Hati-Hati! Buang Air Besar (BAB) tidak Lancar Dapat Memicu Infeksi Usus Buntu (Appendicitis)

Usus buntu atau dalam istilah medisnya Appendix Vermiformis, merupakan organ yang berbentuk tabung, panjangnya sekitar 10 cm (3-15 cm) dan berpangkal di usus besar (Caecum). Rongga dalamnya sempit di bagian pangkal dan melebar dibagian ujung buntunya. Sampai saat ini fungsi dari usus buntu (appendix) belum diketahui secara pasti, sehingga pembuangan usus buntu (appendectomy) secara bedah tidak menyebabkan masalah kesehatan bagi yang bersangkutan.

Usus buntu (Appendiks) dapat menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml/hari. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam rongga dalam (lumen) dan selanjutnya mengalir kedalam usus besar (sekum). Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada proses terjadinya penyakit (pathogenesis) peradangan usus buntu (appendicitis). Sistem imun tubuh Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh jaringan limfoid diusus (GALT) yang terdapat di sepanjang saluran cerna, termasuk apendiks, ialah Immunoglbulin A ( Ig-A ). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan usus buntu (apendiktomi) tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfoid disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan seluruh tubuh.

Defenisi

Appendisitis adalah peradangan pada usus buntu appendiks vermiformes (umbai cacing).Peradangan usus buntu terjadi oleh karena infeksi pada jaringan usus buntu apendiks vermiformis yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut. Apendisitis dalam kasus ringan dapat sembuh sendiri tanpa perawatan, tetapi kebanyakan kasus appendicitis akut adalah penyebab paling umum peradangan akut pada daerah kanan bawah rongga perut, keadaan ini merupakan penyebab paling umum untuk bedah rongga perut Laparotomi darurat, dengan mengangkat umbai cacing yang terinfeksi.

Bila tidak ditangani dengan baik, maka angka kematian cukup tinggi dikarenakan oleh infeksi rongga perut peritonitis dan syok ketika appendiks (umbai cacing) terinfeksi menjadi pecah/hancur.

Appendisitis akut sederhana (cataral appendicitis) adalah proses peradangan baru terjadi disebabkan sumbatan (obstruksi) pada rongga dalam (lumen) usus, sehinga pengeluaran cairan (Sekresi mukosa) menumpuk di dalam rongga dalam usus buntu (lumen appendiks) dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang menggangu aliran limfatik, permukaan lapisan dalam (mukosa) usus buntu (appendiks) jadi menebal, bengkak (edema) dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di didaerah pusar (umbilicus), mual, muntah, tidak nafsu makan (anoreksia), tidak enak badan (malaise) dan demam ringan. Pada appendicitis kataral terjadi peningkatan kadar sel darah putih (leukositosis) dan usus buntu (appendix) terlihat kemerahan, bengkak dan tidak ada cairan keruh (eksudat serosa).

Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supurarif sebagai proses radang yang menetap (persisten) akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khusunya sumbatan (obstruksi parcial) terhadap rongga dalam (lumen) usus. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang diperut kanan bawah lebih dari 2 minggu.

Penyebab Usus Buntu

Infeksi usus buntu (Apendisitis) akut disebabkan oleh infeksi bakteri oleh karena sumbatan rongga dalam (lumen) usus buntu Pola fekuensi buang air besar (defekasi) yang tidak teratur akibat susah buang air besar merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya infeksi usus buntu oleh karena bisa memicu terbentuknya tinja yang mengeras (fekalith) sehingga dapat menyumbat rongga dalam (lumen) usus buntu, disamping itu pembengkakan jaringan limfe, tumor appendiks dan cacing askaris juga menjadi penyebab penyumbatan (obstruksi) lumen usus buntu.

Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan-makanan rendah serat dapat mempengaruhi keadaan susah BAB (defekasi) yang dapat menjadi faktor timbulnya appendicitis.

Faktor Resiko :

  1. Faktor sumbatan (obstruksi)

Merupakan faktor terpenting (90%) penyebab infeksi usus buntu, yaitu 60% sumbatan disebabkan oleh pembengkakan jaringan limfoid usus, 35%  karena sumbatan feces , 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1%, diantaranya sumbatan oleh cacing dan parasit.

  1. Faktor Bakteri

Bakteri yang menyebabkan infeksi usus buntu bahkan sampai pecah (perforasi) usus buntu adalah kuman anaerob sebesar 96% dan kuman aerob ˂ 10%.

  1. Faktor ras dan diet

Berhubungan dengan pola makan sehari-hari bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari Negara yang pola makannya yang banyak serat. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka kepola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki pola makan tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko appendicitis yang lebih tinggi.

  1. Buang Air Besar (Defekasi) yang terganggu:

Makanan yang mengandung serat penting untuk memperbesar volume feses. Frekuensi Buang air besar (defekasi)  yang jarang akan mempengaruhi konsistensi feses yang lebih padat sehingga terjadi hambatan (konstipasi). Konstipasi menaikkan tekanan didalam usus besar (intracaecal) sehingga terjadi sumbatan fungsional (usus buntu) appendiks dan meningktatnya pertumbuhan flora normal colon. Pengerasan feses memungkinkan adanya bagian yang terselip masuk kedalam saluran appendiks dan menjadi media kuman atau bakteri berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan pada appendiks.

 

Diagnosa

Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis (peradangan usus buntu) masih mungkin salah pada sekitar 15-20 % kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan lelaki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan, terutama yang masih muda, sering timbul gangguan yang menyerupai apendisitis akut. Keluhan itu sering berasal dari organ reproduksi dalam (genitalia interna) karena proses menstruasi, ovulasi, radang pelvis, atau penyakit ginekologik lain.

Tatalaksana appendisitis

Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satu-satunya pilihan yang baik adalah pengangkatan usus buntu (apendiktomi). Pada appendicitis tanpa komplikasi, biasanya tidak perlu diberikan antibiotic, kecuali pada infeksi usus buntu yang sudah sampai pecah (appendicitis perforate). Penundaan tindakan bedah sambil memberikan antibiotic dapat mengakibatkan abses (nanah) atau perforasi (pecah) usus.

Pengangkatan organ usus buntu (Apendiktomi) bisa dilakukan secara terbuka atau laparoskopi. Bila apendiktomi terbuka, dilakukan dengan membedah (insisi) daerah McBurney paling banyak dipilih oleh dokter ahli bedah. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas, sebaiknya dilakukan observasi terlebih dahulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi dapat dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila tersedia alat laparoskopi, tindakan laparoskopi diagnostic pada kasus meragukan dapat segera menentukan akan dilakukan operasi/ tidak.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi masyarakat luas sehingga dapat memberikan informasi kepada seluruh pembaca.  “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”(HR. Bukhari Muslim).

 

Penulis : Dr. Hendra Sutysna, M.Biomed

(Departemen Anatomi Histologi Fakultas Kedokteran UMSU)

 

Hati-Hati! Penggunaan Tas Ransel dapat Menimbulkan Nyeri Punggung pada Anak Sekolah

Penulis : Dr. Hendra Sutysna, M.Biomed (Departemen Anatomi Histologi FK UMSU)

Dewasa ini, Tas jenis ransel sangat diminati oleh anak anak sekolah. Banyaknya peminat yang menggunakan tas ransel diyakini karena tas ini lebih praktis dan memiliki daya tampung yang lebih besar. Walaupun tas ransel banyak diminati, penggunaan tas ransel yang tidak sesuai dari segi desain, berat beban, maupun cara pemakaiannya memiliki dampak negatif yang cukup besar bagi anak sekolah karena dapat meningkatkan stres pada struktur tulang belakang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Penggunaan ransel yang tidak sesuai dapat menyebabkan nyeri punggung, perubahan postur tubuh dan gayaberjalan dan jika dilakuan terus menerus dapat mengakibatkan perubahan yang bersifat irreversible. Nyeri punggung adalah penyakit yang banyak ditemukan di seluruh dunia. Pelajar yang membawa tas ransel paling berat mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk menderita nyeri punggung dan juga untuk terjadinya kelainan patologi pada punggung. Kebanyakan pelajar sekolah membawa tas ransel melebihi berat yang direkomendasikan. Nyeri punggung prevalensinya sangat tinggi dan memiliki dampak besar pada lingkungan sosial dan individu. Garis pedoman yang telah dikembangkan dibanyak negara adalah bertujuan untuk meminimalkan kesan buruk dari berat tas terhadap anak sekolah. Kebanyakan garis pedoman merekomendasikan tas sekolah agar tidak melebihi 10% dari berat badan anak sekolah 10% dari berat badan telah dilaporkan sebagai batas beban yang tidakmenyebabkan fleksi pada batang tubuh dan penekanan yang dirasakan adalah pada anak sekolah usia 11 – 14 tahun. Hampir 50% dari anak sekolah membawa tas sekolah mereka selama lebih dari 30 menit dalam waktu sehari. Lama penggunaan tas sekolah yang berisiko untuk mengalami kejadian nyeri punggungbawah dikatakan apabila durasi waktu penggunaan melebihi 30 menit dalam satu hari.

 

Faktor resiko yang secara signifikan dapat menyebabkan nyeri punggung bawah, diantaranya adalah membawa tas punggung yang berat, konsumsi kopi, dan riwayat keluarga mengalami nyeri punggung bawah. Faktor risiko nyeri punggang belum sepenuhnya jelas. Faktor risiko yang paling sering dilaporkan untuk nyeri punggang adalah beban kerja fisik yang berat seperti mengangkat, posisi tubuh membungkuk, dan getaran seluruh tubuh.

Nyeri merupakan perasaan yang sangat subjektif dan tingkat keparahannya sangat dipengaruhi oleh pendapat pribadi dan keadaan saat nyeri punggung dan dapat sangat bervariasi dari satu orang ke orang lain. Perasaan subjektif nyeri pada punggung dapat berupa:

⦁ Sakit

⦁ Kekakuan

⦁ Kelemahan

⦁ Rasa kesemutan

 


Melalui sebuah penelitian yang bersifat analitik deskriptif oleh Dr.Hendra Sutysna,M.Biomed sebagai dosen Fakultas Kedokteran UMSU bersama mahasiswa FK UMSU saudara Alfi Syahri Pinem, melakukan pengamatan selama kurang lebih 6 bulan lamanya terhadap hubungan dari penggunaan tas ransel pada siswa Sekolah Dasar dengan kejadian nyeri punggung yang dilakukan pada siswa kelas V (lima) salah satu Sekolah Dasar di kota Medan pada tahun 2017, Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa siswa dengan berat tas yang paling banyak adalah kategori berat tas >10% dari berat badan dan paling banyak mengalami nyeri punggung bawah sebanyak 67,1%. Maka dari hasil analisa data, didapat kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara berat dan lama penggunaan tas ransel dengan kejadian nyeri punggung pada siswa kelas V (lima) sekolah dasar. Dengan kata lain, penggunaan tas ransel yang tidak tepat baik dari sisi berat beban dan lamanya menggunakan tas ransel pada siswa sekolah dasar akan dapat menimbulkan kejadian nyeri punggung, dimana apabila kondisi tersebut dialami terus menerus berbulan bulan bahkan bertahun tahun maka dapat menyebabkan penyakit nyeri punggung yang irreversible. Terima kasih kami ucapkan kepada Fakultas Kedokteran UMSU dan juga SD Muhammadiyah 08 Medan yang telah memfasilitasi penelitian kami. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat luas sehingga dapat memberikan informasi kepada seluruh orang tua agar lebih memperhatikan penggunaan tas sekolahnya agar sesuai dengan yang direkomendasikan para praktisi kesehatan demi kesehatan putra putrinya. “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”(HR. Bukhari Muslim).