Anas bin Nadhar Pahlawan Perang Uhud

Nasab dan Kabilahnya

Orang Arab sangat memperhatikan nasab mereka. Bagi mereka mengetahui asal-usul pribadi dan silsilah keluarga sangatlah penting. Berbeda dengan tradisi di negeri kita, mengetahui bibit, bebet, dan bobot seseorang hanya diperhatikan ketika hendak mencari pasangan. Oleh sebab itu, orang-orang Arab tidak pernah bertanya asal daerah, tapi yang mereka tanyakan adalah nasab.

Karena itulah, ketika membahas biografi seorang sahabat, penting pula bagi kita mengetahui nasabnya. Sahabat Anas bin an-Nadhar adalah Abu Amr Anas bin Nadhar bin Dakhm an-Najjari al-Khazraji al-Anshari. Beliau merupakan paman dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, khadim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari nasab Anas kita mengetahui bahwa ia masih memiliki kekerabatan dengan Nabi. Karena buyut Nabi yang bernama Hasyim menikahi seorang wanita dari Bani Najjar dan lahirlah kakek beliau Syaibatul Hamd atau yang kita kenal dengan laqob Abdul Muthalib.

Memeluk Islam

Anas bin Nadhar radhiallahu ‘anhu memeluk Islam setalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Dan ia termasuk seorang yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menyertai Rasulullah Dalam Perang Uhud

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkisah:

Pamanku, Anas bin an-Nadhar, tidak turut serta bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Badar. Ia pun berkata kepadaku, “Aku luput dari perang pertama yang dilakoni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekiranya Allah mengizinkanku nanti untuk turut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah akan melihat apa yang akan kulakukan”. Ia takut berkata lebih dari itu.

Kemudian ia pun turut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud di tahun berikutnya (setelah Perang Badar). Saad bin Muadz radhiallahu ‘anhu datang menemuinya dan berkata, “Wahai Abu Amr hendak kemana?” tanya Saad. Anas menjawab, “Ini dia kurasakan harum angin surga di balik Uhud”. Ia pun berperang hingga syahid di medan Uhud.

Saat ditemukan jasadnya, terdapat 80-an sobekan luka. Tusukan tombak dan bekas anak panah yang menancap. Kata Anas bin Malik, “Bibiku, ar-Rubai’ binti an-Nadhar berkata, ‘Aku hampir tidak mengenali saudaraku kecuali melalui ruas-ruas jarinya’.”

Peranannya

Dalam riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami memandang ayat ini turun tentang Anas bin an-Nadhar:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” [Quran Al-Ahzab: 23]

Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dari Anas bahwasanya bibinya Rubai’ binti an Nadhar mematahkan gigi seri seorang gadis. Dari keluarga Rubai’ meminta diyat dan maaf sedangkan keluarga gadis itu keberatan. Mereka pergi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi memerintahkan mereka untuk melaksanakan qishash. Anas bin an-Nadhar berkata, “Apakah harus dipatahkan gigi Rubai’ wahai Rasulullah? Tidak demi Allah yang telah mengutus Anda dengan benar, janganlah patahkan giginya.” Rasulullah bersabda, “Hai Anas, menurut kitabullah adalah qishash.” Akhirnya keluarga gadis merelakan dan memberi maaf. Maka Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba Allah ada orang yang jika bersumpah atas nama Allah, Allah menerimnya.”

Dari Al-Fazari dari Humaid dari Anas terdapat tambahan “Keluarga perempuan tersebut ridha dan menerima diyatnya.”

Kepahlawanan di Perang Uhud

Saat Perang Uhud tengah berkecamuk, tersebar berita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam gugur. Beliau terbunuh dalam peperangan. Anas bin an-Nadhar terus berperang. Ia melihat Umar dan beberapa orang bersamanya sedang terduduk. Ia berkata, “Kenapa kalian duduk (bersedih)?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terbunuh.”

“Jika begitu, apalagi yang akan kalian perbuat mengisi hidup setelah beliau wafat? Berdirilah! Gugurlah dengan cara beliau meninggalkan dunia!” Kata Anas membakar semangat para sahabat. Kemudian Anas menghunuskan pedangnya hingga ia gugur dalam Perang Uhud.

Wafat

Anas bin an-Nadhar radhiallahu ‘anhu syahid di medan Perang Uhud. Tubuhnya berselimut luka. Setidaknya ada 80-an luka dari sabetan pedang, tusukan tombak dan anak panah. Saking banyak luka di tubuhnya, jasadnya sulit dikenali. Hanya saudarinya, Rubai’, yang mengenalinya melalui ruas-ruas jarinya.

Semoga Allah meridhai beliau, sahabat yang mulia, Anas bin an-Nadhar radhiallahu ‘anhu.

Rujukan:

– Ibnul Jauzi. Sifatu-sh Shafwah.
– Sayyid bin Husein al-‘Afani. Fursani-n Nahar mina-sh Shahabati-l Akhyar.
– https://islamstory.com/-أنس_بن_النضر

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Read more http://kisahmuslim.com/6023-anas-bin-nadhar-pahlawan-perang-uhud.html

Zaid Bin Tsabit Sang Penerjemah Rasulullah

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Anshar. Ia dipilih sebagai ketua tim pembukuan Alquran di Abu Bakar dan di zaman Utsman bin Affan. Amanah yang besar itu tentu menunjukkan sebesar apa kapasitas dan kedudukan beliau dalam Islam dan sejarah umat Islam.

Asal-Usulnya

Beliau adalah Zaid bin Tsabit bin adh-Dhahak al-Anshari. Ia berasal dari Bani Najjar yang merupakan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Saat Rasulullah tiba di Madinah, kondisi Zaid kala itu adalah seorang anak yatim. Ayahnya wafat pada Perang Bu’ats. Di tahun pertama hijrah itu, usia Zaid tidak lebih dari 11 tahun. Ia memeluk Islam bersama keluarganya. Rasulullah pun mendoakan keberkahan untuknya.

Kesungguhan Zaid

Sewaktu kecil, ia bersama orang-orang dewasa berangkat menemui Rasulullah untuk turut serta dalam Perang Badar. Tapi, Rasulullah tidak mengizinkannya karena ia terlalu muda dan badannya pun masih kecil. Tidak menyerah karena ditolak saat Perang Badar, saat Rasulullah menyiapkan pasukan Perang Uhud, Zaid kembali mendaftarkan diri. Kali ini ia berangkat bersama rombongan remaja seusianya. Berharap Rasulullah mengikut-sertakan mereka dalam pasukan mujahidin. Dan keluarga mereka lebih-lebih lagi harapannya agar Rasulullah menerima mereka.

Rasulullah memandangi mereka dengan pandangan terima kasih. Seakan-akan beliau menginginkan mereka untuk izin tidak ikut saja. Majulah anak muda yang bernama Rafi’ bin Khadij membawa sebuah belati atau tombak. Ia memamerkan keahliannya memegang senjata tersebut. Rafi’ berkata, “Sesungguhnya aku sebagaimana yang Anda lihat. Aku mahir dalam melempar senjata, karena itu izinkanlah aku.” Rasulullah pun mengizinkannya.

Kemudian Samurah bin Jundab pun maju. Salah seorang anggota keluarganya mengatakan, “Sesungguhnya Samurah lebih hebat dari Rafi.” Rasulullah pun mengizinkan beliau.

Tersisalah 6 orang pemuda pemberani lainnya. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Mereka mengeluarkan segala kemampuan membujuk rayu Rasulullah. Tak mempan dengan lisan, mereka bujuk dengan air mata. Belum juga berhasil dengan cara mengiba itu, mereka unjuk kekuatan dengan menunjukkan otot-otot mereka. Tapi usia mereka masih terlalu muda. Dan tubuh mereka masih begitu kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak mereka secara halus sekaligus menghibur mereka dengan berjanji akan mengajak mereka pada perang selanjutnya.

Akhirnya, Zaid dan Tsabit bersama anak-anak seusiasanya memulai pengalaman jihad mereka di Perang Khandaq. Pada tahun 5 H.

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu berkata, “Pada Perang Bu’ats aku berusia 6 tahun. Hal itu terjadi 5 tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah. Dan saat itu aku berusia 11 tahun. Aku dipertemukan dengan Rasulullah. Mereka berkata, ‘Ada seorang anak dari Kabilah Khazraj yang telah menghafal 16 surat’. Namun beliau tidak mengizinkan aku di Perang Badar dan Uhud. Barulah aku diizinkan di Perang Khandaq.”

Zaid memegang bendera Bani Najjar di Perang Tabuk. Awalnya bendera tersebut di pegang Umarah bin Hazm, tapi Rasulullah mengambilnya dan menyerahkannya kepada Zaid. Umarah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ada sesuatu tentangku (yang buruk) yang sampai kepadamu?” “Tidak ada. Tapi, yang lebih banyak menghafal Alquran layak dikedepankan. Dan Zaid lebih banyak menghafal Alquran daripada engkau.”

Perlu diketahui, dahulu para sahabat menghafal 10 ayat-10 ayat. Ketika mereka sudah paham dan mengamalkannya barulah mereka menambah hafalan. Sehingga siapa yang paling banyak hafalannya, maka semakin baik kualitasnya di antara mereka.

Pemuda Anshar Yang Cerdas

Dari Amir, ia menceritakan:

Sesungguhnya tebusan tawanan Perang Badar adalah 40 ukiyah emas. Siapa yang memiliki kepandaian baca-tulis, mereka diperintahkan mengajar baca-tulis kepada 10 orang kaum muslimin. Di antara yang mendapat pengajaran adalah Zaid bin Tsabit. Zaid adalah seorang cendekia dan memiliki keistimewaan dalam berbagai bidang. Ia seorang penghafal Alquran. Juru tulis Nabi yang menulis wahyu yang turun kepada Rasulullah. Ia memiliki kualitas ilmu dan hikmah yang mendalam.

Ketika Rasulullah mulai menyampaikan risalah Islam keluar Madinah, melakukan surat-menyurat kepada para raja dan kaisar, beliau memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa-bahasa mereka. Zaid pun berhasil menguasai bahasa-bahasa tersebut dalam waktu yang singkat.

Zaid bin Tsabit mengatakan, “Aku dipertemukan dengan Nabi saat beliau tiba di Madinah. Ada yang mengatakan, ‘Ini adalah seorang anak dari Bani Najjar. Ia telah menghafal 17 surat (diriwayat sebelumnya 16)’. Aku pun membacakannya di hadapan beliau. Beliau sangat terkesan. Lalu beliau berkata, ‘Pelajarilah bahasa Yahudi (bahasa Ibrani). Sesungguhnya aku tidak bisa membuat mereka beriman dengan kitabku’. Aku pun melakukan apa yang beliau minta. Berlalulah waktu tidak lebih dari setengah bulan, aku pun menguasainya. Kemudian aku menulis surat Nabi kepada mereka. Apabila mereka yang mengirimkan surat kepada beliau, akulah yang menerjemah.”

Dari Tsabit bin Ubaid dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, Rasulullah berkata kepadaku, “Apakah engkau bisa Bahasa Suryaniyah?” “Tidak,” jawabku. “Pelajarilah. Sungguh nanti akan datang surat-surat kepada kita”, pinta Rasulullah. Aku pun mempelajarinya dalam rentang waktu 17 hari.

Kita teringat dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأُمُوْرِ وَأَشْرَافِهَا وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا

“Sesungguhnya Allah mencintai perkara yang terbaik dan membenci sesuatu yang asal-asalan.” (HR. ath-Thabrani).

Bagaimana pengaruh pendidikan Rasulullah terhadap para sahabat. Selain faktor kecerdasarn, tentu tekad dan kesungguhan juga berpengaruh besar. Sehingga Zaid begitu cepatnya menguasai bahasa-bahasa asing tersebut.

Al-A’masy mengatakan, “Pernah datang surat-surat kepada Zaid. Tapi ia tidak tertarik membacanya, kecuali yang ia percaya saja. Dari sinilah ia dikenal dengan panggilan Penerjemahnya Rasul.”

Penghafal Alquran

Sejak dimulainya dakwah Islam selama lebih kurang 20 tahun sejak wahyu pertama turun, terdapat sekelompok sahabat yang mampu menghafal dengan kemampuan biasa. Ada yang mampu menghafal semua yang tertulis. Ada pula yang menghafal semua ayat yang tersusun. Di antara mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, dan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhum ajma’in. Setelah Alquran diturunkan secara sempurna, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakannya kepada para sahabat dengan berurutan sebagaimana susunan surat dan ayat yang kita ketahui sekarang.

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu pernah menyetorkan hafalannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun wafat beliau. Di tahun itu, Zaid menyetorkan hafalannya sebanyak dua kali. Dan qiro-at tersebut dinamakan qiro-at Zaid bin Tsabit. Karena dia pula yang menulis dan mengajukannya kepada Nabi agar dikoreksi. Dan teks tersebut beliau bacakan kepada orang-orang hingga beliau wafat.

Awal Pembukuan Alquran

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kaum muslimin dibuat sibuk dengan konflik melawan orang-orang murtad. Sehingga banyak korban jatuh dari kaum muslimin. Dalam Perang Yamamah (perang menghadapi nabi palsu, Musailimah al-Kadzab) misalnya, sejumlah besar penghafal Alquran gugur. Umar bin al-Khattab khawatir para penghafal Alquran terus berguguran karena konflik belum juga usai. Ia mendiskusikan ide membukukan Alquran dengan Khalifah Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar beristikharah. Bermusyawarah dengan para sahabat. Setelah itu, ia memanggil Zaid bin Tsabit, “Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda yang cerdas. Aku akan memberimu tugas penting…” Abu Bakar memerintahkanya membukukan Alquran.

Zaid pun memegang tanggung jawab besar. Ia diuji dengan amanah yang berat dalam proyek besar ini. Ia mengecek dan menelaah hingga terkumpullah Alquran tersusun dan terbagi-bagi berdasarkan surat masing-masing. Tentang tanggung jawab besar ini, Zaid berkata, “Demi Allah! Kalau sekiranya kalian bebankan aku untuk memindahkan bukit dari tempatnya, tentu hal itu lebih ringan daripada kalian perintahkan aku untuk membukukan Alquran.”

Ia juga mengatakan, “Aku meneliti Alquran, mengumpulkannya dari daun-daun lontar dan hafalan-hafalan orang.” Namun dengan taufik dari Allah ia berhasil menjalankan amanah besar tersebut dengan baik.

Penyeragaman Bacaan Alquran

Pada masa pemerintah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu jumlah orang yang memeluk Islam semakin hari semakin bertambah. Hal itu terjadi di berbagai daerah. Tentu saja hal ini sangat positif. Namun, hal ini bukanlah tanpa celah. Daerah-daerah tersebut menerima riwayat qira-at yang berbeda-beda. Dan mereka belum mengenal variasinya. Sehingga mereka menyangka orang yang berbeda bacaan Alqurannya membuat-buat bacaan baru. Muncullah masalah baru.

Melalui usul sahabat Hudzaifah bin al-Yaman, Khalifah Utsman bin Affan pun membuat kebijakan menyeragamkan bacaan Alquran. Utsman mengatakan, “Siapakah orang yang paling dipercaya untuk menulis?” Orang-orang menjawab, “Penulisnya Rasulullah, Zaid bin Tsabit.” Utsman kembali mengatakan, “Siapakah yang paling fasih bahasa Arabnya?” Orang-orang menjawab, “Said bin al-Ash. Ia seorang yang dialeknya paling mirip dengan Rasulullah.” Utsman kembali mengatakan, “Said yang mendikte dan Zaid yang menulis.”

Zaid bin Tsabit meminta bantuan sahabat-sahabat yang lain. Para sahabat pun membawakan salinan Alquran yang ada di rumah Ummul Mukminin Hafshah binti Umar radhiallahu ‘anha. Para sahabat saling membantu dalam peristiwa besar dan bersejarah ini. Mereka jadikan hafalan Zaid sebagai tolok ukur. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Pastilah para penghafal Alquran dari sahabat Muhammad tahu bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang sangat mendalam ilmunya.”

Keutamaan Zaid bin Tsabit

Figur seorang Zaid bin Tsabit memiliki kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat. Kaum muslimin sangat menghormatinya. Suatu hari Zaid mengendarai hewan tunggangannya. Kemudian Abdullah bin Abbas mengambil tali kekangnya dan menuntunnya. Melihat hal itu, Zaid berkata, “Biarkan saja wahai anak paman Rasulullah.” “Tidak. Seperti inilah selayaknya kita menghormati ulama kita,” jawab Ibnu Abbas.

Yang Pertama Membaiat Abu Bakar

Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengisahkan:

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, orang-orang Anshar angkat bicara. Salah seorang di antara mereka mengatakan, ‘Wahai orang-orang Muhajirin, sesungguhnya jika Rasulullah menugaskan salah seorang di antara kalian, beliau akan menjadikan salah seorang di antara kami sebagai pendampingnya. Karena itu, kami memandang setelah beliau kepemimpinan ini dipegang oleh dua orang. Satu dari kalian dan satu dari kami’.

Orang-orang Anshar pun menyuarakan demikian. Lalu berdirilah Zaid bin Tsabit. Ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah berasal dari Muhajirin. Dan kepemimpinan itu pada Muhajirin dan kita adalah penolong mereka. Sebagaimana kita telah menjadi Anshar nya Rasulullah’.

Abu Bakar pun berdiri dan berterima kasih atas ucapan Zaid yang menenangkan suasana. Abu Bakar berkata, ‘Wahai orang-orang Anshar, benarlah apa yang teman kalian ucapkan. Seandainya kalian melakuakn selain itu, tentu kami tidak membenarkannya’.

Zaid menggapai tangan Abu Bakar, kemudian berkata, ‘Ini adalah sahabat kalian. Baiatlah dia’.

Apabila Abu Bakar berhaji, maka Umar dan Zaid bin Tsabit yang menggantikan beliau sebagai khalifah. Zaid juga diberi amanah membagi ghanimah di Perang Yarmuk. Ia juga merupakan salah seorang dari enam orang ahli fatwa: Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay, Abu Musa, dan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhum ajma’in. Umar dan Utsman tidak melebihkan seorang pun dalam permasalah kehakiman, fatwa, faraidh, dan qiroa-ah dibanding Zaid bin Tsabit.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Alqurannya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. at-Turmudzi 3791).

Seorang tokoh tabi’in, Muhammad bin Sirin, mengatakan, “Zaid bin Tsabit mengalahkan orang-orang dalam dua hal: Alquran dan faraidh.”

Wafatnya

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu wafat pada tahun 45 H di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.

Di hari wafatnya Zaid, Abu Hurairah berkata, “Pada hari ini telah wafat tintanya umat ini. Semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya.”

Tinta adalah ungkapan untuk keluasan ilmu. Karena di zaman dahulu, menulis ilmu itu membutuhkan tinta.

Diterjemahkan secara bebas dari:
– https://islamstory.com/-زيد_بن_ثابت

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Read more http://kisahmuslim.com/6026-zaid-bin-tsabit-sang-penerjemah-rasulullah.html

Sekilas Tentang Biografi Imam Malik

Imam Malik –rahimahullah- dilahirkan –sebagaimana pendapat kebanyakan para ulama- pada tahun 93 H. di kota Madinah Munawarah, ia melihat peninggalan pada sahabat dan tabi’in sebagaimana ia juga melihat peninggalan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan banyak tempat-tempat bersejarah yang mulia. Maka semua itu memberikan dampak positif kepada cara pandang beliau, pemahaman dan  kehidupan beliau. Kota Madinah adalah tempat bersinarnya cahaya Islam, tempat lahirnya ilmu, sumber ilmu pengetahuan.

Nasab beliau berujung pada Kabilah Yamaniyah, yaitu; Dzu Asbah, dan nama ibunya ‘Aliyah binti Syuraik al Uzdiyah, bapak dan ibunya orang Arab Yaman, ia tumbuh di rumah yang menggeluti atsar, dan lingkungan merupakan sumber atsar dan hadits. Kakeknya Malik bin Abi ‘Amir termasuk pembesar tabi’in, ia meriwayatkan (hadits) dari Umar bin Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Aisyah Ummul Mukminin. Dan meriwayatkan darinya anak-anaknya, yaitu; Anas bapaknya Imam Malik, Rabi’ dan Nafi’ yang dijuluki Abu Suhail. Namun nampaknya Anas bapak dari Imam Malik tidak banyak berkecimpung dalam dunia hadits, meskipun demikian paman-pamannya dan kakeknya ahli hadits semua, maka dengan kedudukan mereka itu sudah cukup bahwa keluarga beliau adalah keluarga yang terkenal dengan para ulama. Sebelumnya saudaranya telah mendahului beliau dalam hal ilmu, ia adalah al Nadhr, ia melakukan mulazamah kepada para ulama.

Imam Malik menghafal al Qur’an Karim semenjak awal kehidupannya –sebagaimana kebiasaan yang banyak dilakukan keluarga muslim-, lalu  beliau beranjak untuk menghafal hadits, ia mendapati lingkungannya kondusif dan memberikan semangat. Ketika ia mengutarakan keinginannya kepada ibunya untuk mencari ilmu dan membukukannya, ia mengenakan pakaian yang paling bagus, dengan surban di kepalanya, lalu ia berkata: “Pergilah dan tulislah sekarang”, ia juga berkata: “Pergilah ke Rabi’ah dan belajarlah sopan santunnya sebelum ilmunya”. (al Madarik: 115)

Beliau bermulazamah (belajar terus menerus) kepada Ibnu Hurmuz selama tujuh tahun sejak awal masa pertumbuhannya, ia belajar dari Ibnu Hurmuz tentang perbedaan manusia, dan cara menentang para pengusung pendapat yang bersumber dari hawa nafsu, beliau banyak kemiripan dengan cara pandang dan perangai gurunya tersebut, hingga beliau berkata: “Saya mendengar Ibnu Hurmuz berkata: “Sudah sepantasnya seorang ‘alim mewariskan (ilmunya) kepada para murid-muridnya perkataan: “saya tidak mengetahui”, hingga hal itu menjadi pijakan dan tempat kembalinya, maka ketika salah seorang mereka ditanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya, ia (berani) mengatakan: “saya tidak mengetahuinya”. Ibnu Wahab berkata: “Imam Malik sering mengatakan dari banyak pertanyaan yang ditanyakan ‘saya tidak mengetahuinya’.

Beliau juga bermulazamah kepada Nafi’ pembantu Ibnu Umar, dan berkata: “Saya mendatangi Nafi’ pada tengah hari, dan saya tidak dinaungi pepohonan dari sengatan matahari, saya menunggu keluarnya beliau, dan jika beliau keluar saya biarkan dulu beberapa saat seakan saya tidak melihatnya, kemudian saya menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya, dan membiarkannya sampai beliau masuk, baru saya berkata: “Bagaimana perkataan Ibnu Umar tentang masalah ini dan itu….?, seraya beliau menjawab, dan saya serius mendengarkan, sedang beliau adalah seorang yang kuat (hafalannya)”. (Ad Dibaaj al Madzhab: 117)

Imam Malik juga belajar dari Imam Ibnu Syihab Az Zuhri, dan diriwayatkan darinya bahwa ia berkata: “Saya menyaksikan hari raya, dan berkata: “Hari ini adalah waktu luangnya Ibnu Syihab, lalu saya segera beranjak dari Mushalla dan pergi menuju kediaman Ibnu Syihab, saya mendengar dari balik pintu beliau berkata kepada pembantu wanitanya: “Lihatlah siapa yang berada di balik pintu”. Seraya ia melihat dan saya mendengar ia berkata: Murid anda yang penting Malik. Beliau berkata: “Persilahkan ia masuk”. Maka saya masuk, seraya beliau berkata: “Saya yakin engkau belum pulang ke rumah”. saya menjawab: belum. Beliau berkata: “Apakah engkau sudah makan ?”. Saya berkata: “belum”. Beliau berkata: “Berikan makanan kepadanya”. Saya menjawab: “Saya tidak memerlukan makanan”. Beliau berkata: “Apa yang kamu inginkan ?”. saya menjawab: “Riwayatkan kepadaku beberapa hadits”. Beliau berkata kepadaku: “Kemari”. Maka saya mengeluarkan alat tulis saya dan beliau meriwayatkan kepada saya 40 hadits. Saya berkata: “Silahkan ditambah”. Beliau berkata: “Sudah cukup, dan jika engkau meriwayatkan hadist-hadits tersebut, maka engkau termasuk dari golongan para penghafal”. Saya berkata: “Saya telah meriwayatkannya. Alangkah baiknya alat tulis dari tanganku”. Lalu ia berkata: “sampaikan Hadits tersebut”. Maka saya meriwayatkan hadits tersebut dihadapan beliau, maka beliau menjawab: “Sampaikan, karena engkau termasuk orang ahli ilmu”.

Sebagian ulama atsar berkata: “Bahwa imamnya manusia setelah Umar adalah Zaid bin Tsabit, dan setelah itu adalah Abdullah bin Umar, dan yang belajar dari Zaid sebanyak 21 orang laki-laki, kemudian semua ilmu mereka mengerucut kepada tiga orang: Ibnu Syihab, Bakir bin Abdullah dan Abu Zinad, dan ilmu mereka bertiga mengerucut kepada Malik bin Anas”. (Al Madarik: 68)

Imam Malik sangat menghormati hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- hingga beliau pernah ditanya: “Apakah anda pernah mendengar dari Malik bin Dinar ?, beliau menjawab: “Saya melihat beliau menyampaikan hadits sedangkan masyarakat menulisnya sambil berdiri, maka saya tidak suka menulis hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan berdiri”. Sebagaimana saya tidak pernah menyimpan kesungguhan untuk menghafal hadits dan belajar kepada para ulama, maka saya pun tidak menyimpan harta untuk mendapatkan ilmu tersebut. sehingga Ibnul Qasim berkata: “Malik telah disibukkan dengan belajar menuntut ilmu sampai atap rumahnya jebol, lalu ia menjual kayu-kayunya, kemudian dunia menjadi berat untuk cenderung kepadanya”. (al Madarik: 115)

Setelah Imam Malik menyempurnakan belajarnya tentang atsar (hadits) dan fatwa, ia mulai mengajar di Masjid Nabawi untuk mengamalkan ilmunya –menurut sebagian riwayat bahwa beliau memulai berfatwa pada umur 17 tahun-. Imam Malik –rahimahullah- berkata dalam rangka menjelaskan dirinya ketika memulai mengajar dan berfatwa:

“Tidak semua orang yang ingin mengajar dan berfatwa di Masjid boleh melakukannya sampai bermusyawarah dengan orang-orang shaleh. Jika mereka mengangap ia adalah orang yang berhak memberi fatwa maka ia boleh melakukannya. Tidaklah saya duduk (berfatwa) sampai disaksikan oleh 70 masyayikh dari kalangan para ulama bahwa saya berhak untuk itu”. (al Madarik: 127)

Bahwa Imam Malik –rahimahullah- berhias untuk menghadiri majelis hadits, hingga beliau nampak berwibawa dan berbeda dengan yang lainnya. Sampai al Waqidi berkata: “Bahwa majelis beliau adalah majelis yang berwibawa dan penuh dengan nuansa ilmu. Beliau juga sosok yang berwibawa dan mulia. Majelis beliau jauh dari debat kusir dan pendapat yang tidak bisa difahami, juga tidak ada suara yang keras, dan jika beliau ditanya tentang sesuatu maka beliau menjawabnya dan tidak bertanya dari mana asal pertanyaan tersebut”.

Karena keikhlasannya menuntut ilmu, beliau berkomitmen pada beberapa perkara, dan menjauhi beberapa perkara. Beliau berkomitmen kepada sunnah dan perkara-perkara yang jelas, oleh karenanya beliau berkata: “Sebaik-baik perkara adalah perkara yang jelas dan lugas. Jika anda berada di antara dua perkara, dan anda ragu-ragu untuk menentukan pilihan anda, maka pilihlah yang anda lebih cenderung kepadanya dan dapat dipercaya”.

Beliau berkomitmen untuk berfatwa pada masalah-masalah tertentu namun tidak memaksakan pendapatnya, karena khawatir menyesatkan atau jauh dari sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Beliau juga berkomitmen dalam berfatwa dengan penuh kehati-hatian, berfikir dengan sangat mendalam, dan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa, karena tergesa-gesa akan menyebabkan kesalahan fatal. Ibnul Qasim –murid beliau- berkata: “Saya mendengar Malik berkata: “Sungguh saya memikirkan masalah tertentu sejak belasan tahun yang lalu, dan sampai sekarang saya belum mendapatkan pendapat yang pas”.

Beliau juga pernah berkata: “Barang siapa yang ingin untuk menjawab pertanyaan, maka hendaknya ia memikirkan nasibnya di neraka dan surga, dan bagaimana ia selamat di negeri akherat”. (ad Dibaj al Madzhab: 23)

Beliau pernah ditanya seseorang dan mengatakan: “ini masalah yang ringan”. Maka beliau marah, dan berkata: “Bagaimana masalah tersebut ringan dan mudah ?!”, karena ilmu itu tidak ada yang ringan, tidakkah anda mendengar firman Allah –Ta’ala- :

( إنا سنلقي عليك قولا ثقيلا )  سورة المزمل: 5

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”. (QS. al Muzzammil: 05)

Semua ilmu adalah berat, khususnya yang akan ditanya pada hari kiamat. (al Madarik: 162)

Meskipun Imam Malik jauh dari daerah konflik dan terlibat di dalamnya, beliau juga fokus pada belajar, namun beliau diuji pada masa pemerintahan Abbasiyah tepatnya pada masa Abu Ja’far al Manshur pada tahun 146 H. Beliau dicambuk dan dibentangkan kedua tangannya sampai patah pundaknya. Hal itu disebabkan beliau berpendapat: “Tidak ada talak bagi yang sedang dalam keadaan terpaksa”. Bahkan oleh para profokator fitnah tersebut perkataan beliau dijadikan alasan untuk membatalkan baiatnya (janji setia) kepada Abu Ja’far al Manshur, hal tersebut mencuat ke permukaan pada saat munculnya Muhammad bin Abdullah bin al Hasan an Nafs az Zakiyah di Madinah, dan al Manshur melarangnya untuk berpendapat dengan pendapat di atas, kemudian para penanya memaksanya untuk mengatakan kepada halayak, yang menyebabkannya didera (dipukul) oleh gubernur Madinah Ja’far bin Sulaiman, dan menurut sebagian riwayat bahwa Abu Ja’far al Manshur meminta maaf kepada Imam Malik karena apa yang terjadi tidak dalam sepengetahuannya.

Abu Yusuf murid Abu Hanifah berkata:

“Saya tidak mengenal orang yang lebih alim kecuali tiga orang: Malik, Ibnu Abi Laila dan Abu Hanifah”.

Abdur Rahman bin Mahdi berkata: “Para imam ahli hadits yang patut diteladani adalah empat orang: Sufyan ats Tsauri di Kufah, Malik di Hijaz, al Auza’I di Syam dan Hamad bin Zaid di Basrah”.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Kami bukan siapa-siapa di hadapan Imam Malik, kami hanya mengikuti jejak beliau, dan kami menilai syeikh tertentu jika Malik menulis tentangnya, maka kami juga menulisnya. Saya tidak melihat Madinah kecuali akan rusak setelah wafatnya Malik bin Anas”.

Imam Syafi’i berkata: “Jika anda mendapatkan atsar dari Malik maka peganglah dengan erat, jika ada hadits tertentu maka Malik adalah bintangnya (pakarnya), jika para ulama disebutkan maka Malik adalah bintangnya (pakarnya), dan tidak ada seorang pun dalam bidang ilmu yang sama dengan Malik; karena hafalannya, ketelitian dan kehati-hatiannya. Barang siapa yang menginginkan hadist shahih maka hendaknya ia (menemui) Malik”.

Ahmad bin Hambal berkata: “Malik adalah bagian dari para ulama, ia adalah imam dalam ilmu hadits dan fikih, dan siapa yang serupa dengan Malik !… mengikuti jejak pendahulunya dari kecerdasan dan akhlaknya”.

Al Qadhi ‘Iyadh berkata: “Beliau hidup selama kurang lebih 90 tahun, dahulu di (Madinah) ada seorang Imam yang meriwayatkan, berfatwa, pendapatnya didengar selama sekitar 70 tahun, wibawanya selalu meningkat setiap saat, keutamaan dan kepeminpinannya terus meningkat sampai meninggal dunia, dia adalah rujukan satu-satunya sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia memiliki kepemimpinan dunia, agama tak seorangpun yang membantahnya”. (al Madarik: 111)

Banyak para rawi yang meriwayatkan bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 179 H.

Semoga Allah merahmati Imam Malik dan semua para Imam umat Islam.

Baca: “Malik Hayatuhu wa ‘Ashruhu, Araauhu wa fikhuhu/Syekh Muhammad Abu Zahrah”.

Wallahu a’lam.

Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam

Bani Israil berselisih, mereka merubah dan mengganti keyakinan dan syariatnya, sehingga dihilangkan kebenaran dan dimunculkan kebatilan. Kezaliman dan kerusakan tersebar. Maka umat membutuhkan agama untuk memunculkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan serta menunjukkan manusia ke jalan yang lurus. Maka Allah mengutus Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya:

وما أنزلنا عليك الكتاب إلا لتبين لهم الذي اختلفوا فيه وهدى ورحمة لقوم يؤمنون: سورة النحل: 64

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (SQ. An-Nahl: 64)

Allah mengutus semua Nabi dan Rasul untuk berdakwah untuk menyembah Allah saja, serta mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya (Islam). Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh alaihissalam, dan yang terakhir adalah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

ولقد بعثنا في كل أمة رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت: سورة النحل: 36

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (SQ. An-Nahl: 36)

Nabi dan Rasul terakhir adalah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, tidak ada Nabi setelahnya.

Allah berfirman: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (SQ. Al-Ahzab: 40)

Dahulu setiap nabi diutus khusus kepada kaumnya, sementara Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad sallallahu alaihi wa sallam kepada seluruh manusia. Sebagaimana Firman-Nya:

وما أرسلناك إلا كافة للناس بشيرا ًونذيراً ولكن أكثر الناس لا يعلمون: سورة سبأ: 28

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba: 28)

Allah telah menurukan kepada Rasul-Nya Al-Qur’an, sebagai petunjuk manusia, meneluarkan dari kegelapan menuju cahaya (Islam) dengan izin Tuhannya.

Allah Ta’ala berfirman, “(ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1).

Rasululah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib Al-Hasyimi Al-Quraisy lahir di Mekkah tahun Gajah. Mereka datang untuk menghancurkan Ka’bah, maka Allah hancurkan mereka. Ayahnya meninggal ketika beliau di rahim ibunya.

Setelah lahir, Nabi disusui oleh Halimah As-Sa’diyah, kemudian beliau mengunjungi pamannya di Madinah bersama ibundanya Aminah binti Wahb. Di tengah perjalanan pulang, ibunya meninggal dunia di Abwa, saat beliau berumur 6 tahun. Kemudian beliau dirawat kakeknya hingga sang kakek meninggal dunia saat beliau berumur 8 tahun. Kemudian beliau dirawat sang paman; Abu Thalib, dia sangat memperhatikan dan memuliakan serta membelanya lebih dari 40 tahun. Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan belum beriman terhadap agama Nabi Muhammad, khawatir akan dimusuhi kaumnya Quraisy apabila dia meninggalkan  agama nenek moyangnya.

Dahulu Muhammad kecil menggembala kambing untuk penduduk Mekkah, kemudian pergi ke Syam untuk dagangan Khadijah binti Khuwailid dan perdagangannya beruntung. Akhirnya Khadijah tertarik dengan akhlak dan amanahnya, sehingga beliau menikahinya, saat itu usia beliau 25 tahun sementara (Khadijah) berusia 40 tahun. Beliau tidak menikah dengan wanita lain sampai Khadijah meninggal dunia.

Allah telah berikan pertumbuhkan Muhammad dengan sebaik-baik pertumbuhan dan dididik dengan sebaik-baik didikan. Dipelihara dan diajarkan sampai menjadi orang yang terbaik di antara kaumnya dari sisi penampilan dan akhlak, menjadi orang yang paling dapat menjaga diri, sangat kasih sayang, paling jujur perkataan, paling kuat menjaga amanahnya, sehingga kaumnya menjuluki Al-Amin (terpercaya).

Kemudian beliau senang khalwat (menyendiri). Beliau menyendiri di gua Hira beberapa malam dan hari beribadah dan berdoa kepada Tuhannya. Beliau sangat membenci patung, minuman keras dan keburukan, tidak pernah selama hidup beliau menyentuhnya sedikitpun.

Ketika Muhammad sallallahu alaihi wa sallam berumur 35 tahun, beliau ikut serta bersama Quraisy membangun Ka’bah yang rusak karena banjir. Ketika mereka berselisih dalam meletakkan Hajar Aswad, beliau memutuskan perkaranya. Beliau meminta selendang dan hajar aswad diletakkan di dalamnya, sementara para pemimpin kabilah diminta untuk memegang ujung kain dan semua mengangkatnya kemudian Muhammad menaruh di tempatnya dan dibangun di atasnya. Semuanya menerima dan selesailah pertikaian.

Dahulu, masyarakat jahiliyah masih memiliki sifat terpuji seperti dermawan, memenuhi janji dan berani. Di antara mereka masih ada yang meyakini sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim seperti mengagungkan Baitullah, thawaf, haji, umroh dan menghadiahkan onta. Disamping ini, mereka juga mempunyai sifat tercela. Seperti zina, meminum khomr, memakan riba, membunuh anak wanita, kedholiman dan menyembah berhala.

Orang yang pertama kali merubah agama Ibrahim dan mengajak beribadah kepada patung adalah Amr bin Luhay Al-Khuza’i. Dia memasukkan patung ke Mekkah dan selain Mekkah. Kemudian mengajak orang untuk beribadah kepadanya. Di antara patung tersebut ada yang bernama Wadda, Suwaa, Yaguts, Yauq dan Nasra. Kemudian orang arab membuat patung lain, di antaranya patung Manaat di Qodid, Latta di Toif, Uzza di Wadi Nakhlah, Hubal di dalam Ka’bah. Ada patung-patung sekitar Ka’bah, ada patung-patung di rumah mereka. Masyarakat mengambil hukum kepada dukun, tukang ramal dan tukang sihir.

Ketika syirik dan kerusakan menyebar dengan kondisi seperti ini, maka Allah mengutus Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam sementara beliau berumur 40 tahun. Mengajak orang untuk beribadah kepada Allah saja, dan meninggalkan ibadah kepada patung. Orang Quraisy mengingkarinya sambil mengatakan:

أجعل الآلهة ألهاً واحداً إن هذا لشيء عجاب: سورة ص: 5

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Patung-patung tersebut senantiasa disembah selain Allah sampai Allah mengutus utusan-Nya Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam dengan tauhid, maka para shahabat radhiallahu anhum menghancurkan dan memusnahkannya hingga menang kebenaran dan hancur kebatilan.

وقل جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقاً: سورة الإسراء: 81

“Dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. SQ. AL-Isro’: 81

Wahyu pertama kali yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam di gua Hiro’ dengan beribadah di dalamnya. Dimana Jibril datang dan memerintahkan untuk membaca. Rasulullah mengatakan,”Saya tidak bisa membaca. Beliau ulang-ulangi sampai tiga kali. Dikatakan kepada beliau:

اقرأ باسم ربك الذي خلق ، خلق الإنسان من علق ، اقرأ وربك الأكرم: سورة العلق: 1-2-3

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah.” (QS. Al-Alaq: 1-3

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pulang, hatinya bergetar. Kemudian beliau masuki (ke rumah) menemui Khadijah dan memberitahukannya sambil berkata, “Saya takut pada diriku.” Maka (Khadijah) menenangkannya sambil berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda menyambung silaturrohim, membantu orang kekurangan, memuliakan tamu, membantu orang yang tidak punya, dan membantu di jalan-jalan kebenaran.”

Kemudian membawanya menemui anak pamannya; Waroqoh bin Naufal. Dia memeluk  Kristen. Ketika diberitahu kabar tersebut, dia berkata kepadanya, “Itu adalah Malaikat yang Allah turunkan kepada Musa.’ Dia memberi wasiat agar bersabar ketika kaumnya menyakiti dan mengusirnya.

Kemudian wahyu terputus beberapa waktu, sehingga Rasulullah sallahu alaihi wa sallam bersedih. Suatu hari ketika sedang berjalan, beliau melihat Malaikat sekali lagi di antara langit dan bumi, maka beliau kembali pulang ke rumahnya dan berselimut. Lalu Allah turunkan kepada beliau :

يا أيها المدثر ، قم فأنذر: سورة المدثر: 1-2

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!.” (SQ. Al-Mudatsir: 1-2)

Kemudian wahyu turun secara berturut-turut kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam tinggal di Mekkah 13 tahun, mengajak untuk beribadah kepada Allah saja baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Allah memerintahkan menyuarakn kebenaran. Maka beliau berdakwah dengan pelan dan lembut tanpa peperangan. Lalu beliau memberi peringatan kepada kerabat terdekat, kemudian memberi peringatan kepada kaumnya, orang disekitarnya, seluruh bangsa arab dan memberi peringatan kepada seluruh alam. Kemudian Allah subhanahu berfirman:

فاصدع بما تؤمر وأعرض عن المشركين: سورة الحجر: 94

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Buah dari dakwahnya, beriman sebagian kecil dari kalangan orang kaya, pemuka, kaum lemah, fakir dan hamba sahaya baik lelaki maupun perempuan. Semuanya disiksa karena agamanya. Sebagian disiksa dan sebagian lagi dibunuh. Sebagian di antara mereka hijrah ke Habasyah untuk menghindari dari siksaan Quraisy. Ada yang bersama Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, walau disiksa tapi bersabar sampai Allah menangkan agama-Nya.

Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berusia 50 tahun, setelah 10 tahun dari kenabiaannya, paman beliau; Abu Thalib yang selama ini melindunginya dari permusuhan Quraisy, meninggal dunia. Kemudian setelah itu, istrinya Khadijah yang selalu menghiburnya, meninggal dunia juga. Sehingga kaumnya semakin keras permusuhannya, semakin berani dan menyiksa dengan berbagai macam siksaan. Namun beliau bersabar dan mengharap pahala sallallahu alaihi wa sallam.

Ketika cobaan semakin keras dan Quraisy semakin berani, maka beliau keluar ke Thaif mengajak penduduknya menuju Islam. Akan tetapi tidak ada jawaban, bahkan mereka menyakiti dan melemparinya dengan bebatuan hingga kakinya berdarah. Maka beliau kembali pulang ke Mekkah dan terus menerus mengajak manusia masuk Islam, baik saat musim haji dan selain itu.

Kemudian Allah meng Isra’ kan Rasulullah malam hari dari Masjidil Haram menuju ke Masjidil Aqsha dengan mengendarai Buraq dan ditemani oleh Jibril. kemudian beliau turun dan shalat bersama para nabi. Kemudian dimi’rojkan ke langit dunia. Dalam peristiwa itu beliau melihat Adam, ruh kebahagiaan sebelah kanannya dan ruh kesengsaraan sebelah kirinya. Kemudian beliau dinaikkan ke langit kedua, beliau melihat Isa, Yahya. Kemudian ke langit ketiga, beliau melihat Yusuf. Ke langit keempat, beliau melihat Idris. Ke langit kelima beliau melihat Harun. Ke langit keenam, beliau melihat Musa. Kemudian ke langit ketujuh beliau melihat Ibrahim. Kemudian diangkat ke Sidrotul Muntaha dan diajak berbicara dengan Tuhannya dan dimuliakan. Kemudian diwajibkan atas beliau dan umatnya 50 shalat sehari semalam. Kemudian diberi keringanan menjadi lima kali dalam pelaksanaan, tapi limapuluh dalam pahala. Akhirnya ditetapkan shalat lima kali sehari semalam sebagai kemuliaan bagi beliau dan umat Muhammad sallallahu alaihis salam. Kemudian beliau pulang ke Mekkah sebelum subuh dan beliau menceritakan apa yang terjadi, maka orang-orang mukmin mempercayai sementara orang kafir mendustakannya.

سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير: سورة الإسراء: 1

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1)

Kemudian Allah siapkan bagi Rasul-Nya sallallahu alaihi wa sallam orang yang menolongnya. Maka beliau waktu musim haji bertemu dengan sekelompok orang dari Madinah dari Khozroj. Mereka masuk Islam dan kembali  ke Madinah. Mereka menyebarkan Islam di sana. Pada tahun berikutnya, mereka menjadi tiga belas, mereka bertemu dengan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam. Ketika mereka pulang, Rasulullah mengutus bersama mereka Mus’ab bin Umair untuk membacakan Al-Qur’an. Serta mengajarkan Islam. Banyak orang masuk Islam lewat tangan beliau diantara mereka pemuka Aus Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Hudzair.

Pada tahun depan waktu musim haji, mereka keluar lebih dari tujuh puluh lelaki dari Aus dan Khazraj. Mereka mengundang Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ke Madinah setelah diasingkan dan disiksa penduduk Mekkah. Maka mereka menyatakan janji dengan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pada salah satu malam tasyriq di Aqobah. Ketika lewat sepertiga malam, mereka keluar pada janjinya dan bertemu dengan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Bersama beliau, pamanya Abbas padahal dia belum beriman, dia hanya ingin hadir dalam urusan anak saudaranya. Maka Abbas, Rasulullah dan kaum berbicara dengan pembicaraan yang bagus. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam membait mereka untuk hijrah ke Madinah agar mereka menjaga, menolong dan melindunginya, maka mereka mendapatkan surga. Maka mereka berbai’at satu persatu. Kemudian mereka kembali dan orang Quraisy yang mengetahui kejadian itu mencarinya. Akan tetapi Allah selamatkan mereka. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tetap tinggal di Mekkah hingga,

ولينصرن الله من ينصره إن الله لقوي عزيز: سورة الحج: 40

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

Kemudian Rasulullah memerintahkan para shahabat untuk hijrah ke Madina. Maka berhijrah secara berturut-turut kecuali orang yang ditahan oleh orang-orang Musyrik. Sehingga di Mekkah tidak ada umat Islam kecuali Rasulullah, Abu Bakar dan Ali. Ketika orang musyrik merasa shabat Rasulullah hijrah ke Madinah, mereka ketakutan Nabi akan menyusulnya. Sehingga urusannya semakin pelik, maka mereka membuat makar untuk membunuhnya, dan Jibril telah memberitahukan kepada Rasulullah akan hal itu. Maka Rasulullah memerintahkan Ali agar tidak di tempat ranjang beliau dan mengembalikan titipan yang dititipkan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam kepada pemiliknya. Orang-orang musyrik bermalam di pintu rumah Rasulullah untuk membunuhnya ketika keluar. Maka beliau keluar di antara mereka dan pergi ke rumah Abu Bakar setelah Allah selamatkan dari makar mereka dan Allah turunkan ayat:

وإذ يمكر بك الذين كفروا ليثبتوك أو يقتلوك أو يخرجوك ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين:  سورة الأنفال: 30

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)

Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berazam hijrah ke Madinah. Kemudian beliau dan Abu Bakar keluar menuju gua Tsur. Menginap 3 malam, dan menyewa Abdullah bin Ubi Uraiqid yang masih musyrik sebagai penunjuk jalan. Kedua kendaraannya diserahkan kepadanya. Orang Quraisy panic, lalu memulai pencarian di setiap tempat. Akan tetapi Allah menjaga Rasul-Nya. Ketika pencarian sudah reda dan kaum Qurasy sudah putus asa ari keduanya, maka mereka berangkat ke Madinah..

Kaum kafir Quraisy membuat sayembara bagi orang yang dapat mendatangkan keduanya atau salah satunya, mendapatkan hadiah 2000 onta. Maka orang-orang semangat mencari jalan menuju ke Madinah. Suraqah bin Malik waktu itu masih musyrik mengetahui keduanya. Dia mengingikan keduanya, maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mendoakan keburukan kepadannya. Maka kaki kudanya terjungkal di tanah, sehingga dia menyadari bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dilindungi. Maka dia meminta kepada Rasulullah agar di doakan  kebaikan dan tidak akan mencelakainya. Maka Rasulullah sallahu alaihi wa sallam mendoakan kebaikan kepadanya. Dan Suraqah pulang, dan menyuruh orang-orang kembali kemudian dia masuk Islam setelah penaklukan Mekkah.

Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam sampai di Madinah, umat Islam bertakbir gembira akan kedatangannya dan para lelaki dan wanita  serta anak-anak menyambutnya penuh kegembiraan dan suka cita. Maka beliau singgah di Quba, lalu bersama kaum muslimin, beliau membangun masjid Quba. Beliau tinggal beberapa hari, kemudian berangkat pada hari Jumat. Lalu beliau Shalat Jumat di Bani Salim bin Auf. Kemudian beliau naik ontanya dan memasuki Madinah. Orang-orang mengelilinginya. Sambil memegang pelana ontanya agar turun di rumahnya. Maka Rasulullah sallallahu alahi wa sallam mengatakan kepadanya, “Biarkan, karena ia diperintah.” Maka ontanya berjalan dan duduk di tempat masjid sekarang.”

Allah sediakan untuk Rasul-Nya turun di kerabatnya (pamannya) dekat dengan masjid, maka beliau tinggal di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengutus utusannya agar mendatangkan keluarganya dan keluarga Abu Bakar dari Mekkah. Maka mereka semuanya datang ke Madinah.

Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat mulai membangun Masjid di tempat ontanya ditambatkan. Awalnya kiblatnya ke arah Baitul Maqdis. Tiangnya dari pohon kurma, ataapnya dari elepah kurma. Kemudian kiblatnya dirubah ke Mekkah setelah sekian belas bulan semenjak datang di Madinah.

Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar dan Rasulullah meninggalkan orang Yahudi dan menulis antara beliau dan mereka perjanjian perdamaian dan pembelaan untuk Madinah. Pendeta Yahudi Abdullah bin Salam masuk Islam, sementara kebanyakan orang Yahudi tetap dalam kekafiran. Pada tahun itu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah radhiallahu anha.

Pada tahun 2 Hijriyah, disyariatkan azan, arah kiblat dirubah menuju ke Ka’bah, dan diwajibkan puasa Ramadan.

Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menetap di Madinah, Allah kuatkan dengan memberi kemenangan. Kaum Muhajirin dan Anshar di sekitar Nabi, mereka bersatu. Ketika itulah orang-orang Musyrik, Yahudi dan Munafiq bersatu untuk  menyakitinya dan menantangnya berperangan. Awalnya Allah perintahkan bersabar, memaafkan dan mengampuninya. Namun, ketika kezaliman mereka semakin parah dan kejahatan semakin keras. Allah izinkan umat islam berperang. Maka Allah turunkan firman-Nya:

أذن للذين يُقاتِلون بأنهم ظُلموا وإنَّ الله على نصرهم لقدير: سورة الحج: 39

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39)

Kemudian Allah mewajibkan kepada umat Islam memerangi orang yang memeranginya, maka Allah berfirman:

و قاتلوا في سبيل الّله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا إن الّله لا يحب المعتدين: سورة البقرة: 190

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Kemudian Allah mewajibkan perang terhadap orang-orang Musyrik semuanya. Allah berfirman:

وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة  (سورة التوبة: 36)

“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya.” (QS. At-Taubah: 36)

Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat berdakwah kepada Allah dan berjihad di jalan Allah. Menghalau tipu daya musuh, menolak kezaliman terhadap orang yang berbuat zalim dan Allah kuatkan dengan kemenangan-Nya. Sampai semua agama hanya milik Allah. Maka beliau memerangi orang musyrik di Badar tahun kedua hijriyah di bulan Ramadan. Dan Allah menangkan terhadap mereka dan memecah belah perkumpulannya.

Pada tahun ketiga hijriiyah, orang Yahudi Bani Qainuqa berkhianat, mereka membunuh salah seorang kaum muslim, maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengusirnya dari Madinah ke Syam. Kemudian kaum Quraisy balas dengan memeranginya dalam perang  Badar. Lalu perang berkecamuk lagi di Uhud Syawal pada tahun ketiga. Hingga terjadi pertempuran dan pasukan pemanah menyalahi perintahh Rasul. Sehingga kemenangan belum sempurna untuk umat Islam. Sementara orang-orang musyrik kembali ke Mekah tanpa dapat masuk ke Madinah.

Kemudian Yaduni Bani Nadir berkhianat, mereka ingin membunuh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dengan menimpakan batu dari atas, akan tetapi Allah selamatkan. Kemudian mereka dikepung pada tahun empat dan diusir ke Khoibar.

Pada tahun kelima, Rasullah sallallahu’alaihi wa sallam memerangi Bani Mustolik untuk menahan permusuhannya. Maka beliau mendapatkan kemenangan atas mereka dan mendapatkan gonimah harta dan tawanan. Kemudian para pemimpin Yahudi bersegera membuat koalisi terhadap umat Islam untuk menghabisi Islam di dalam rumahnya. Maka orang-orang Musyrik, Ahbas, Gotofan Yahudi berkumpul di sekitar Madinah. Akan tetapi Allah gagalkan makar mereka dan Allah memberi kemenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.

ورد الله الذين كفروا بغيظهم لم ينالوا خيراً وكفى الله المؤمنين القتال وكان الله قوياً عزيزاً (سورة الأحزاب: 25)

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh Keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.  dan adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)

Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menggepung Yahudi Bani Quraizah karena pengkhianatan dan menyalahi perjanjian, lalu Allah memberikan kemenangan atas mereka dengan membunuh para lelaki dan menawan wanita, mengambil hartanya sebagai ghanimah.

Pada tahun keenam, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berkeinginan kuat untuk mengunjungi Baitullah dan thawaf, akan tetapi orang-orang musyrik menghalanginya. Maka diadakan genjatan senjata di Hudaibiyah untuk menghentikan peperangan selama sepuluh tahun, masyarakat diberikan keamanan dan mereka dibiarkan memilih bersekutu dengan siapa yang mereka kehendaki. Maka orang-orang masuk ke agama Allah secara berbondong-bondong.

Pada tahun ketujuh, Rasulullah sallallahu  alaihi wa sallam menyerang Khaibar untuk menghabisi para pemimpn Yahudi yang telah menyakiti umat Islam. Maka mereka dikepung dan Allah memberikan kemenangan atas mereka, mengambil ghanimah harta dan tanahnya serta menulis para pemilik tanah dan diajak masuk Islam.

Pada tahun kedelapan, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengirim tentara dengan komandan Zaid bin Haritsah untuk memberi pelajaran kepada orang yang melampaui batas, akan tetapi Romawi mengumpulkan tentara yang sangat besar. Sehingga mereka mampu membunuh para pemimpin umat Islam dan Allah selamatkan sisa umat Islam dari keburukan mereka.

Kemudian orang-orang Kafir Mekkah mengkhianati perjanjian, maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mendatangi mereka dengan tentara yang besar, dan akhirnya Mekkah di taklukkan, sehingga Mekkah dibersihkan dari patung serta kekuasaan orang kafir.

Kemudian terjadi perang Hunain terjadi pada bulan Syawal tahun kedelapan untuk menghadapi permusuhan suku Tsaqif dan Hawazin. Allah kalahkan mereka, sehingga umat Islam dapat ghanimah berlimpah ruah. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan ke Thaif dan mengepungnya. Akan tetapi Allah belum mengizinkan untuk dapat ditaklukan. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mendoakan untuk mereka dan kembali pulang. Mereka akhirnya masuk Islam setelah itu. Kemudian beliau pulang dan membagikan ghanimah. Kemudian beliau bersama para shahabat melakukan umrah kembali dan kemudian pulang ke Madinah.

Pada tahun kesembilan terjadi perang Tabuk dalam kondisi yang sulit dan panas menyengat. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berjalan ke Tabuk untuk menahan makar Romawi, lalu membuat basecamp militer di sana, namun tidak mendapatkan perlawanan mereka. Lalu beliau mengadakan perjanjian dengan sebagian kabilah dan mendapatkan gonimah. Kemudian beliau pulang ke Madinah. Ini adalah peperangan terakhir yang diikuti Rasulullah sallallahua’alahi wa sallam.

Pada tahun yang sama para utusan kabilah banyak yang datang ingin masuk Islam. Di antaranya utusan Tamim, utusan Tha’i, utusan Abdul Qais, utusan Bani Hanifah. Semuan ya masuk Islam. Kemudian Rasulullah sallallahua alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakar untuk melaksanakan haji bersama orang-orang pada tahun itu, Ali radhiallahu anhu diutus bersamanya. Mereka diperintahkan membacakan di hadapan manusia surat Baro’ah, untuk berlepas diri dari orang-orang musyrik dan diperintahkan menyeruh kepada orang-orang. Maka Ali mengatakan pada hari qurban:

يا أيها الناس لا يدخل الجنة كافر ، و لا يحج بعد العام مشرك ، ولا يطوف بالبيت عريان ، ومن كان له عند رسول الله عهد فهو إلى مدته

“Wahai manusia, orang kafir tidak akan masuk surge. Orang musyrik tidak boleh haji setelah tahun ini. Mereka tidak boleh thawaf dalam keadaan telanjang. Siapa yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah, maka dia diselesaikan sampai masanya.”

Pada tahun kesepuluh, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berkeinginan kuat untuk melakukan haji. Maka beliau mengundang orang-orang untuk melaksanakan haji bersamanya dari Madinah. Begitu juga ada dari yang lainnya orang banyak. Beliau berihram dari Dzulhulaifah, dan sampai di Mekkah Dzulhijjah. Beliau thawaf, sa’i dan mengajarkan orang-orang cara manasik. Beliau khutbah di Arofah dengan khutbah nan agung dan menyeluruh dan menetapkan hukum-hukum Islam yang adil, beliau bersabda:

أيها الناس اسمعوا قولي , فإني لا أدري لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا , أيها الناس إن دماءكم , وأموالكم , وأعراضكم حرام عليكم , كحرمة يومكم هذا , في شهركم هذا , في بلدكم هذا , ألا كل شيء من أمر الجاهلية تحت قدمي موضوع , ودماء الجاهلية موضوعة , وإن أول دم أضع من دمائنا دم ابن ربيعة بن الحارث , كان مسترضعاً في بني سعد , فقتلته هذيل . وربا الجاهلية موضوع , وأول ربا أضع ربا عباس بن عبد المطلب , فإنه موضوع كله , فاتقوا الله في النساء , فإنكم أخذتموهن بأمان الله , واستحللتم فروجهن بكلمة الله , ولكم عليهن أن لا يوطئن فرشكم أحداً تكرهونه , فإن فعلن فاضربوهن ضرباً غير مبرح , ولهن عليكم رزقهن و كسوتهن بالمعروف , وقد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به كتاب الله , وأنتم تسألون عني فما أنتم قائلون , قالوا نشهد أنك قد بلَّغت , وأديت , ونصحت فقال بإصبعه السبابة يرفعها إلى السماء وينكتها إلى الناس اللهم اشهد , اللهم اشهد ثلاث مرات

“Wahai manusia, dengarkan perkataanku, sesungguhnya aku tidak tahu, kemungkinan aku tidak bertemu dengan kalian semua setelah tahun ini. Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian semua adalah haram atas diri kalian (tidak boleh diganggu dan dizalimi), sebagaimana diharamkannya (berbuat kemungkaran) di hari ini,  bulan ini dan negeri ini. Ketahuilah bahwa segala sesuatu dari urusan jahiliyah diletakkan di bawah kakiku digugurkan. Darah jahiliyah dihilangkan. Darah pertama kali di antara darah-darah kami yang saya hilangkan adalah darah Ibnu Robi’ah dahulu menyusui di Bani Sa’ad dan dibunuh Hudzail. Riba jahiliyah dihilangkan. Riba pertama kali yang saya hilangkan adalah riba Abbas bin Abdul MuThalib, semuanya dihilangkan. Maka bertakwalah terhadap para wanita. Karena kamu semua mengambilnya dengan amanah Allah dan dihalalkan kemaluannya dengan kalimat Allah. Hak kalian (para suami) yang menjadi kewajiban mereka adalah jangan mengizinkan seorang pun masuk yang kamu tidak sukai. Kalau dia melakukan, maka pukullah dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Dan hak para para isteri yang menjadi kewajiban kalian adalah memberi rizki dan pakaian secara ma’ruf (baik). Sungguh aku telah tinggalkan bagi kamu semua, jikalau kalian semua berpegang teguh, tidak akan tersesat setelahnya itu adalah Kitabullah. Sungguh kalian telah menanyakan kepada diriku, apa yang akan kamu katakan. Mereka mengatakan, “Kami bersaksi, bahwa anda telah menyampaikan, menunaikan dan telah memberikan nasehat. Maka beliau bersabda dengan jari telunjuk mengangkat ke langit dan mengarahkan kepada manusia, Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah sampai tiga kali.”

Ketika Allah telah sempurnakan agama ini, telah tetap pokok-pokoknya, maka Allah turunkan kepadanya di Arofah ayat:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً (سورة المائدة: 3)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Dinamakan haji ini adalah haji wada karena Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berpisah dengan orang-orang dan tidak berhaji setelahnya. Kemudian Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam pulang ke Madinah setelah selesai menunaikan hajinya.

Pada tahun kesebelas pada bulan Shafar, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam mulai sakit, ketika sakitnya semakin parah. Beliau memerintahkan Abu Bakar radhiallahu’anhu untuk shalat menjadi imam. Pada bulan Rabiul Awwal, sakitnya semakin parah dan Rasululah sallallahu’alaihi wa sallam dicabut nyawanya pada waktu Dhuha, hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun sebelas hijriyah. Umat Islam sangat bersedih sekali. Kemudian beliau dimandikan lalu dishalati kaum muslimin pada hari selasa malam rabu. Lalu dikuburkan di rumah Aisyah. Rasulullah telah meninggal dunia, tapi agama tetap ada sampai hari kiamat.

Umat Islam memilih pendamping Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat di gua dan pendamping waktu hijrah, yaitu Abu Bakar radhiallahu’anhu, sebagai Kholifah. Kemudian yang memegang Khilafah setelahnya adalah Umar, Utsman dan Ali. Mereka adalah khulafaur rasyidun yang mendapatkan petunjuk radhiallahu anhum ajma’in.

Allah telah memberi kenikmatan kepada Rasul-Nya Muhammad dengan kenikmatan nan agung, dan diberi wasiat dengan akhlak yang mulia sebagaimana firman-Nya:

ألم يجدك يتيماً فآوى ، ووجدك ضالاً فهدى ، ووجدك عائلاً فأغنى ، فأما اليتيم فلا تقهر ، وأما السائل فلا تنهر ، وأما بنعمة ربك فحدث (سورة الضحى: 6-11)

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], lalu Dia memberikan petunjuk. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuha: 6-11)

Allah telah memulyakan Rasul-Nya dengan akhlak yang mulia, tidak ada seorangpun yang terkumpul akhlak mulian ini sampai Allah menyanjungnya dalam firman-Nya:

وإنك لعلى خلق عظيم (سورة القلم: 4)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4)

Dengan akhlak mulia dan sifat terpuji ini, beliau sallallahu’alihi wa sallam dapat mengumpulkan jiwa-jiwa dan menyatukan hati dengan izin Tuhannya.

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظاً غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين (سورة آل عمران: 159)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Allah telah mengutus Rasul-Nya Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam ke seluruh manusia. Diturunkan kepadanya Al-Qur’an dan diperintahkan untuk berdakwah kepada Allah sebagaimana Firman Subhanahu:

يا أيها النبي إنا أرسلناك شاهداً ومبشراً ونذيراً وداعياً إلى الله بإذنه وسراجاً منيراً (سورة الأحزاب: 46)

“Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45-46)

Allah telah memberikan keutamaan kepada Rasul-Nya Muhammad atas nabi-nabi lainnya dengan enam keutamaan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam:

فضلت على الأنبياء بست , أعطيت جوامع الكلم , ونصرت بالرعب , وأحلت لي الغنائم , وجعلت لي الأرض طهوراً و مسجداً , وأرسلت إلى الناس كافة , وختم بي النبيون (رواه مسلم، رقم 523)

“Saya dilebihkan atas para nabi lainnya dengan enam hal, saya diberi perkataan ringkas dan padat, dimenangkan dengan ketakutan (musuh), dihalalkan bagiku gonimah, dijadikan untukku tanah untuk bersuci dan masjid, saya diutus untuk seluruh manusia dan para nabi diakhirkan untukku.” HR. Muslim, 523.

Maka seluruh manusia diharuskan beriman kepadanya dan mengikuti syareatnya agar dapat masuk surga Tuhannya.

ومن يطع الله و رسوله يدخله جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها وذلك الفوز العظيم (سورة النساء: 13)

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 13)

Allah menyanjung orang yang beriman kepada Rasul baik dari ahli kitab, mereka diberi kabar gembira dengan dua pahala sebagaimana Firman Allah:

الذين آتيناهم الكتاب من قبله هم به يؤمنون ، وإذا يتلى عليهم قالوا آمنا به إنه الحق من ربنا إنا كنا من قبله مسلمين ، أولئك يؤتون أجرهم مرتين بما صبروا ويدرؤون بالحسنة السيئة ومما رزقناهم ينفقون (سورة القصص: 52 -54)

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (QS. Al-Qhasas: 52-54)

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

ثلاثة يؤتون أجرهم مرتين رجل من أهل الكتاب آمن بنبيه وأدرك النبي صلى الله عليه وسلم فآمن به واتبعه و صدقه فله أجران

“Tiga golongan mereka diberi dua pahala. Seorang dari ahli kitab beriman kepada Nabinya dan mendapatkan Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam lalu dia beriman, mengikuti dan membenarkannya. Maka dia mendapat dua pahala.”

Siapa yang tidak beriman kepada Rasul Muhammad sallallahu alaihi wa sallam maka dia kafir. Orang kafir balasannya adalah neraka sebagaimana firman Allah,

“Dan Barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Maka Sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.” (SQ. Al-Fath: 13)

Nabi sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلاَّ كان من أصحاب النار (رواه مسلم، رقم 154)

“Demi jiwa Muhamad yang ada ditangan-Nya. Tidaklah seseorang yang mendengarkan tentang diriku dari umat ini, baik Yahudi maupun Kristen kemudian dia mati tidak beriman dengan apa yang risalahku, melainkan dia temasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim, no. 154)

Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam adalah manusia biasa, tidak mengetahui kecuali apa yang Allah beritahukan. Tidak mengetahui goib, tidak memiliki untuk diri dan orang lain celaka dan manfaat. Sebagaimana firman Allah:

قل لا أملك لنفسي نفعاً ولا ضراً إلا ما شاء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلاَّ نذير وبشير لقوم يؤمنون (سورة الأعراف: 188)

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf:188)

Allah telah mengutusnya dengan Islam agar Nampak di atas seluruh agama lainnya, “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.”(QS. Al-Fath: 28)

Tugas Rasul adalah menyampaikan apa yang diutus dan memberi hidayah lewat tangan Allah. “Jika mereka berpaling Maka Kami tidak mengutus kamu sebagai Pengawas bagi mereka. kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (QS. As-Syura: 48).

Karena Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam mendapatkan keutamaan yang agung atas manusia lainnya. Dan berdakwah ke agama ini serta mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya. Maka Allah ampuni dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Dan memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadanya pada kondisi yang banyak. Allah berfirman:

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه و سلموا تسليماً (سورة الأحزاب: 56)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Nabi sallallahu’alaihi wa sallalm telah berjihad dalam rangka menyebarkan agama ini. Begitu juga para shahabat berjihad bersamanya. Maka kita harus mencontoh dan mengikuti Sunnah dan berjalan atas petunjukkan. Seperti firman Allah subahanu,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Islam adalah agama sesuai fitrah dan keadilan. Agama yang diridhai oleh Allah untuk seluruh manusia. Ia mencakup yang pokok dan cabang, adab, akhlak, ibadah serta muamalah. Umat ini tidak akan bahagia kecuali dengan mengikuti dan beramal dengannya. Dan Allah tidak menerima manusia agama selain Islam. Sebagaimana firman-Nya.

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat semoga tercurahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Tinggi.

Dari kitab ‘Ushul Ad-Din Al-Islamy’ Karangan Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Sekilas Tentang Sejarah Masjidil Haram Di Makkah

Alhamdulillah

Masjidil haram terletak di Makkah, ia adalah sebuah kota di Jazirah Arab 330 meter dari permukaan laut. Sejarah perkembangannya dimulai pada masa Ibrahim al Khalil dan putranya Isma’il –‘alaihimas salam-, di kota tersebut Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan, juga menjadi tempat turunnya wahyu pertama kali, dari sanalah cahaya Islam bersinar, di sana juga terdapat Masjidil haram, ia merupakan masjid dibagun pertama kali untuk manusia di muka bumi, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركاً وهدى للعالمين  (سورة آل عمران : 96)

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS. Ali Imran: 96)

Juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi ?, ia menjawab: “Masjidlil haram”. Saya berkata: Lalu setelah itu?, beliau menjawab: “Masjidil Aqsha”. Saya berkata: Berapa tahun jarak dibangunnya antara kedua masjid tersebut ?, beliau menjawab: “40 tahun”.

Bangunan Ka’bah –yang merupakan qiblat umat Islam dari segala penjuru dunia- kira-kira terletak di tengah Masjidil haram yang tingginya mencapai 15 meter, seperti kamar besar yang berbentuk kubus, dibangun oleh Ibrahim –‘alaihis salam- melalui perintah Allah sebagai berikut:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (سورة الحج: 26)

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku` dan sujud”. (QS. al Hajj: 26)

Arti dari “Bawwa’na” : Kami memberikan petunjuk kepada Ibrahim, menyerahkannya kepadanya dan mengizinkannya untuk membangunnya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah –subahanahu wa ta’ala- berfirman:

وإذا يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل (سورة  البقرة : 127 )

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail “. (QS. Al Baqarah: 127)

Dari Wahab bin Munabbih berkata: “Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim –‘alaihis salam-, kemudian ‘Amaliqah, kemudian Jurhum, kemudian Qushai bin Kilab dari kabilah Quraiys. Mereka orang-orang Quraisy membangun ka’bah dari bebatuan yang berasal dari lembah yang mereka pikul dipundak mereka, tinggi bangunan mencapai 20 hasta. Jarak antara bangunan ka’bah dan perintah membangunnya selama 5 tahun, dan antara pintu keluar dan bangunannya selama 15 tahun. Disebutkan oleh Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Abdullah dari Utsman, dari abu Thufail, ia menyebutkan dari Ma’mar dari az Zuhri: “…Mereka membangunnya dan ketika sampai di pojok (tempat hajar aswad) mereka berselisih siapa yang lebih berhak untuk mengembalikannya ?, sampai satu sama lain beradu argument lalu mereka berkata: “Kami sepakat untuk memberikannya kepada seseorang yang pertama kali mendatangi jalan tertentu. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang pertama kali mendatanginya, ia pada saat itu masih seorang pemuda, mereka sudah menjadikannya hakim untuk memutuskan peletakan hajar aswad. Maka Rasulullah meletakkan kainnya, dan meyuruh ketua setiap kabilah untuk memegang tiap ujung kain tersebut, mereka pun mengangkat kain tersebut untuk dibawa kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan beliaulah yang meletakan hajar aswad tersebut pada tempatnya”. (Tarikh Makkah/Al Azraqi/1/161-164)

Imam Muslim 2374 meriwayatkan dari ‘Aisyah berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang pondasi yang tersisa, apakah pondasi tersebut masih termasuk dari ka’bah ?, beliau menjawab: “Ya”. Saya berkata: “Kenapa mereka tidak memasukkannya ke dalam ka’bah ?”. Beliau menjawab:

إِنَّ قَوْمَكِ قَصَّرَتْ بِهِمْ النَّفَقَةُ قُلْتُ فَمَا شَأْنُ بَابِهِ مُرْتَفِعًا قَالَ فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا وَلَوْلا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ لَنَظَرْتُ أَنْ أُدْخِلَ الْجَدْرَ فِي الْبَيْتِ وَأَنْ أُلْزِقَ بَابَهُ بِالأَرْضِ

“Sungguh kaummu penghasilan (halal) mereka terbatas”. Saya berkata: “Kenapa pintu ka’bah dibuat tinggi ?”. Beliau menjawab: “Mereka melakukannya agar memudahkan mempersilahkan seseorang yang mereka kehendaki untuk masuk, dan melarang orang yang mereka kehendaki pula, kalau saja kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliyah dan dikhawatirkan hati mereka akan menolak, maka saya akan memasukkan pondasi tersebut ke dalam bangunan ka’bah, dan saya jadikan pintunya mendekati tanah”.

Pada masa sebelum Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan, Ka’bah telah mendapatkan serangan dari raja Abrahah al Habasyi, yaitu; ketika ia membangun “Al Qullais” sebuah gereja yang maksudkan agar para jama’ah haji berbondong-bondong pergi kesana, karena mereka tidak mau, maka Abrahah bersama pasukan gajahnya menyerbu ka’bah, namun sesampainya mereka ke Makkah, Allah –Ta’ala- mengirimkan sekelompok burung Ababil yang masing-masing membawa tiga batu kecil, satu di paruhnya, dan dua lagi di kakinya. Tidaklah ada tentara Abrahah yang terkena batu tersebut kecuali akan binasa sesuai dengan ketentuan Allah –Azza wa Jalla-.

Allah telah menyebutkan kejadian tersebut dalam Al Qur’an:

ألم تر كيف فعل ربك بأصحاب الفيل ، ألم يجعل كيدهم في تضليل وأرسل عليهم طيراً أبابيل ترميهم بحجارة من سجيل فجعلهم كعصف مأكول

“ Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?, Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia?, Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. (QS. al Fiil: 1-5)

(Baca: Sirah Nabawiyah/Ibnu Hisyam: 1/44-58)

Dahulu tidak diperlukan tembok yang mengelilingi Ka’bah, sampai tembok tersebut dibutuhkan pada kemudian hari. Yaqut al Hamawi dalam “Mu’jam al Buldan” 5/146 berkata: “Yang pertama kali membangun dinding yang mengelilingi ka’bah adalah Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu-, pada masa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan Abu Bakar belum ada dinding yang mengelilingi Ka’bah; kebijakan tersebut diambil oleh Umar disebabkan banyak rumah-rumah warga sekitar yang terus mendekati ka’bah, maka Umar berkata: “Sesungguhnya Ka’bah ini adalah Baitullah, dan setiap rumah harus memiliki halaman, dan bangunan kalian semua telah memasuki halaman ka’bah, bukannya halaman ka’bah yang memasuki rumah kalian”.

Maka Umar membeli rumah-rumah yang berdekatan dengan ka’bah dan menghancurkannya untuk memperluas halaman ka’bah. Bagi sebagian warga yang menolak untuk dibeli Umar tetap menghancurkan rumah-rumahnya namun tetap menyediakan ganti ruginya agar bisa dimanfaatkan pada saatnya nanti. Lalu beliau membangun dinding tanpa pondasi dan meletakkan lampu di atasnya. Kemudian pada masa Utsman juga membeli rumah-rumah yang lain dengan harga yang lebih mahal tentunya, bahkan diriwayatkan bahwa beliau yang pertama kali memberinya atap pada saat ada perluasan masjid. Sedangkan pada masa Ibnu Zubair beliau mendetailkan (memperindah) bangunannya dan tidak memperluasnya, ia memberinya tiang yang berhias batu marmer, dan memperindah pintunya. Sedangkan pada masa Abdul Malik bin Marwan ia menambahkan tinggi dinding masjid, dan membawakan pagar dari Mesir lewat laut ke Jeddah dan dari Jeddah segera dibawa ke Makkah dan menyuruh Hajjaj bin Yusuf untuk memolesnya. dan ketika al Walid bin Abdul Malik memimpin ia menambahkan perhiasan ka’bah, dan merubah pancuran dan atapnya. Dan ketika Manshur dan anaknya Mahdi naik menjadi khalifah keduanya juga menambah keindahan masjid. Dan di dalam masjid terdapat beberapa situs diniyah, yaitu; maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim –‘alaihis salam-, adalah batu tempat yang dipakai pijakan oleh beliau ketika membangun ka’bah. Demikian juga sumur zam-zam ia adalah mata air yang Allah –Ta’ala- keluarkan untuk ibunda Hajar dan anaknya Isma’il –alaihis salam- ketika keduanya sedang kehausan. Di sana juga terdapat hajar aswad, yang berasal dari bebatuan surga, demikian juga maqam Ibrahim. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr berkata: Saya mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ الرُّكْنَ وَالْمَقَامَ يَاقُوتَتَانِ مِنْ يَاقُوتِ الْجَنَّةِ طَمَسَ اللَّهُ نُورَهُمَا وَلَوْ لَمْ يَطْمِسْ نُورَهُمَا لأَضَاءَتَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ  ( سنن الترمذي 804)

“Sesungguhnya pojok (hajar aswad) dan maqam Ibrahim adalah batu mulia yang berasal dari bebatuan surga, yang Allah hilangkan cahayanya, andai saja tidak dihilangkan maka keduanya akan menyinari seluruh ufuk timur dan barat”. (HR. Tirmidzi dalam “Sunan Tirmidzi: 804)

Tidak jauh dari Masjidil haram terdapat bukit Shafa dan Marwah, cirri khusus masjidil haram adalah satu-satunya masjid menjadi rangkaian ibadah haji di muka bumi. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ  (سورة البقرة: 158

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 158)

Ciri khusus yang lain, Allah –Ta’ala- menjadikan Masjidil haram dipenuhi rasa aman, mendirikan shalat di sana laksana 100.000 kali shalat. Allah –Ta’ala- berfirman:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (سورة البقرة: 135

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud”. (QS. al Baqarah: 125)

Dalam ayat yang lain:

 فِيهِ ءايَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ ءامِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (سورة آل عمران: 97

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran: 97)

(Baca: “Akhbaru Makkah”, karangan al Azraqi, “Akhbar Makkah” karangan al Fakihi).

Allah adalah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Syekh Muhammad Shaleh al Munajjid

Unsur terpenting dalam proses penyucian jiwa ialah dengan menegakkan tauhidullah, menjadikannya sebagai pilar utama sehingga mempengaruhi unsur-unsur lain dalam jiwa. Apabila tauhid seseorang baik, maka baik pula unsur lainnya. Demikian sebaliknya, apabila tauhid seseorang buruk, hal itupun akan sangat berpengaruh dalam setiap gerak langkah kehidupannya. Dan kita berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan taufik dan petunjuk-Nya.

Dalam mempelajari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissallam, kita akan mendapatkan diri beliau sebagai insan yang sangat teguh dan gigih dalam menegakkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung, yakni tauhid. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa moment, di antaranya:

1. Dakwah Tuhid Kepada Ayah Beliau ‘Alaihissallan Dengan Sabar Dan Penuh Santun.

Al-Hafihz Ibnu Katsiir rahimahullah berkata, “Penduduk negeri Harran adalah kaum musyrikin penyembah bintang dan berhala. Seluruh penduduk bumi adalah orang-orang kafir kecuali Ibrahim ‘alaihissallam, isterinya, dan kemenakannya, yaitu Nabi Luth ‘alaihissallam. Ibrahim ‘alaihissallam terpilih menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghapus kesyirikan tersebut dan menghilangkan kebatilan-kabatilan yang sesat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kepadanya kegigihan sejak masa kecilnya. Beliau diangkat menjadi Rasul, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya sebagai kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala pada masa berikutnya.

Awal dakwah tauhid yang beliau ‘alaihissallam tegakkan, ialah diarahkan kepada ayahnya, karena ia seorang penyembah berhala dan yang paling berhak untuk diberi nasihat (Al-Bidayah wan-Nihayah, juz 1, hal: 326).

Syaikh as-Sa`di rahimahullah berkata,”Ibrahim ‘alaihissallam adalah sebaik-baik para nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, … yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan kenabian pada anak keturunnya. Dan kepada mereka diturunkan kitab-kitab suci. Dia telah mengajak manusia menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersabar terhadap siksa yang ia dapatkan (dalam perjalanan dakwahnya), ia mengajak orang-orang yang dekat (dengannya) dan orang-orang yang jauh, ia bersungguh-sungguh dalam berdakwah terhadap ayahnya bagaimanapun caranya…” (Tafsir as-Sa`di, hal: 443.)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

“Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya; “Wahai Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong engkau sedikitpun?”. (QS. Maryam:42).

Lihatlah, bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mendakwahkan tauhid kepada ayahnya dengan ungkapan sangat lembut dan ucapan yang baik untuk menjelaskan kebatilan dalam perbuatan syirik yang dilakukannya?! (Tafsir as-Sa`di, hal: 444). Penolakan ayahnya terhadap dakwah itu tidak menyurutkan semangat serta sikap sayang terhadap ayahnya dengan tetap akan memintakan ampunan, sekalipun permohonan ampun itu tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan dalam firman-Nya,

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 114).

Dalam usaha yang lain, Ibrahim berdialog dengan ayahnya:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar. ‘Layakkah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kekeliruan yang nyata’.” (QS. Al-An’am: 74).

Syaikh as-Sa’di berkata,”Dan ingatlah (terhadap) kisah Ibrahim ‘alaihissallam manakala Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji dan memuliakannya saat ia berdakwah mengajak kepada tauhid dan melarang dari berbuat syirik.” (Tafsir as-Sa`di, hal: 224).

Demikian, perjuangan dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam kepada kaumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai bagian dari ayat-ayat Alquran yang akan selalu dibaca dan dipelajari secara seksama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui’.” (QS. Al-Ankabut: 16).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkabarkan tentang hamba-Nya, Rasul dan kekasih-Nya, yaitu Ibrahim ‘alaihissallam sang imam para hunafa`, bahwa ia ‘alaihissallam berdakwah mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, mengikhlaskan-Nya dalam ketakwaan, memohon rezeki hanya kepada-Nya, dan mengesakan-Nya dalam bersyukur.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, hal: 536).

Keteguhan dakwah tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam juga termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat al-Anbiya` ayat 51-56. Dan dalam beberapa ayat disebutkan, bahwa dakwah tauhid kepada ayah dan kaumnya dilakukan secara bersamaan, seperti tersebut dalam surat asy-Syu`ara ayat 69, dan ash-Shaffat ayat 84.

2. Nabi Ibrahim ‘alaihissallam Tegar Dan Tabah Menghadapi Ujian Dan Siksaan.

Sikap ini tercermin dalam kisah beliau ‘alaihissallam saat berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid dan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun kebanyakan menolaknya dengan penuh kenistaan. Ketabahan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ini menjadi teladan bagi setiap dai dalam mengajak manusia menuju jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kisah ketabahan Nabi Ibrahim ‘alaihissallamdiabadikan dalam Alquran melalui firman-firman-Nya. Meskipun kaumnya dengan kuatnya untuk membakar dirinya, namun Nabi Ibrahim ‘alaihissallam tetap tabah dan menyerahkan segala perkara kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ. وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ. قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ. فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ

Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim;lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”. Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (QS. Ash-Shaffat: 95-98).

As-Suddi rahimahullah berkata: “Mereka menahannya dalam sebuah rumah. Mereka mengumpulkan kayu bakar, bahkan hingga seorang wanita yang sedang sakit bernadzar dengan mengatakan ‘sungguh jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan bagiku kesembuhan, maka aku akan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim’. Setelah kayu bakar terkumpul menjulang tinggi, mereka mulai membakar setiap ujung tepian dari tumpukkan itu, sehingga apabila ada seekor burung yang terbang di atasnya niscaya ia akan hangus terbakar. Mereka mendatangi Nabi Ibrahim ‘alaihissallam kemudian mengusungnya sampai di puncak tumpukan tinggi kayu bakar tersebut”. Riwayat lain menyebutkan, ia diletakkan dalam ujung manjaniq.

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mengangkat kepalanya menghadap langit, maka langit, bumi, gunung-gunung dan para malaikat berkata: “Wahai, Rabb! Sesungguhnya Ibrahim akan dibakar karena (memperjuangkan hak-Mu)”

Nabi Ibrahim berkata, “Ya, Allah, Engkau Maha Esa di atas langit, dan aku sendiri di bumi ini. Tiada seorang pun yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini selainku. Cukuplah bagiku Engkau sebaik-baik Penolong.” (Fathul-Bari, Juz 6, hal: 483).

Mereka lantas melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke dalam tumpukan kayu bakar yang tinggi, kemudian diserukanlah (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala): “Wahai api, jadilah dingin dan selamat bagi Ibrahim.” (Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hal: 43).

Ibnu Abbas dan Abu al-Aliyah, keduanya berkata: “Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan ‘dan selamat bagi Ibrahim,’ niscaya api itu akan membinasakan Ibrahim ‘alaihissallam dengan dinginnya.” (Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hal: 43).

3. Yakin Terhadap Kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla

Pada saat Nabi Ibrahim diletakkan di ujung manjaniq, ia dalam keadaan terbelenggu dengan tangan di belakang. Kemudian kaumnya melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke dalam api, dan ia pun berkata: “Cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi kami, dan Dia sebaik-baik Penolong”.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

(cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi kami dan Dia sebaik-baik penolong)” telah diucapkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam tatkala ia dilemparkan ke dalam api (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 8, hal: 288, no. 4563).

Demikianlah, Nabi Ibrahim ‘alaihissallam sangat yakin dengan kebesaran, pertolongan dan perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla , karena beliau sedang memperjuangkan hak Allah ‘Azza wa Jalla yang terbesar, yakni tauhid dalam beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala Berada Di Atas Segalanya

1. Kisah dalam hijrah bersama Hajar dan Ismail (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 6, hal: 478, no. 3364).

Ketika Ismail baru saja dilahirkan dan dalam penyusuan ibunya (Hajar), Nabi Ibrahim ‘alaihissallam membawa keduanya menuju Baitullah pada dauhah (sebuah pohon rindang) di atas zam-zam. Saat itu, tidak ada seorangpun di Makkah, dan juga tidak ada sumber air.

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam meninggalkan jirab, yaitu kantung yang biasa dipakai untuk menyimpan makanan. Kantung itu berisi kurma untuk keduanya. Juga meninggalkan siqa` (wadah air) yang berisi air minum. Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissallam berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya sembari berkata: “Wahai, Ibrahim! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?” Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh, tak pula menghiraukannya. Kemudian Hajar pun bertanya: “Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan engkau dengan ini?”

Ibrahim menjawab,“Ya.”

Mendengar jawaban itu, maka Hajar berkata: “Jika demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan meninggalkan kami”. Lantas Hajar kembali menuju tempatnya semula. Adapun Ibrahim, ia terus berjalan meninggalkan mereka, sehingga sampai di sebuah tempat yang ia tak dapat lagi melihat isteri dan anaknya. Ibrahim pun menghadapkan wajah ke arah Baitullah seraya menengadahkan tangan dan berdoa: Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. [QS. Ibrahim ayat 37).

2. Kisah Penyembelihan Ismail.

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam berdoa: “Wahai Rabb-ku, karuniakanlah untukku anak yang shalih,” maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kabar gembira kepadanya dengan kehadiran seorang anak yang mulia lagi penyabar. Dan tatkala anak itu saat mulai beranjak dewasa berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Isma’il menjawab: “Wahai Ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar”.

Saat keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya: “Wahai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) ‘Kesejahteraan yang dilimpahkan kepada Ibrahim’. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mukminin. Kisah ini dijelaskan di dalam Alquran dalam surat ash-Shaffat ayat 99-111.

Dalam Tafsir al-Qurthubi, Juz 18, hal: 69 dan Tafsir al-Baghawi, Juz 4, hal: 33, Ibnu Abbas berkata:

Ibrahim dan Isma’il … keduanya taat, tunduk patuh terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah, renungkanlah kisah itu … ketika keduanya akan melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tulus dan tabah sang anak berkata:

يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ….

“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”

وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِّيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ….

“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu, maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”

وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ….

“Dan tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”

وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ…. وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ….

“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah.”

فَقَالَ لَهُ إِبْرَاهِيْمُ : نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى….

(Saat itu, dengan penuh haru) Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.

Dalam Shahih Qashashil-Anbiya Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kekasih-Nya (yakni Ibrahim ‘alaihissallam) untuk menyembelih putranya yang mulia dan baru terlahir setelah beliau berumur senja. (Ujian ini terjadi) setelah Allah memerintahkannya untuk meninggalkan Hajar saat Ismail masih menyusui di tempat yang gersang, sunyi tanpa tumbuhan (yang dimakan buahnya), tanpa air dan tanpa penghuni. Ia taati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, meninggalkan isteri dan putranya yang masih kecil dengan keyakinan yang tinggi dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka kemudahan, jalan keluar, serta limpahan rezeki dari arah yang tiada disangka. Setelah semua ujian itu terlampaui, Allah menguji lagi dengan perintah-Nya untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Ismail ‘alaihissallam. Dan tanpa ragu, Ibrahim menyambut perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu dan segera mentaatinya. Beliau ‘alaihissallam menyampaikan terlebih dahulu ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut kepada putranya, agar hati Ismail menjadi lapang serta dapat menerimanya, sehingga ujian itu tidak harus dijalankan dengan cara paksa dan menyakitkan. Subhanallah…

3. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim untuk Berkhitan.

Pada saat Ibrahim ‘alaihissallam telah mencapai umur senja (delapan puluh tahun), ia diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beberapa perintah, di antaranya agar beliau berkhitan. Sebagaimana hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً

“Ibrahim ‘alaihissallam berkhitan di usia beliau delapan puluh tahun.” (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari (Juz 6, hal: 468, no. 3356)).

Beliau ‘alaihissallam berkhitan dengan pisau besar (semisal kampak). Meskipun terasa sangat berat bagi diri beliau ‘alaihissallam, namun hal itu tidak pernah membuatnya merasa ragu terhadap segala kebaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ali bin Rabah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa : “Beliau (Ibrahim ‘alaihissallam) diperintah untuk berkhitan, kemudian beliau melakukannya dengan qadum. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan ‘Engkau terburu-buru sebelum Kami tentukan alatnya’. Beliau mengatakan: ‘Wahai Rabb, sungguh aku tidak suka jika harus menunda perintah-Mu’.” (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 6, hal: 472)

4. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala Untuk Membangun Ka`bah.

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj: 26-27).

Dalam Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Ibrahim ‘alaihissallam berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan aku sesuatu”.

Ismail ‘alaihissallam menjawab: “Lakukanlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada engkau”.

Ibrahim ‘alaihissallam bertanya: “Apakah engkau (akan) membantuku?”

Ismail ‘alaihissallam menjawab: “Ya, aku akan membantu engkau”.

Ibrahim ‘alaihissallam berkata lagi: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan aku untuk membangun disini sebuah rumah”. (Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mengisyaratkan tanah yang sedikit tinggi dibandingkan dengan yang ada di sekelilingnya). Saat itulah keduanya membangun pondasi-pondasi. Dan Ismail ‘alaihissallam membawa kepada ayahnya batu-batu dan Ibrahim ‘alaihissallammenyusunnya. Sehingga, ketika telah mulai tinggi, ia mengambil batu dan diletakkan agar Ibrahim ‘alaihissallamdapat naik di atasnya. Demikian, dilakukan oleh keduanya, dan mereka berkata:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127).

Dari pemaparan kisah-kisah di atas, banyak pelajaran penting dan berharga yang dapat dipetik, di antaranya:

  1. Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang amat taat kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai hamba yang sangat disayangi.
  2. Pilar utama upaya tazkiyyatun-nufus adalah dalam hal tauhid. Dan berdakwah menyeru kepada tauhid merupakan amanat yang dipikul para nabi, dan sekaligus menjadi panutan bagi setiap dai.
  3. Kesabaran dalam mendakwahkan tauhid dan ketabahan dalam menghadapi ujian di jalan itu, harus dilakukan sesuai dengan cara yang dicontohkan oleh para rasul ‘alaihissallam.
  4. Yakin terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan.
  5. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal terpenting di atas segalanya. Ketulusan hati dalam melaksanakan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kebahagiaan. Maka selayaknya kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakannya diiringi doa memohon taufik serta kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  6. Segala contoh kebaikan telah ada pada diri para Rasul ‘alaihissallam yang harus selalu menjadi suri tauladan bagi kita dalam setiap hal. Wallahul Musta`an..

[Disalin dari tulisan Ustadz Rizal Yuliar di majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XII/1429/2008M]

Sumber:  http://kisahmuslim.com/4816-meneladani-nabi-ibrahim.html