum padatnya orang. Dimana beliau dahulu wanita gemuk. Maka diizinkannya.

24.  Diperbolehkan melempar jumrah sampai malam hari, kalau wali wanita melihat kepadatan yang sangat di sekitar jumrah Aqabah. Dan hal itu berbahaya bagi orang yang bersamanya dari kalangan para wanita. Maka diperbolehkan melempar jumrah sampai longgar kepadatannya atau hilang. Tidak ada apa-apa baginya. Begitu juga ketika melempar pada tiga hari tasyriq, memungkinkan melempar jumrah setelah asar. Ia termasuk waktu yang tidak begitu padat sebagaimana yang nampak dan dimaklumi. Kalau tidak memungkinkan, maka tidak mengapa mengakhirkan melempar sampai malam.

25.  Jauhi-jauhi, seorang istri tidak boleh memberikan kesempatan kepada suaminya berhubungan badan dan bercumbu selagi dia belum tahalul secara sempurna. Di dapatkan tahalul dengan tiga cara:

Pertama: melempar jumrah Aqobah dengan tujuh kerikil

Kedua: memendekkan rambut sepanjang ruas jemari yaitu sekitar 2 cm

Ketiga: towaf haji (towaf Ifadoh)

Kalau seorang wanita telah melakukan tiga hal semuanya ini, maka dia diperbolehkan segala sesuatu yang diharamkan waktu ihram sampai berhubungan badan. Kalau melakukan dua hal (dari 3 amalan tersebut pent), dia diperbolehkan segala sesuatu kecuali jima’.

26.  Seorang wanita tidak diperbolehkan menampakkan rambutnya kepada lelaki asing waktu memendekkan ujung rambutnya. Sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita di tempat sai. Karena rambut termasuk aurat tidak diperbolehkan menyingkapnya di hadapan siapapun lelaki asing

27.  Hati-hati tidur di depan lelaki. Ini yang kita saksikan kebanyakan wanita yang menunaikan haji bersama keluarganya tanpa punya tenda atau dari penutup apapun dari pandangan lelaki. Sehingga mereka tidur di jalanan, emperan, dibawah jembatan layang, di dalam masjid Khoif bercampur dengan lelaki. Atau dekat dengan lelaki. Ini termasuk kemungkaran besar yang harus dilarang dan diberantas.

28.  Bagi wanita haid dan nifas tidak ada kewajiban towaf wada’. Ini termasuk keringanan agama dan kemudahan kepada para wanita. Bagi wanita haid, diperbolehkan pulang bersama keluarganya meskipun belum towaf wada’. Maka memujilah kepada Allah wahai wanita muslimah serta bersyukurlah akan kemudahan ini dan nikmat itu.

Adab Haji & Umroh

Alhamdulillah

Allah berfirman:

( الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج وما تفعلوا من خير يعلمه الله وتزودوا فإن خير زاد التقوى واتقون يا أولي الألباب )

‘(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.’ SQ. Al-Baqoroh: 197.

Seyogyanya seorang hamba menunaikan syiar haji dengan cara mengagungkan, mensucikan, (adanya) kecintaan dan ketertundukan kepada Allah Tuhan seluruh alam. Sehingga dia dapat menunaikan dengan tenang, tunduk dan sesui tuntunan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam.

Seyogyanya pada syiar yang agung ini menyibukkan diri dengan zikir, takbir, tasbih, tahmid dan beristigfar. Karena ia adalah ibadah sejak memulai ihrom sampai tahallul darinya. Haji bukan sekedar rekreasi permainan dan melalaikan seseorang yang dia inginkan tanpa batas. Sebagaimana yang nampak pada sebagian orang. Sebagian terlihat terlalu berlebihan dalam permainan, tertawa dan menghina seseorang atau selain itu dari prilaku munkar seakan-akan haji dilakukan untuk kesenangan dan permainan.

Bagi para jamaah haji dan lainnya, diharuskan menjaga apa yang diwajibkan oleh Allah dengan shalat berjamaah pada waktunya, mengajak kepada kabaikan dan melarang dari kemungkaran.

Seyogyanya bersungguh-sungguh untuk memberi manfaat kepada umat Islam, berbuat baik kepadanya dan memberi arahan dan bantuan dikala dibutuhkan. Menyayangi yang lemah terutama di tempat-tempat yang butuh kasih sayang seperti kepadatan dan semisalnya. Karena kasih sayang makhluk dapat mendatangkan kasih sayang kholik. Sesunggunya Allah menyayangi diantara para hamba yang senang menyayangi.

Menghindari perkataan jorok, menghina dan berbuat kemaksiatan, berdebat bukan untuk memenangkan kebenaran. Kalau berdebat untuk memenangkan kebenaran, hal ini merupakan kewajiban pada tempatnya. Menjauhi menyakiti pada sesama. Menjauhi ghibah (mengguncing), namimah (menyebar isu), menghina, menghardik, memukul, melihat wanita asing. Karena semua ini diharamkan waktu ihrom dan diluar ihrom. Keharamannya lebih kuat sewaktu ihrom.

Hendaknya menjauhi apa yang seringkali terjadi pada orang-orang dengan perkataan yang tidak pantas terhadap syiar Islam. Seperti ucapan sebagian orang ketika melempar jumroh. Kami telah melempar syetan, terkadang menghardik tempat syiar atau memukulnya dengan sandal dan semisal itu. Yang menghilangkan sisi ketertundukan dan ibadah. Serta bertolak belakang dengan maksud melempar jumroh yaitu menegakkan zikir kepada Allah Azza Wa Jallah.

Refrensi dari kitab ‘Al-Minhaj Li Muridil Umroh Wal Hajj’ karangan Syekh Muhammad ibnu Utsaimin.

Kewajiban dan Larangan Ketika Ihrom

Bagi orang yang melakukan ihrom haji atau umroh diwajibkan hal berikut ini:

1.       Dia harus berkomitmen dengan apa yang diwajibkan Allah kepadanya dari syareat agamanya seperti shalat pada waktunya secara berjamaah

2.       Menjauhi apa yang dilarang oleh Allah kepadanya dari perkataan jorok, penghinaan dan berbuat maksiat. Berdasarkan firman Allah ta’ala, ‘Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.’ SQ. Al-Baqoroh: 197

3.       Menghindari menganggu orang Islam dengan perkataan atau perbuatan di tempat syiar Islam atau yang lainnya

4.       Menghindari semua larangan-larangan ihrom

a.       Jangan mengambil sedikitpun dari rambut atau kukunya. Sementara mencabut duri atau semisalnya tidak mengapa meskipun sampai keluar darah

b.      Jangan memakai minyak wangi setelah berihrom di tubuh, pakaian, makanan dan minumannya. Jangan membersihkan dengan sabun yang berbau wangi. Sementara sisa bau wangi yang dipakai sebelum ihrom, tidak mengapa.

c.       Jangan membunuh binatang buruan

d.      Jangan menggauli istrinya

e.      Jangan bercumbu dengan penuh nafsu baik dengan sentuhan, ciuman atau selain dari itu

f.        Jangan melangsungkan akad nikah untuk dirinya, juga untuk orang lain. Jangan pula meminang untuk dirinya atau untuk orang lain

g.       Jangan memakai dua sarung tangan. Sementara membalut tangan dengan sobekan kain tidak mengapa

Ini adalah tujuh larangan untuk laki-laki dan perempuan.

Dan khusus untuk laki-laki adalah sebagai berikut

a.       Jangan menutupi kepalanya sampai menyentuhnya. Sementara bernaung dengan payung, atap mobil, tenda dan membawa barang tidak mengapa

b.      Jangan memakai gamis, surban, penutup kepala, celana, tidak juga khuf (kaos kaki dari kulit). Kecuali kalau dia tidak mendapatkan kain sarung, maka dia boleh mamakai celana. Atau kalau tidak mendapatkan sandal, maka boleh mamakai khuf.

c.       Jangan memakai yang semakna dengan yang disebutkan tadi. Jangan mamakai jubbah, kubah, topi, kaos dalam dan semisalnya

d.      Diperbolehkan memakai sandal, cincin, kaca mata, earphone. Diperbolehkan memakai jam di tangannya atau digantungkan di lehernya. Boleh memakai sabuk untuk menyimpan barang berharga

e.      Diperbolehkan membersihkan (badan) tanpa ada kandungan wewangian. Boleh mandi, menggaruk kepala dan badannya meskipun ada rambut yang jatuh tanpa sengaja, maka tidak ada apa-apa.

Sementara bagi wanita, tidak diperbolehkan memakai niqob yaitu yang dapat menutupi wajahnya. Ada lobang untuk kedua matanya. Jangan pula memakai burqu’ (semisal niqob). Sunnahnya tersingkap wajahnya kecuali kalau ada lelaki selain mahram yang melihatnya. Maka dia harus menutupnya waktu ihrom dan selain ihrom.

Silahkan melihat kitab ‘Manasik Al-Hajj Wal Umroh karangan Al-Albany. Dan kitab ‘Sifatul Hajji Wal Umroh’ dan kitab ‘Al-Minhaj Limuridil Umroh Wal Hajj’ karangan Ibnu Utsaimin rahimahumullah jamian.

Sifat Ibadah Haji

Alhamdulillah

Haji merupakan ibadah yang paling mulia, ketaan tertinggi. Ia salah satu rukun Islam yang mana Allah telah mengutus Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam. Dimana seorang hamba belum sempurna agamaanya kecuali dengannya.

Dan ibadah tidak sempurna dalam mendekatkan diri kepada Allah dan tidak diterima kecuali dengan dua perkara,

Salah satunya adalah ikhlas kerena Allah Azza Wa Jalla. Dimana dimaksudkan hanya untuk Allah dan kehidupan akhirat. Tidak dimaksudkan riya’, sum’ah dan bagian dari dunia.

Kedua, mengikuti Nabi sallallahu’alaihi wa sallam baik ucapan maupun perbuatan. Mengikuti Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tidak mungkin terealisasi kecuali dengan mengenal sunnahnya sallallahu’alaihi wasallam. Oleh karena itu bagi yang ingin beribadah kepada Allah dengan ibadah –haji atau lainnya- hendaknya belajar petunjuk Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, agar amalannya sesuai dengan sunnah.

Ihrom

Amalan disini termasuk sunnah ihrom yang telah disebutkan dalam soal yang disebutkan tadi dengan mandi, memakai minyak wangi dan shalat.

Kemudian berihrom setelah selesai shalat atau setelah menaiki kendaraannya. Kalau dia melaksanakan haji tamattu’ mengucapkan ‘Labbaik Allahumma bi umroh. Kalau qiron mengucapkan ‘Labbaik Allahuma bilhajji wa umroh. Kalau ifrod mengucapkan ‘Labbaika Allahumma Hajjan. Kemudian mengucapkan ‘Allahumma hazihi hajjan la riya’an wa la sum’atan (Ya Allah, haji ini bukan karena riya’ (pamer) tidak juga sum’ah (agar didengar orang).

Kemudian bertalbiyah dengan apa yang Nabi sallallahu’alaihi wa sallam talbiyahkan yaitu ‘Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan nikmata laka wal mulk, la syarika laka (Kami penuhi panggilanMU Ya Allah, kami penuhi panggilanMu. Kami penuhi panggilanMu tiada sekutu bagi Anda kami penuhi panggilanMu, sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kerajaan hanya milikMu tidak ada sekutu bagiMu).

Diantara talbiyah Nabi sallallahu’alaihi wa sallam juga, ‘Labbaika ilahl haq (kami penuhi panggilanMu Tuhan Yang Benar). Biasanya Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menambahi dalam talbiyahnya dengan mengucapkan, ‘Labbaika wa sa’daika, wal khairu bi yadaik, war rogba ilaika wal amal (kami penuhi panggilanMu dan kebahagiaan untukMu, semua kebaikan ditanganMu, keinginan dan beramal kepadaMu).

Lelaki mengeraskan suaranya untuk itu. Sementara wanita mengucapkan sekedar terdengar orang yang disampingnya. Kecuali kalau disampingnya lelaki bukan mahramnya, maka dia bertalbiyah dengan lirih.

Kalau ada orang berihrom khawatir ada halangan yang menghalangi untuk menyempurnakan manasik (seperti sakit, musuh, dipenjara atau semisal itu) maka seyogyanya dia mensyaratkan ketika berihrom dengan mengatakan, ‘In habasaniya habis, fa mahilli haitsu habastani (kalau ada penghalang yang menghalangiku, maka tahalullku ditempat dimana saya terhalangi). Artinya kalau ada halangan yang menghalangiku untuk menyempurnakan manasikku baik sakit atau terlambat atau semisalnya, maka saya bertahallul dari ihromku. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan Dhubabah binti Zubair dimana beliau ingin ihrom padahal dalam kondisi sakit untuk mensyaratkan dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya anda, untuk Tuhanmu apa yang telah anda syaratkan.’ HR. Bukhori, 5089 dan Muslim, 1207. Kapan saja dia mensyaratkan dan terjadi apa yang menghalanginya dalam menyempurnakan manasiknya, maka dia (boleh) tahallul dari ihromnya dan tidak terkena apa-apa.

Sementara orang yang tidak takut adanya halangan yang menghalanginya untuk menyempurnakan manasiknya. Maka tidak sepatutnya dia bersyarat. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tidak bersyarat dan tidak memerintahkan masing-masing untuk bersyarat. Akan tetapi beliau memerintahkan Dhubabah binti Zubair karena ada penyakit padanya.

Seyogyanya bagi orang yang berihrom, memperbanyak bertalbiyah. Apalagi terjadinya perubahan kondisi dan waktu. Seperti ketika melewati tempat yang tinggi atau turun di tempat yang rendah. Atau datang waktu malam atau siang. Hendaknya memohon kepada Allah akan keredoan-Nya dan mendapatkan surga. Serta meminta perlindungan dengan rahmat-Nya dari neraka.

Talbiyah dianjurkan dalam umroh dari mulai ihrom sampai memulai towaf. Dalam haji, dari ihrom sampai melempar jumroh aqobah pada hari raya.

Mandi ketika masuk Mekkah

Seyogyanya mandi ketika mendekati Mekkah untuk masuk ke Mekkah kalau hal itu mudah baginya. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam mandi ketika masuk Mekkah. HR. Muslim, 1259.

Ketika masuk ke masjidil haram, mendahulukan kaki kanannya dan membaca doa:

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله اللهم اغفر لي ذنوبي وافتح لي أبواب رحمتك أعوذ بالله العظيم وبوجهه الكريم وبسلطانه القديم من الشيطان الرجيم

‘Dengan nama Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku. Bukakanlah pintu rahmat-Mu untukku. Saya berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang Maha Mulia dan dengan kekuasaan-Nya yang lama dari syetan yang terkutuk.

Kemudian menuju ke hajar aswad untuk memulai towaf. Telah disebutkan sifat towaf dalam soal no.31819. Kemudian setelah towaf shalat dua rakaat, menuju ke tempat sa’i dan melakukan sai antara shafa dan marwah. Telah ada penjelasan sifat sai dalam soal no. 31819.

Bagi yang melakukan haji tamattu’, sainya untuk umroh. Sementara bagi yang melakukan haji ifrod dan qiron, sainya untuk haji. Dan dapat diakhirkan sai keduanya sampai setelah towaf ifadhoh.

Menggundul atau memendekkan

Kalau orang yang melakukan haji tamattu’ telah selesai sai tujuh kali putaran, menggundul kepalanya kalau dia lelaki atau memendekkan rambutnya. Menggundul harus mencakup semua (rambut) kepala. Begitu juga dalam memendekkan mencakup semua sisi rambut kepalanya. Menggundul lebih baik dari pada memendekkan. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam mendoakan kepada orang yang gundul tiga kali dan yang memendekkan sekali. HR. Muslim, 1303.

Kecuali kalau waktu haji dekat, dimana tidak memungkinkan tumbuh rambut kepala. Maka yang lebih utama adalah memendekkan agar tersisa rambut baginya untuk digundul waktu haji. Dengan dalil bahwa Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, ‘Beliau memerintahkan para shahabatnya dalam haji wada’ untuk memendekkan untuk umroh. Karena mereka datang pada pagi hari keempat Dzulhijjah. Sementara wanita, maka dia memendekkan rambutnya sepanjang ruas jemari tangan. Dari sini, maka telah sempurna umroh bagi jamaah yang melakukan haji tamattu’. Dan bertahallul secara sempurna. Melakukan seperti orang yang halal dari memakai baju, wewangian, mendatangi istrinya dan selain dari itu.

Sementara yang melakukan ifrod dan qiron keduanya tidak menggundul atau memendekkan, tidak tahallul dari ihromnya. Bahkan tetap dalam ihromnya sampai tahallul hari id setelah melempar jumroh aqobah, menggundul atau memendekkan.

Kemudian ketika hari tarwiyah yaitu hari kedelapan Dzulhijjah, yang melakukan haji tamattu’ melakukan ihrom haji pada pagi hari dari tempat tinggalnya di Mekkah. Dianjurkan ketika berihrom untuk haji, melakukan amalan seperti berihrom waktu umroh dengan mandi, memakai wewangian dan shalat. Dan dia berniat melakukan haji dan bertalbiyah dengan mengatakan, ‘Labbaik Allahuma hajjan. Kalau dia khawatir ada penghalang yang menghalangi untuk menyempurnakan hajinya, maka (diperbolehkan) bersayarat dengan mengatakan, ‘Wa in habasi habis, famahilli haitsu habastani. Kalau tidak ada kekhawatiran ada pengghalang, maka tidak perlu bersyarat. Dianjurkan mengeraskan dalam bertalbiyah sampai memulai melempar jumroh aqobah pada hari raya.

Pergi ke Mina

Kemudian pergi ke Mina. Disana melakukan shalat zuhur, asar, magrib, isya’ dan fajar. Dengan diqosor tanpa dijama’. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dahulu beliau mengqosor tanpa dijama’. Qosor adalah menjadikan shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Penduduk Mekkah dan lainnya mengqosor (shalat) di Mina, Arofah dan Muzdalifah. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam biasanya beliau shalat dengan orang-orang pada haji wada’ bersamanya penduduk Mekkah. Sementara beliau tidak memerintahkan mereka untuk menyempurnakan. Kalau sekiranya wajib bagi mereka, maka mereka akan diperintahkannya sebagaimana beliau perintahkan pada tahun penaklukan Mekkah. Akan tetapi karena bangunan Mekkah melebar sampai masuk Mina, maka seakan-akan (Mina) termasuk salah satu kampung diantara kampung Mekkah. Maka penduduk Mekkah tidak mengqosornya.

Pergi ke Arofah

Ketika matahari telah terbit pada hari Arofah, maka berjalan dari Mina ke Arofah. Dan turun di Namiroh sampai waktu zuhur (Namirah adalah tempat (wadi) sebelum Arofah) kalau hal itu memudahkan baginya. Kalau tidak, maka tidak mengapa. Karena turun di Namiroh bukan merupakan suatu kewajiban. Ketika matahari tergelincir (yakni telah memasuki waktu zuhur) maka melakukan shalat zuhur dan asar dua rakaat, dua rakaat dijama’ keduanya dengan jama’ takdim. Sebagaimana  prilaku Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, agar mempunyai waktu panjang untuk wukuf dan berdoa.

Kemudian setelah selesai shalat. Mengfokuskan untuk zikir, doa dan menghadap kepada Allah Azza Wa Jallah berdoa kepada-Nya dengan apa yang disukainya sambil mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat. Meskipun bukit  Arafah dibelakangnya, karena yang sesuai sunnah adalah menghadap kiblat bukan menghadap bukit. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam ketika wukuf di bukit dan mengatakan, ‘Saya wukuf di sini, dan Arafah semuanya adalah tempat wukuf.

Biasanya kebanyakan doa Nabi sallallahu’alaihi wa sallam pada wukuf  yang agung adalah:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

‘Tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah saja, tiada sekutu baginya. Semua kerajaan dan pujian hanya milik-Nya. Dan Dia mampu terhadap segala sesuatu.

Kalau terjadi kejenuhan dan dia ingin menghilangkan dengan berbicara kepada teman-temannya dengan pembicaraan yang bermanfaat. Atau membaca sedikit dari kitab yang bermanfaat terutama terkait dengan kedermawanan Allah dan luasnya pemberian-Nya agar menguatkan sisi pengharapan pada hari itu, maka hal itu bagus. Kemudian kembali menghadap kepada Allah dan berdoa. Dan sangat perlu dijaga pada waktu akhir siang dengan berdoa, karena sebaik-baik doa adalah doa di hari Arofah.

Pergi ke Muzdalifah                 

Ketika matahari terbenam, maka pergi ke Muzdalifah. Ketika sampai di sana, maka shalat magrib dan isya’ dengan satu azan dan dua iqamah. Kalau dia khawatir tidak sampai di Muzdalifah kecuali telah memasuki pertengahan malam, maka dia shalat di jalan. Tidak diperbolehkan mengakhirkan shalat sampai setelah pertengahan malam. Dan mabit (bermalam) di Muzdalifah, ketika telah jelas fajar. Tunaikan segera shalat fajar dengan azan dan iqamah, kemudian menuju ke tempat Masy’aril Haram (yaitu tempat masjid yang ada di Muzdalifah). Mengesakan Allah, bertkabir dan berdoa dengan apa yang disukainya sampai kelihat kekuning-kuningan (kekuning-kuningan adalah penampakan cahaya siang sebelum terbit matahari). Kalau tidak memungkinkan pergi ke Masy’aril Haram, cukup berdoa di tempatnya berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, ‘Saya berhenti disini, dan semua Muzdalifah adalah tempat untuk berhenti (mabit). Kondisi ketika zikir dan berdoa adalah menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangannya.

Pergi ke Mina

Ketika telah kuning benar dan belum terbit matahari, pergi menuju ke Mina. Dan berjalan cepat ketika melintasi wadi mahsar (yaitu wadi antara Muzdalifah dan Mina). Sesampainya di Mina, melempar jumroh aqobah, yaitu jumrah terakhir yang mendekati Mekkah (Jumrah terdekat dari Mekkah). Dengan tujuh kerikil sebesar biji kurma, secara berturut-turut. Satu dengan yang lainnya. Disertai takbir pada setiap lemparan. (sunnahnya ketika melempar jumroh aqobah, menghadap jumroh sementara Mekkah pada sisi kirinya dan Mina pada sisi kanannya). Selesai melempar, menyembelih hadyu kemudian menggundul rambut atau memendekkan kalau dia lelaki. Kalau wanita, cukup dipendekkan sepanjang ruas jemari (dengan begitu orang yang ihrom telah tahallul awal, dihalalkan baginya segala sesuatu kecuali berhubungan dengan istrinya). Kemudian pergi ke Mekkah, melakukan towaf dan sai untuk haji (kemudian dia dapat bertahallul kedua, sehingga dihalalkan baginya segala sesuatu yang sebelumnya diharamkan disebabkan berihrom).

Sunnahnya memakai wewangian kalau dia ingin pergi ke Mekkah untuk towaf setelah melempar dan menggundul. Berdasarkan perkataan Aisyah radhiallahu’anha:

كنت أطيب النبي صلى الله عليه وسلم  لإحرامه قبل أن يحرم ولحله قبل أن يطوف بالبيت ” رواه البخاري (1539) ومسلم (1189 .

‘Saya biasanya memberi minyak wangi kepada Nabi sallallahu’alaihi wa sallam untuk ihromnya sebelum berihrom dan waktu halalnya sebelum melakukan towaf di Mekkah.’ HR. Bukhori, 1439 dan Muslim, 1189.

Kemudian setelah towaf dan sai kembali ke Mina untuk mabit di sana pada dua malam, hari kesebelas dan dua belas. Dan melempar tiga jumroh pada dua hari tadi setelah tergelincir matahari. Yang lebih utama ketika pergi melempar dengan berjalan kaki. Kalau naik kendaraan, tidak apa-apa.

Melempar jumrah pertama, yaitu jumrah yang terjauh dari Mekkah yang terdekat dengan Masjid Khoif. Melempar tujuh lemparan kerikil secara berurutan satu dengan lainnya. Dan bertakbir pada setiap lemparan. Kemudian maju sedikit dan berdoa panjang dengan apa yang disukainya. Kalau memayahkan lamanya berdiri dan berdoa. Maka berdoa yang mudah baginya, meskipun sebentar agar mendapatkan sunnah. Kemudian melempar jumrah wustho (tengah) dengan tujuh kerikil secara berurutan, bertakbir pada setiap lemparan dan mengambil posisi sebelah kiri berdiri sambil menghadap kiblat. Mengangkat kedua tangan dan berdoa panjang kalau memudahkan baginya. Kalau tidak mungkin, berdiri yang mudah baginya. Seyogyanya jangan meninggalkan berdiri untuk doa. Karena ia adalah sunnah, kebanyakan orang meremehkannya. Mungkin ketidak tahuan atau meremehkannya. Setiap kali sunnah hilang, maka menyebarkan diantara orang-orang lebih ditekankan agar tidak ditinggalkan dan mati.

Kemudian melempar jumrah Aqobah dengan tujuh kerikil secara berurutan, bertakbir pada setiap lemparan dan pulang tidak ada doa setelahnya.

Ketika telah sempurna melempar jumrah di hari kedua belas. Kalau dia ingin ta’jjul (bersegera meninggalkan Mina) maka keluar dari Mina. Kalau ingin diakhirkan, maka dia bermalam di Mina pada hari ketiga belas dan melempar ketiga jumrah setelah tergelincir matahari seperti tadi. Mengakhirkan itu yang lebih utama. Tidak diwajibkan bermalam (hari ketiga belas) kecuali ketika matahri terbenam di hari kedua belas sementara dia masih di Mina, maka dia diharuskan mengakhirkan sampai melempar ketiga jumroh setelah tergelincir pada keesokan harinya. Akan tetapi kalau matahari telah terbenam sementara dia masih di Mina hari kedua belas tanpa keinginannya. Seperti ketika dia telah meninggalkan mina dan naik kendaraan, akan tetapi terlambat dikarenakan kepadatan mobil atau semisalnya. Maka dia tidak diharuskan mengakhirkan. Karena keterlambatannya sampai terbenam matahari bukan karena pilihannya.

Kalau dia ingin keluar dari Mekkah menuju ke negaranya. Maka tidak diperbolehkan keluar sampai dia melakukan towaf wada’ berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

” لا ينفر أحدٌ حتى يكون آخر عهده بالبيت ” رواه مسلم (1327) ، وفي رواية : ” أُمر الناس أن يكون آخر عهدهم بالبيت إلا أنه خُفف عن الحائض ” رواه البخاري (1755) ومسلم (1328

‘Jangan meninggalkan (Mekkah) sampai akhir perjumpaan dengan Ka’bah (towaf). HR. Muslim, 1327. Dalam redaksi lain, ‘Beliau memerintahkan kepada orang-orang agar terakhir perjumpaan dengan Ka’bah (towaf wada’) kecuali diberi keringanan untuk orang haid.’ HR. Bukhori, 1755 dan Muslim, 1328.

Orang haid dan nifas tidak perlu towaf wada’. Dan seyogyanya tidak perlu berdiri di pintu Masjidil Haram untuk berpisah. Karena tidak ada dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam.

Towaf wada’ adalah terakhir perpisahan dengan Ka’bah ketika ingin bepergian. Kalau setelah wada’ dia tetap (berdiam) karena menunggu teman atau mengangkat barang-barangnya atau membeli keperluan di perjalanan tidak mengapa dan tidak perlu mengulang towaf. Kecuali kalau dia berniat mengakhirkan safarnya. Seperti dia ingin safar di pagi hari kemudian dia towaf wada’. Kemudian safarnya ditunda sampai petang hari contohnya. Maka dia harus mengulangi towaf agar terakhir perjumpaannya adalah dengan Ka’bah.